wisata
Kamis, 18 Juni 2026 09:16 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) – Sebanyak 500 knalpot brong hasil sitaan aparat kepolisian kini menjelma menjadi sebuah karya seni monumental berupa Patung Komodo raksasa di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Patung setinggi tiga meter dan panjang enam meter itu kini berdiri kokoh di depan Markas Polres Manggarai Barat yang baru di kawasan Kampung Ujung.
Keberadaan patung tersebut langsung menarik perhatian masyarakat dan wisatawan karena lokasinya yang strategis, berdekatan dengan pusat kuliner seafood Kampung Ujung serta tidak jauh dari kawasan Marina Labuan Bajo, salah satu titik favorit wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata super prioritas itu.
Patung Komodo unik tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Polres Manggarai Barat dan para seniman lokal. Ide pembuatannya berasal dari Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, sebagai bentuk respons terhadap keluhan masyarakat dan wisatawan mengenai kebisingan yang ditimbulkan oleh penggunaan knalpot brong di kawasan wisata.
Baca juga:
Menurut Christian, patung itu bukan sekadar ornamen atau penghias halaman kantor polisi. Lebih dari itu, karya seni tersebut menjadi simbol edukasi dan penegakan hukum yang humanis.
“Kami ingin menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak selalu identik dengan hukuman atau tindakan represif. Patung Komodo ini membawa pesan agar para pengendara lebih sadar pentingnya menjaga kenyamanan, ketertiban, dan ketenangan lingkungan, khususnya di Labuan Bajo,” ujarnya, Rabu (17/6).
Ratusan knalpot yang menjadi bahan utama patung tersebut berasal dari hasil operasi penertiban lalu lintas yang dilakukan Satuan Lalu Lintas Polres Manggarai Barat dalam beberapa waktu terakhir.
Alih-alih dimusnahkan dan menjadi limbah besi, barang sitaan itu didaur ulang menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan sosial.
Dari kejauhan, patung itu tampak menyerupai Komodo asli. Potongan-potongan pipa knalpot disusun sedemikian rupa hingga membentuk lekukan tubuh, kepala, kaki, dan ekor reptil purba khas Flores tersebut.
Detail sisik yang tercipta dari susunan logam bekas bahkan memberikan kesan kulit Komodo yang kasar dan kokoh.
Proses pembuatannya melibatkan para tukang las dan perajin lokal Labuan Bajo, di antaranya Zaeb dan Benyamin.
Mereka mengaku menghadapi tantangan besar saat merangkai ratusan potongan besi dengan bentuk yang beragam agar dapat menghasilkan anatomi Komodo yang proporsional.
“Tidak mudah menyatukan ratusan pipa knalpot yang bentuknya berbeda-beda. Kami harus memastikan setiap bagian menyatu dengan baik dan tetap menampilkan karakter Komodo yang kuat. Tetapi kami bangga karena karya ini menjadi sesuatu yang bersejarah bagi kota kami,” kata Zaeb.
Selain menjadi simbol kampanye keselamatan berlalu lintas dan kepedulian terhadap lingkungan, patung tersebut kini berkembang menjadi daya tarik wisata baru di Labuan Bajo.
Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara berhenti untuk berfoto sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kampung Ujung atau kawasan Marina.
Salah seorang wisatawan asal Australia, Sarah, mengaku terkesan dengan kreativitas yang ditunjukkan aparat kepolisian dan masyarakat setempat.
“Ini ide yang sangat brilian. Polisi tidak hanya menindak pelanggaran, tetapi juga mengubah barang sitaan menjadi ikon budaya yang menarik dan mendidik,” ujarnya.
Kehadiran Patung Komodo dari 500 knalpot brong ini menunjukkan bahwa penegakan hukum dapat berjalan beriringan dengan kreativitas, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Di tengah geliat Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia, karya seni tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kenyamanan dan ketertiban merupakan tanggung jawab bersama.
Kini, selain menikmati panorama alam dan keindahan laut Flores, wisatawan yang datang ke Labuan Bajo memiliki satu objek menarik lainnya untuk dikunjungi: Patung Komodo raksasa yang lahir dari transformasi 500 knalpot brong menjadi simbol kreativitas dan kesadaran publik. (Tari). ***