HUKUM KEHIDUPAN PALING UTAMA: MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA DENGAN TULUS
Redaksi - Sabtu, 24 Oktober 2026 16:33
Ilustraasi: Mt 22:34-40 (sumber: Katolikku.com)HOMILI, Minggu Biasa XXXA: Kel 22:21-27; 1Tes 1: 5c – 10; Mt 22:34-40)
Oleh Pater Gregor Nule SVD
Ilustrasi
Ada seorang pengemis yang selalu duduk di pinggiran sebuah jalan yang ramai di tengah kota Moskow dan mengulurkan tangan kepada setiap orang yang kebetulan lewat di depannya.
Pada suatu hari lewatlah di tempat itu Tolstoy, seorang penulis terkenal dari Russia. Tolstoy berhenti sejenak di depan orang miskin itu dan mencoba mencari-cari uang di dalam saku dan dompetnya. Ternyata tidak ada. Dengan sangat sedih ia berkata, “Janganlah marah kepadaku, hai saudaraku. Saya tidak membawa uang hari ini”.
Wajah pengemis itu menjadi bersinar, lalu berkata, “Tidak apa-apa tuan. Saya bergembira sekali karena tuan menyebut saya saudara. Inilah pemberian yang sangat tinggi nilainya bagi saya.
Refleksi
Dalam masyarakat Yahudi hukum Taurat menjadi acuan utama kehidupan bersama sehari-hari. Tradisi Yahudi mengajarkan bahwa Taurat berisi 613 ketetapan yang dirinci menjadi 248 perintah dan 365 larangan.
Meski demikian, para ahli Taurat selalu memberikan perhatian kepada cinta kasih sebalgai hukum yang paling utama, Penginjil Matius menampilkan seorang ahli Taurat yang mencobai Yesus dengan pertanyaan tentang hukum yang paling utama. Mereka ingin tahu apakah Yesus sungguh memahami hukum Taurat karena Dia sering mengemukakan kritikan-kritikan tajam melawan hukum Taurat dan bahkan tidak menaatinya.
Yesus menjawab,”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu……dan hukum kedua yang sama dengan yang pertama, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…”, (Mt 22:37-39).
Sebetulnya jawaban Yesus ini diambil dari Kitab Ulangan 6:4-5 dan Kitab Imamat 19:18. Kitab Ulangan menulis, “Dengarlah hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu”. Dan, Kitab Imamat menulis, “Janganlah engkau menuntut balas, dan jangan menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
Menurut Yesus hanya ada satu hukum yang paling utama yakni hukum kasih, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia. Maka Yesus minta kita agar mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi karena Allah adalah pencipta dan penyelenggara hidup kita. Allah juga telah lebih dahulu mengasihi kita.
Selanjutnya, Yesus menyadarkan kita untuk melihat dan memperlakukan sesama manusia dengan penuh kasih pula.
Menurut orang Yahudi sesama hanya dimaksudkan dengan saudara-saudara sebangsa. Maka setiap orang Yahudi wajib mengasihi saudara-saudara sebangsanya seperti mengasihi diri sendiri.
, orang-orang di luar bangsa Yahudi dianggap sebagai orang asing dan bahkan kafir serta menjadi musuh yang mesti disingkirkan dari pergaulan sehari-hari.
Tetapi, Kitab Keluaran mewartakan tentang kasih Allah yang terbuka dan merangkul semua orang, khususnya mereka yang kecil, miskin dan terpinggirkan. Allah mengingatkan bangsa Israel tentang pentingnya solidaritas dan keadilan yang harus mereka tumbuhkan di dalam hati dan praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka mesti sadar bahwa dahulu mereka pernah hidup di Mesir sebagai orang asing dan mengalami belaskasihan di negeri asing. Maka mereka pun mesti menaruh belaskasihan dan berlaku adil terhadap orang-orang asing di wilayah mereka yang banyak kali mengalami pemerasan dan penindasan karena tidak memiliki hak sipil dan perlindungan hukum.
Orang-orang Israel juga mesti melindungi para janda, yatim piatu dan orang-orang miskin, yang merupakan kelompok rentan karena tidak punya hak atas harta apa pun. Maka sikap hidup yang perlu dimiliki adalah lemah-lembut, murah hati dan mengedepankan kasih.
Sebagai pengikut Kristus kita ditantang untuk mengikuti jalan hidup Kristus. Hidup dan tindakan kita harus menghadirkan kasih dan kebaikan Allah di tengah lingkungan hidup kita. Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan semua orang. Kristus menerima dan melayani siapa saja yang datang kepadaNya. Ia juga mengampuni musuh-musuh dan orang-orang yang menganiaya, menghukum dan mengkhianatiNya.
Maka sebagai orang kristen kita coba untuk meneladani Kristus dan melaksanakan hukum kasih dalam hidup sehari-hari. Seperti Kristus, kita pun dituntut untuk tidak egois dan berani menyangkal diri sehingga bisa menjadi sesama dan saudara bagi yang lain. Kasih sejati menuntut kerelaan untuk mengampuni, menerima mereka yang berbeda dan bahkan keberanian untuk mengasihi orang yang membenci kita.
Mungkin inilah bagian yang sulit dari hukum kasih, yakni mengasihi musuh-musuh atau mengasihi orang yang buat onar, suka mengganggu dan menyakiti hati kita. Maka kita hendaknya belajar terus-menerus untuk mengampuni sebagai wujud kasih kita kepada Allah dan sesama.
Kita juga mesti rela memperhatikan dan membantu mereka yang miskin, lemah, sakit, lanjut usia dan terlupakan, serta memandang dan mengasihi mereka sebagai saudara. Tuhan akan membalas kejahatan kita dengan kejahatan pula.
Mengasihi Tuhan dan sesama dengan sepenuh hati tidak boleh hanya tinggal dalam pikiran sebagai niat, atau hanya diungkapkan dengan kata-kata, melainkan terutama harus ditunjukkan lewat tindakan nyata.
Karena itu, sangat tidak bijaksana bila kita mengaku beriman kepada Tuhan dan mencintaiNya tetapi membenci sesama dan tidak rela mengampuni. Atau sebaliknya, kita selalu berusaha mencintai dan memperhatikan sesama, tetapi menjauhkan diri dari Allah serta lalai melaksanakan perintah-perintahNya.
Semoga Tuhan memberkati kita selalu!
Kewapante, 25 Oktober 2026.***

