Krisis di Iran Memasuki Titik Kritis
redaksi - Minggu, 04 Januari 2026 15:32
Krisis multidemensi Iran kian kritis. (sumber: NCRI)TEHERAN (Floresku.com) - Krisis ekonomi Iran memasuki fase paling berbahaya dan berpotensi mengubah peta politik Timur Tengah. Peringatan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 Januari 2026—yang menyatakan AS siap bertindak jika Iran menembak mati demonstran damai—telah mengangkat krisis domestik Iran menjadi isu keamanan global.
Pemicu utama krisis ini adalah runtuhnya mata uang Rial Iran. Pada 31 Desember 2025, nilai tukar Rial anjlok hingga menembus 1,45 juta rial per dolar AS, rekor terendah sepanjang sejarah. Kejatuhan ini bukan lagi sekadar persoalan ekonomi, melainkan ancaman eksistensial bagi rezim Teheran dan faktor destabilisasi kawasan.
Krisis ini dipicu oleh kombinasi tiga faktor utama. Pertama, pemberlakuan kembali seluruh sanksi nuklir PBB melalui mekanisme snapback pada September 2025 yang mengisolasi Iran dari perdagangan global.
Kedua, perang singkat selama 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 yang merusak infrastruktur energi Iran dan menguras cadangan devisa. Ketiga, kegagalan tata kelola ekonomi domestik, termasuk kebijakan harga BBM bertingkat yang memicu lonjakan harga pangan hingga inflasi melampaui 70 persen.
Baca juga:
- Flores sebagai Lanskap Budaya Berjalan
- AS Serang Venezuela dan Tangkap Presiden Maduro
- Bacaan Liturgis, Minggu, 4 Januari, Pesta Penampakan Tuhan
Gelombang protes yang pecah sejak 28 Desember 2025 menunjukkan karakter berbeda dari demonstrasi sebelumnya. Jika aksi tahun 2022 berfokus pada hak sipil, maka protes awal 2026 didorong oleh perjuangan bertahan hidup.
Pedagang Pasar Besar Teheran kini bergabung dengan mahasiswa dan buruh. Hingga 2 Januari, aksi telah menyebar ke 22 dari 31 provinsi, dengan tuntutan yang semakin terbuka menyerukan berakhirnya Republik Islam Iran.
Dampaknya mulai terasa di tingkat regional. Keterbatasan anggaran memaksa Iran mengurangi dukungan finansial bagi sekutu-sekutunya di Lebanon, Yaman, dan Irak.
Arus pengungsi ekonomi menuju Turki dan Irak meningkat, sementara kekhawatiran tumbuh bahwa Iran yang terdesak bisa mengambil langkah ekstrem, termasuk mempercepat program nuklirnya.
Runtuhnya Rial Iran menandai babak baru ketidakpastian Timur Tengah. Ketika sebuah kekuatan regional tak lagi mampu menopang ekonominya dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, dampaknya tak akan berhenti di dalam negeri, melainkan mengguncang kawasan dan dunia. (Sandra/Sumber:eurasia.com). ***

