Kepada Peserta PKKMB Fakultas Ilmu Kesehatan Unika Ruteng, Christin Bebok: 'No Kekerasan Seksual, No Perundungan, No Intoleransi'

redaksi - Selasa, 29 Agustus 2023 14:15
Kepada Peserta PKKMB Fakultas Ilmu Kesehatan Unika Ruteng, Christin Bebok: 'No Kekerasan Seksual, No Perundungan, No Intoleransi'Christin. F. M. Bebok, S.Psi.,M.Psi.Psikolog, dosen psikologi di Unika St Paulus Ruteng, (sumber: Jinvasi)

RUTENG (Floresku.com) - "Perlu membatasi informasi pribadi. No intoleransi, No Perundungan, No bullying dan No kekerasan seksual", tegas Christin. F. M. Bebok, S.Psi.,M.Psi.Psikolog, dosen psikologi di Unika St Paulus Ruteng dalam acara PKKB Fakultas Ilmu Kesehatan Unika St Paulus Ruteng, Selasa, 29 Agustus 2023.

Peserta PKKMB Fakultas Ilmu Kesehatan Unika St Paulus Ruteng dibekali dengan materi Etika Bermedia Sosial, Pengembangan Karakter Mahasiswa Sebagai Intelektual dan Anti Kekerasan (Anti Perundungan) oleh Christin. F. M. Bebok.

Dalam kesempatan itu, Ibu Kristin sapaan akrabnya menjelaskan, berhubungan badan yang dilakukan secara pemaksaan sampai pada pasangan hamil bisa disebut sebagai kekerasan seksual. Meskipun pasangan sah sebagai suami istri.

Hal lain, Ibu Kristin menegaskan tentang pelaku kekerasan seksual terhadap anak seringkali dilakukan oleh orang terdekat seperti keluarga, kerabat atau kenalan atau orang asing.

"Seringkali terjadi oleh orang dekat kita yang tidak kita sangkai",  terang Christin.

Tidak hanya itu, tanda-tanda anak mengalami kekerasan seksual biasanya ditandai dengan rasa malas, mengalami gangguan tidur, sensitif atau gampang marah, rasa takut yang berlebihan.

"Orang yang sering mengalami pelecehan seringkali cepat  menghilang dari perjumpaan sesama teman atau kerabat", tambanya.

Pada bagian lain, Kristin mengajak, jika anda sebagai korban pelecehan kekerasan seksual atau bullying (perundungan), maka segeralah melaporkan ke pihak berwajib terdekat.

"Bullying  seringkali dilakukan oleh sekelompok orang sebagai bentuk penindasan atau kekerasan terhadap pribadi atau korban bullying," jelasnya.

Kristin menambah, bahwa Cyber bullying seringkali terjadi pada masa kini. Hal ini terkadang terjadi pada mereka yang sedang berpacaran.

"Ketika hubungan asmara sudah tidak baik, terkadang fitnah atau kekerasan itu muncul melalui ancaman psikis pada media sosial," tuturnya.

Karena itu, Psikolog muda itu menekan kepada peserta agar saat menggunakan dunia maya harus belajar menjaga privasi.

Hal ini dilakukan dengan cara tidak boleh cepat percaya dengan teman di dunia Maya. Berhati-hatilah dalam berbagi konten apapun ke internet, hati-hati dengan berbagi foto atau video di media sosial dan jangan ikut berpartisipasi dalam cyber bullying.

"Dalam bermedia sosial saya mengajak kalian semua untuk gunakan kata-kata yang sopan dan beretika dalam penggunaan media sosial", tegasnya.

Tidak hanya itu, kalian juga harus menghindari hal-hal yang berbau sara dan intoleran. Mahasiswa selaku pengguna media sosial saya mengajak untuk mengecek akurasi data. Cari tahu kebenaran data.

Editor: redaksi

RELATED NEWS