Menapaki Jejak Sejarah Tahun Baru Imlek
redaksi - Senin, 16 Februari 2026 16:03
Parade Imlek perdana di San Fransisco, AS, pada tahu 1860. (sumber: foundsf.org)JAKARTA (Floresku.com) - Tahun Baru Imlek, yang juga dikenal sebagai Lunar New Year atau Spring Festival, merupakan perayaan terpenting dalam tradisi Tiongkok.
Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momen sakral untuk berkumpul bersama keluarga, menghormati leluhur, dan menyambut harapan baru. Di Tiongkok, perayaan ini biasanya disertai libur resmi selama sekitar satu minggu.
Jejak sejarah Imlek dapat ditelusuri hingga sekitar 3.500 tahun lalu. Selama berabad-abad, perayaan ini terus berkembang, baik dari segi makna religius, sosial, maupun budaya.
Tradisi yang menyertainya pun mengalami proses panjang hingga menjadi seperti yang dikenal saat ini.
Kapan Imlek Dirayakan?
Tanggal Imlek ditentukan berdasarkan kalender tradisional Tiongkok yang bersifat lunisolar (menggabungkan perhitungan matahari dan bulan). Imlek jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin (21 Desember).
Oleh karena itu, tanggalnya selalu berubah dalam kalender Masehi, biasanya antara 21 Januari hingga 20 Februari.
Mengapa Disebut Festival Musim Semi?
Meski dirayakan di tengah musim dingin, Imlek dikenal sebagai Spring Festival karena menandai awal musim semi menurut penanggalan tradisional. Ia melambangkan berakhirnya musim dingin dan dimulainya siklus kehidupan baru, penuh harapan dan pembaruan.
Legenda Nian
Salah satu kisah paling terkenal tentang asal-usul Imlek adalah legenda monster bernama Nian. Makhluk ini dipercaya memangsa hewan ternak, hasil panen, bahkan manusia setiap malam pergantian tahun.
Untuk mengusirnya, orang-orang menggantung lampion merah, menempelkan hiasan berwarna merah, dan menyalakan petasan. Dari sinilah lahir tradisi warna merah dan kembang api dalam perayaan Imlek.
Dari Dinasti ke Dinasti
Pada masa Dinasti Shang (1600–1046 SM), Imlek sudah dikenal melalui ritual persembahan kepada dewa dan leluhur. Istilah nian sendiri muncul pada era Dinasti Zhou. Penetapan tanggal resmi Imlek dilakukan pada masa Dinasti Han.
Sejak Dinasti Tang hingga Qing, perayaan semakin meriah dengan barongsai, tarian naga, dan festival lampion.

Imlek di Zaman Modern
Dengan harapan memperbaiki citra negatif yang berkembang dan sekaligus membangun kembali hubungan dengan tradisi tanah leluhur, komunitas imigran Tionghoa di Amerika merancang sebuah solusi yang unik dan imajinatif.
Pada dekade 1860-an, mereka menyelenggarakan Parade Tahun Baru Imlek—sebuah perayaan yang bahkan tidak dikenal dalam bentuk serupa di Tiongkok.
Parade ini dirancang sebagai ruang publik untuk menampilkan kekayaan adat, simbol budaya, dan identitas komunitas Tionghoa di tengah masyarakat Amerika.
Keberhasilan parade tersebut, yang hingga kini masih terus berlangsung, menjadi salah satu tonggak awal dalam proses penerimaan dan integrasi masyarakat Tionghoa ke dalam kehidupan sosial Amerika.
Lebih dari sekadar perayaan budaya, parade Imlek menjelma sebagai sarana diplomasi kultural: mengubah prasangka menjadi pengenalan, serta menjembatani jarak antara komunitas minoritas dan masyarakat arus utama.
Ironisnya, di Tiongkok sendiri pada tahun 1912, pemerintah Republik Tiongkok menghapus perayaan Imlek sebagai hari resmi karena ingin memodernisasi negara dan menyesuaikannya dengan sistem Barat.
Pemerintah mengganti kalender tradisional lunar dengan kalender Masehi (Gregorian) dan menetapkan 1 Januari sebagai Tahun Baru resmi. Kebijakan ini bertujuan membangun identitas nasional yang baru, rasional, dan ilmiah, sekaligus mengurangi pengaruh tradisi lama yang dianggap feodal.
Namun, meski secara administratif dihapus, Imlek tetap dirayakan secara luas oleh masyarakat sebagai bagian penting dari identitas budaya Tionghoa. Baru, setelah 1949 Imlek kembali diakui sebagai hari libur nasional di Tiongkok.
Kini, Imlek dirayakan dengan cara yang lebih modern: dari amplop merah digital, belanja daring, hingga gala Imlek di televisi nasional.
Meski berubah, makna dasarnya tetap sama: merayakan kehidupan, keluarga, dan harapan baru.

Imlek di Indonesia
Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kehadiran masyarakat Tionghoa di Nusantara. Jejak komunitas Tionghoa telah ada sejak abad ke-7 melalui jalur perdagangan maritim, terutama di pesisir Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Bersamaan dengan itu, tradisi budaya, termasuk perayaan Imlek, ikut berkembang di tengah masyarakat lokal.
Baca juga:
- Imlek Festival 2026 Jadi Ruang Harmoni Lintas Budaya
- Kasus Dugaan TPPO di Sikka, Polisi Diminta Pakai UU Khusus
- Kemenag Gelar Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 1447 H
Pada masa kolonial Belanda, Imlek dirayakan secara terbuka di lingkungan komunitas Tionghoa, terutama di kawasan pecinan. Perayaan ini menjadi momen penting untuk mempererat ikatan keluarga, mempersembahkan doa kepada leluhur, serta merayakan keberuntungan dan harapan baru.
Namun, pada era Orde Baru, ekspresi budaya Tionghoa mengalami pembatasan. Melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, perayaan Imlek hanya boleh dilakukan secara tertutup dalam lingkungan keluarga. Identitas budaya Tionghoa dipinggirkan dari ruang publik.

Perubahan besar terjadi setelah Reformasi 1998. Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan tersebut dan mengakui kembali kebebasan budaya Tionghoa. Pada tahun 2002, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Sejak itu, Imlek dirayakan secara terbuka di berbagai daerah, menjadi simbol keberagaman dan harmoni budaya Indonesia. Imlek tidak hanya milik komunitas Tionghoa, tetapi telah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional (Rachel). ***

