Antara 'Tahu Begitu' dan Mauvaise Foi (sebatas lempar kata)

Kamis, 22 Oktober 2026 19:36 WIB

Penulis:Redaksi

boe.jfif
Pater Kons Beo,SVD (Dokpri)

Oleh Kons Beo, SVD

Jatuhkan pilihan.
Tanggungjawab atas pilihan. 
Konsekwensi karena pilihan. 
Itulah jalur dan alur kisah yang mesti dihadapi dalam hidup.

Tak mudah memang. Sebab untuk memilih, telah digariskan harapan. Dipetakan dalam perjuangan dan pengorbanan. Menuntut kesetiaan pula.

Kumemilih si itu dan bukan si ini, karena terhadap si itu ada ekspetasi indah penuh janji. Namun, pilihan itu punya dinamikanya sendiri.

Katakan demikian....
Karena pilihan, citra kebebasan jadi terpasung. Seperti terobok-obok dan dirampas. Sebab demi memilih si itu, aku kini mesti all out mengusung dan membelanya. Demi membuktikan bahwa pilihanku tepat."

Akibatnya?

"Karena pilihan ini, sekali lagi, aku gadaikan kemerdekaanku sendiri. Lalu rela masuk dalam sangkar harapan, yang kisah kenyataannya tetap dalam perjuangan."

Memang...
Kita, di pelbagai momentum kehidupan ini, tak luput dari selaksa pilihan. Tak terhindarkan. Jelas, sekali lagi, di baliknya ada tuntutan tanggungjawab. Dan lagi mesti berbesar hati untuk hadapi dan menerima apapun risikonya.

Tetapi, sering terjadi, kita akhirnya baru terbuka mata. Terperangah dalam kejutan. Mimpi harapan ini itu sering tak tiba pada kenyataan. Bagai pungguk rindukan bulan. Kacian deh...

Dan, kemudian....?
Datanglah sesal dan kecewa mendera. Mau tahu ekspresi penuh sesal itu?  Ungkapan bakunya begini:

"Kalau tahu begitu.. Iya, seandainya tahu akan jadi begini?"

Iya, kita sesali pilihan-pilihan kita sendiri. Sebab hal itu berujung kecewa dan sesal. Bahkan sakit hati.....

"Seandainya, ia bukan pilihan... bukan junjungan untuk jadi pemimpin, tak seperti inilah situasinya."

Ini baru satu sampel dari litania kisah kecewa "Tahu Begitu." Jujurlah! Setiap kita, secara pribadi, tak luput dari kisah-kisah kecewa penuh sesal dalam hidup.

Tapi, mungkinkah ada juga penyesalan kolektif? Ketika ramai-ramai pada comel-comel penuh sesal, "Tahu begini...."

Tak hanya sesal akibat 'salah memilih.' Namun bahwa ramai-ramai merasa dikibuli dan diperdaya. Iya, ramai-ramai terkecoh.

Ssst, mari kita lepas dulu sesal di balik "Tahu Begitu."
Tak usah lagi pikirkan cinta dan harapan yang berlalu. ''Jangan  sesali ikan yang jatuh di air kolam...''

Katakan saja, itu 'kolam kedudukan, kolam posisi, kolam pangkat dan jabatan.' Sebab, "Ia berenang ke mana suka, enggan kembali..."

Yang dikreasi kini bukanlah cara-cara cerdas dan bijak demi 'bonum comune.' Namun, buat apa saja yang terkesan 'suka-suka, ramai penuh noraknya.'

Tapi, mari pendamkan sedikit rasa kecewa penuh sesal di lintasan "Tahu begitu..."

Kita pinjam sebentar ungkapan "mauvaise fai" milik Jean-Paul Sartre, filsuf Prancis abad 20 itu.

"Mauvaise fai" itu kata bahasa Prancis yang artinya "iktikad buruk." Arti sederhananya dalam kenyataan? Kita ini telah tetapkan pilihan dan sikap pasti, telah putuskan, telah sungguh yakini satu dua tindakan. Semuanya fixed!  Namun, semuanya gagal, gugur, berantakan!

Sayangnya, kita lalu sangkali semuanya keterlibatan aktif kita itu. Lalu dengan lincah dan entengnya 'menuduh' sebab eksternalnya. Satre mau bilang, "Kita ini mulai mendramatisasi cerita, aturan, dan hukum yang dirancang secara terang-terangan untuk merampas kebebasan kita. Kita persalahkan apapun 'di luar diri' yang memaksa kita untuk melakukan apapun. Termasuk pilihan kita sendiri."

Maka "itikad buruk," mauvaise foi itu adalah 'penyangkalan atas keterlibatan kita dalam berbagai peristiwa. Memang, adalah lebih gampang untuk 'persalahkan ini, atau persalahkan itu.'

Sudahlah! 
Memang, 'yang berlalu biarlah berlalu, yang terjadi memang telah terjadi.' Yang mesti ada selanjutnya adalah 'belajarlah dari yang sudah-sudah. Mengais pelajaran dari pilihan-pilihan dan varian sikap dan perbuatan yang telah sisakan 'hanya titik air mata dan senyum kehancuran.'

Bagaimanapun 'mumpung masih ada kesempatan buat kita.' Setidaknya, berbesar hati menatap harapan berikutnya. Kita memang bakal terhenti pasti di suatu ketika.

Namun, dari kisah, peristiwa dan sejarah kita kini, akan  terbit mentari dan rembulan harapan cerah ceriah. Masa depan buat yang berikutnya. Buat anak cucu nanti...

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro
R o m a