APTI-IPTI Jalin Kerja Sama Magang, Buka Peluang Kerja dan Beasiswa di Taiwan

Selasa, 18 Agustus 2026 15:47 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

mOu 1.jpg
Dari kanan ke kiri: Ketua Yayasan Tunas Persada Nusantara, Arno Rizaldi Setiawan; Ketua IPTI, Andry Susanto dan Direktur APTI Adrian Rusmin. (Humas APTI)

TANGERANG SELATAN (Floresku.com)– Akademi Perhotelan Tunas Indonesia (APTI) Bintaro, Tangerang Selatan, menjalin kerja sama dengan Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengembangan sumber daya institusi.

Pihak IPTI diwakili oleh Ardy Susanto, Frederikus Lusti Tulis, Ibu Mei dan Ibu Icha. Sementara itu, pihak APTI hadir Ketua  Yayasan Tunas Karya Persada Nusantara (YTPN) , Arno Rizaldi Setiawan,  Staf YTPN Sjane Dumalang, Direktur APTI Adrianus Rusmin, serta beberapa dosen dan tenaga kependidikan.

Baca juga:

https://floresku.com/read/apti-kenalkan-d-4-perhotelan-dalam-edufair-vokasi-asak-2026

Salah satu fokus utama kerja sama tersebut adalah penempatan mahasiswa APTI untuk mengikuti program magang atau On-the-Job Training (OJT) di sejumlah hotel dan industri pariwisata di Taiwan.

MoU tersebut ditandatangani di Jakarta pada 18 Agustus 2026. Dalam dokumen kerja sama, APTI bertindak sebagai pihak pertama, sedangkan IPTI sebagai pihak kedua.

Suasana diskusi sebelum acara penandatanganan MoU Kerja Sama Magang para mahassiswa APTI di Taiwan

Kerja sama ini tidak hanya membuka kesempatan mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja internasional, tetapi juga diarahkan menjadi jembatan menuju peluang kerja setelah mahasiswa menyelesaikan program magang.

Magang sebagai Jalan Menuju Dunia Kerja Internasional

Ketua Yayasan Tunas Persada Nusantara, Arno Rizaldi Setiawan, mengatakan program magang tersebut dirancang untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi mahasiswa sekaligus memberikan pengalaman bekerja di lingkungan internasional.

“Program magang ini untuk meningkatkan tingkat keterampilan dan kompetensi para mahasiswa, sekaligus memberikan kesempatan kepada mereka untuk menimba pengalaman di luar negeri,” ujarnya.

Menurut Arno, pengalaman bekerja di luar negeri akan memberikan nilai tambah bagi mahasiswa ketika mereka memasuki pasar kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Hal tersebut menjadi semakin penting karena Taiwan menghadapi tantangan kekurangan tenaga kerja akibat perubahan demografi, termasuk penuaan penduduk dan rendahnya angka kelahiran. 

Pemerintah Taiwan sendiri terus mengembangkan kebijakan untuk mempertahankan pekerja migran berpengalaman dan menarik tenaga kerja asing.

Ibu Mei dari IPTI sedang melakukan wawancara seleksi penempatan magang di Taiwan dengan Rafael Pakadang mahasiswa APTI Semester 5.

Data Kementerian Tenaga Kerja Taiwan menunjukkan bahwa pada Maret 2026 terdapat sekitar 289 ribu posisi kosong di sektor industri dan jasa. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga kerja di pasar kerja Taiwan.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi lulusan pendidikan vokasi, termasuk bidang perhotelan, pariwisata, kuliner, dan jasa.

APTI: Kampus dan Industri Harus Saling Terhubung

Direktur APTI, Adrianus Rusmin, mengatakan pendidikan di APTI diarahkan agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menghadapi situasi kerja nyata.

Menurutnya, kampus menjadi tempat mahasiswa memperoleh dasar-dasar pengetahuan, sedangkan pengalaman profesional dibangun melalui praktik langsung di industri.

“Kampus APTI Bintaro lebih diarahkan untuk keperluan pembelajaran teori. Mahasiswa kemudian diarahkan untuk belajar sambil bekerja secara nyata di tempat magang,” katanya.

Ia menjelaskan, tugas-tugas mahasiswa diberikan oleh dosen dan dikerjakan secara mandiri sesuai waktu masing-masing. Proses bimbingan juga dapat dilakukan secara fleksibel sesuai kebutuhan mahasiswa.

