MUKJIZAT PERBANYAKAN ROTI LAHIR DARI HATI YANG MAU BERBAGI
Redaksi - Sabtu, 01 Agustus 2026 17:22
Pater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)HOMILI: (Minggu Biasa 18 A: Yes 55:1 -3; Rm 8:35.37-39; Mt 14: 13 -21))
Oleh Pater Gregor Nule, SVD
Pada awal 1999, Kelompok Pastoral “Cinta Damai”, Colegio Germania, Puerto Varas, Chile, mendekati saya untuk bicarakan tentang rencana pelayanan kasih kepada anak-anak miskin di sebuah wilayah kumuh di pinggiran kota Puerto Varas.
Kunjungan itu terjadi pada hari sabtu sebelum Minggu Palma. Ada begitu banyak anak dari keluarga para buruh miskin, yang hadir dalam acara perjumpaan kasih itu. Ada banyak sekali acara hiburan, menyanyi, menari bersama. Sungguh ramai.
Menjelang makan siang panitia mulai cemas. Persiapan makanan sangat terbatas karena kami kira bahwa tidak akan hadir begitu banyak anak. Beberapa anggota panitia mendekati saya dan menanyakan tentang bagaimana dan apa yang mesti dibuat untuk melayani jumlah orang sebanyak itu.
Saya katakan, “Baiklah kita umumkan saja bahwa persiapan kita terbatas, namun kita akan atur agar semua bisa dapat bagian, biarpun sedikit dan menikmatinya”.
Tetapi, mungkin ada siswa lain yang sudah informasikan keadaan itu kepada orangtuanya. Maka di luar dugaan kami muncullah lima orang tua murid yang membawa roti, daging, sosis dan keju dalam jumlah yang sangat banyak.
Ini sungguh suatu mukjizat. Maka ketika hendak makan siang saya berdoa demikian, “Tuhan, kami bersyukur kepadaMu karena Engkau telah melakukan mukjizat perbanyakan roti bagi kami di siang hari ini, sebagaimana Engkau telah memberi makan kepada lima ribu orang yang lapar di tempat sunyi di Palestina dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Sungguh besar kasih dan belaskasihanMu kepada kami. Terpujilah NamaMu yang kudus. Amen”.
Kami semua makan sampai puas bahkan masih ada sisa yang dibagikan kepada anak-anak supaya dibawa pulang ke rumah mereka sebagai oleh-oleh.
Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk imani Allah sebagai Allah yang mahabaik bagi semua orang tanpa kecuali. Maka ada beberapa pesan yang dapat kita renungkan pada kesempatan ini:
Pertama, manusia hanya bisa hidup berkat penyelenggaraan ilahi dan anugerah kasih Allah. Pengalaman bangsa Israel melintasi padang gurun yang menakutkan dan serba kekurangan, menjadi bukti kesetiaan dan karya agung Allah.
Makanan, minuman dan perlindungan terhadap serangan binatang buas, ular berbisa dan bangsa-bangsa lain justeru didapatkan secara cuma-cuma berkat belakasihan dan kebaikan Allah, (bdk. Yes 55:1).
Di sini Allah tampil sebagai Tuhan kehidupan yang menjamin masa depan Israel dengan santapan dan perlidungan yang berkualitas. Itulah sebabnya santo Paulus menegaskan bahwa oleh karena kasih Allah yang sungguh besar maka tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari Allah, (Rom 8:39). Karena itu, sikap yang mesti kita miliki adalah senantiasa percaya dan berpasrah kepada Allah dalam situasi apa saja.
Kedua, Yesus, wujud Wajah Allah yang penuh kasih dan sangat peduli. Yesus tidak memperbolehkan orang-orang itu pulang dalam keadaan lapar dan haus. Maka Ia berkata kepada para muridNya, “Tidak perlu mereka pulang. Kamu harus memberi mereka makan?” (Mt 14:16).
Memberi makan kepada orang yang lapar dan berkekurangan adalah ungkapan kasih dan sekaligus kewajiban serta tanggungjawab para murid. Yesus tidak ingin para murid lepaskan tanggungjawab dan membiarkan orang-orang itu pergi dan terus hidup dalam penderitaannya. Yesus minta murid-muridNya supaya memberi mereka makan dengan apa yang mereka miliki.
Perintah untuk memberi makan mengingatkan kita agar di satu pihak, meneladani Allah yang selalu merasa iba dan berbelaskasih kepada siapa saja yang berkekurangan, dan di pihak lain, hukum cinta kasih yang menjadi dasar hidup dan ciri khas para pengikut Kristus bukan sekedar untuk diingat dan diajarkan kepada orang lain, melainkan terutama mesti dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.
Ketiga, Yesus menuntut keterlibatan dan kerja sama para murid untuk berbagi kebaikan dan melayani sesama. Yesus mengingatkan kita supaya belajar berbagi kepada orang lain dengan apa yang kita miliki, berbagi dari kekurangan dan keterbatasan kita. Tidak perlu menunggu sampai kita memiliki banyak dan bahkan berkelebihan barulah kita mulai berbagi dengan sesama yang berkekurangan. Kita dipakai oleh Tuhan untuk berbagi bukan hanya barang-barang material, beras, uang dan pakaian. Tetapi, berbagi waktu, hidup, pengalaman dan pengetahuan dengan sesama di sekitar kita.
Dengan demikian,ketika ada hati yang rela berbagi secara tulus maka yakinlah bahwa Yesus masih terus melakukan mukjizat-mukjizatNya sekarang ini. Kita menjadi perpanjangan tanganNya sebagai dokter dan perawat yang rela membagikan perhatian, pengetahuan dan pengalaman untuk menyembuhkan mereka yang sakit dan terluka.
Kita menjadi guru yang bersedia meluangkan waktu untuk mengajar dan membagikan pengetahuan kepada peserta didik sehingga mereka terbebas dari kekurangan pengetahuan dan bakal memiliki masa depan yang lebih cerah.
Kita menjadi orangtua yang bertanggungjawab dan penuh pengertian dalam membesarkan dan mendidik anak-anak dan remaja dalam proses pertumbuhan mereka.
Kita menjadi sahabat yang baik untuk menemani dan menghibur mereka yang bersedih; menperdamaikan mereka yang berselisih, serta merangkul dan mengumpulkan semua orang menjadi satu komunitas bersaudara yang merasa sehati, sejiwa dan sepenanggungan.
Kita menjadi alat dan utusan Tuhan bagi sesama.
Inilah tanda bahwa kerajaan Allah sudah ada di tengah kita.
Semoga Tuhan memberkati selalu!
Kewapante, 02 Agustus 2026

