Iran Buka Suara soal Negosiasi dengan AS di Tengah Konflik
redaksi - Senin, 02 Februari 2026 11:42
(sumber: null)JAKARTA (Floresku.com)— Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, akhirnya angkat bicara mengenai dinamika hubungan negaranya dengan Amerika Serikat dalam sebuah wawancara eksklusif bersama CNN.
Wawancara tersebut dilakukan oleh koresponden internasional senior CNN, Frederik Pleitgen, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Teheran dan Washington.
Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa Iran masih membuka ruang diplomasi, meskipun situasi hubungan bilateral dengan AS berada pada titik yang sangat sensitif.
Ia menyebut negosiasi tetap mungkin dilakukan, asalkan Amerika Serikat menunjukkan itikad baik, terutama dalam hal sanksi ekonomi yang selama ini membebani rakyat Iran.
“Diplomasi tidak pernah sepenuhnya tertutup, tetapi tidak bisa berjalan jika hanya satu pihak yang terus menekan,” kata Araghchi kepada CNN. Menurutnya, Iran tidak menutup kemungkinan kembali ke meja perundingan, namun menolak segala bentuk ancaman militer atau tekanan politik sepihak.
Baca juga:
- Yusuf dan Maria, Sosok Orangtua yang Taat pada Aturan Agama
- Ingin Tahu Resep Apem Panggang yang Enak? Baca Ini!
- Relief Kuno di Sinai Ungkap Kekejaman Mesir Purba
Wawancara ini berlangsung dalam konteks meningkatnya ketegangan regional, termasuk ancaman sanksi baru, konflik di Irak, serta dampak lanjutan dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
CNN sendiri menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik mereka di Iran hanya dapat dilakukan dengan izin pemerintah setempat, mencerminkan ketatnya kontrol informasi di negara tersebut.
Araghchi juga menyinggung bahwa Iran tidak menginginkan eskalasi konflik bersenjata, namun siap merespons jika kedaulatan negaranya terancam. Ia menekankan pentingnya peran komunitas internasional dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah melalui jalur dialog dan hukum internasional.
Pengamat menilai pernyataan Araghchi sebagai sinyal bahwa Iran masih menempatkan diplomasi sebagai opsi utama, meski tensi politik dengan AS belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Wawancara ini memperlihatkan bahwa di balik retorika keras kedua negara, masih ada ruang komunikasi yang bisa menjadi pintu masuk bagi upaya de-eskalasi konflik global. (Sandra/Sumber: CNN). ***