Pendekatan tersebut, menurut Adrianus, sejalan dengan karakter pendidikan APTI yang menekankan entrepreneurship, praktik kerja, dan pendidikan vokasi.

“Percuma kalau kampus serba high-tech dan lengkap, tetapi nantinya keadaan di tempat kerja tidak sesuai dengan yang dihadapi mahasiswa,” ujarnya.

Karena itu, pengalaman langsung di industri menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa.

Peluang Diterima Bekerja di Taiwan

Ketua IPTI, Ardy Susanto, mengatakan kerja sama dengan APTI merupakan bentuk kepedulian IPTI untuk membuka peluang bagi generasi muda Indonesia mendapatkan pengalaman internasional.

Ia mengatakan, mahasiswa yang telah mengikuti magang di Taiwan memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan karier di negara tersebut karena mereka sudah memiliki pengalaman mengenal lingkungan kerja, budaya kerja, serta standar industri Taiwan.

“Tidak tertutup kemungkinan mahasiswa yang pernah magang di Taiwan akan diajukan untuk menjadi karyawan di Taiwan dengan kontrak minimal tiga tahun,” kata Ardy.

Menurutnya, pengalaman magang dapat menjadi modal penting ketika mahasiswa memasuki proses rekrutmen.

“Biasanya peluang untuk mereka yang pernah magang lebih besar, sekitar 50 persen akan diterima,” ujarnya.

Ardy menambahkan, peluang tersebut menjadi semakin terbuka karena Taiwan masih menghadapi persoalan kekurangan tenaga kerja. Pemerintah Taiwan bahkan telah mengembangkan berbagai skema untuk mempertahankan pekerja asing terampil yang telah memiliki pengalaman kerja di Taiwan. 

Hingga Juni 2026, lebih dari 80 ribu pekerja asing telah memperoleh persetujuan sebagai pekerja asing terampil melalui mekanisme retensi tenaga kerja.

Dengan demikian, program magang tidak hanya dipandang sebagai kegiatan akademik, tetapi juga dapat menjadi jalur awal menuju karier internasional bagi mahasiswa APTI.

IPTI Buka Kemungkinan Beasiswa

Selain program magang dan peluang kerja, kerja sama APTI-IPTI juga berpotensi dikembangkan ke bidang beasiswa pendidikan.

Ardy Susanto mengatakan, IPTI akan mencoba menjajaki kemungkinan pemberian beasiswa bagi mahasiswa APTI yang memenuhi persyaratan.

“Kami akan mencoba melihat peluang untuk itu,” katanya.

Menurut Adrian, peluang tersebut cukup terbuka karena sejumlah anggota IPTI juga memiliki jejaring dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), yang selama ini memiliki pengalaman dalam memberikan dukungan beasiswa kepada mahasiswa.

Ia menyebutkanelalui program unggulan seperti Beasiswa Pelangi, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) telah memberikan sekitar 1.400 beasiswa kepada para pelajar. 

Selain itu, PP INTI juga secara rutin memberangkatkan puluhan mahasiswa per tahun untuk kuliah ke luar negeri, seperti ke Tiongkok.

Karena itu, IPTI akan mencoba membuka kemungkinan agar mahasiswa APTI juga dapat memperoleh kesempatan serupa.

“Kalau peluang itu bisa dibuka, tentu akan sangat membantu mahasiswa APTI,” ujarnya.

Dari Magang Menuju Karier dan Beasiswa

Kerja sama APTI dan IPTI dengan demikian diharapkan memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar penempatan mahasiswa magang.

Program tersebut diarahkan untuk membangun sebuah rantai pengembangan sumber daya manusia, mulai dari pendidikan di kampus, pembekalan keterampilan, magang di industri Taiwan, peluang bekerja setelah magang, hingga kemungkinan memperoleh dukungan beasiswa.

Bagi APTI, model tersebut sejalan dengan pendekatan pendidikan vokasi yang menempatkan pengalaman praktik sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.

Sementara bagi IPTI, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses generasi muda Indonesia terhadap pengalaman internasional, jejaring industri, dan peluang karier.

Kedua pihak berharap kerja sama tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan dan tidak hanya menguntungkan mahasiswa, tetapi juga memperkuat hubungan pendidikan dan industri antara Indonesia dan Taiwan. (map). ***