BELAJAR UNTUK TERUS BERBUAT BAIK MESKIPUN DIKHIANATI

Sabtu, 26 September 2026 13:09 WIB

Penulis:Redaksi

mt.jpg
(null)

     HOMILI

Oleh Pater Gregor Nule SVD

      (Minggu Biasa XXVI A: Yeh 18:25-28; Flp 2:1-11; Mt 21:28-32)

Ilustrasi

 Seorang wanita melihat seekor ular yang sedang terbakar memutuskan untuk mengeluarkannya dari api. Ketika berusaha menyelamatkannya ular itu memagut tangannya. Maka ia melepaskan ular itu sehingga jatuh kembali ke dalam api. Ia melihat sekeliling dan menemukan sepotong kayu untuk mengeluarkan ular itu dari api. 

Seorang pemuda yang melihat kejadian itu heran lalu mendekati wanita itu dan berkata,”Ular ini telah memagut dan melukaimu. Mengapa engkau masih mencoba untuk menyelamatkannya?” 

Ia menjawab, “Sifat ular adalah memagut dan menyakiti. Tetapi itu tidak harus mengubah sifat saya yang suka menolong dan menyelamatkan yang lain”.

Refleksi 

Bacaan-bacaan suci hari ini mewartakan tentang lika-liku pengalaman manusia untuk menyelami cara dan jalan Allah menyatakan kasihNya. Pengalaman bangsa Israel di Babilonia yang ditandai dengan penindasan, ketidakadilan dan kerja paksa   lama-kelamaan membuat mereka bingung dan putus asa. 

Muncul pertanyaan yang sering mengusik pikiran mereka, “Betulkah dosa nenek moyang dan kesalahan di masa lampau mendatangkan hukuman bagi kita di masa kini?” Berhadapan dengan situasi yang sulit ini mereka mulai menggugat kebijaksanaan Allah. “Jika Allah sungguh baik mengapa Ia membiarkan musuh-musuh menindas kami. Mengapa kejahatan terjadi dan merajalela di mana-mana?” 

Nabi Yehezkiel coba menyadarkan orang-orang Israel akan ketidaksetiaan, dosa dan kejahatan mereka, yang menjadi biang keladi semua cobaan, penderitaan dan kebinasaan. Yehezkiel juga mengingatkan mereka akan Allah yang senantiasa sabar dan rela mengampuni. Mereka terus saja tidak setia dan berbuat dosa, tetapi Allah tetap berbelaskasih dan memberikan kesempatan untuk kembali menata hidup. Maka jalan satu-satunya yang mesti dipilih adalah menginsyafi  segala kedurhakaan dan bertobat.

Injil mengisahkan tentang sikap anak bungsu yang bandel, keras kepala dan tidak setia. Ia menolak permintaan ayahnya untuk bekerja di kebun anggur. Ia berkata,“Tidak mau”. Sikap negatif ini tidak mendapat reaksi apa pun dari sang ayah. “Tetapi, kemudian ia (anak bungsu) menyesal lalu pergi juga”, (Mt 21:30). 

Anak bungsu mewakili para pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal yang umumnya punya sikap  dan perilaku yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah. Mereka dianggap sebagai orang-orang berdosa dan tidak punya hak atas janji keselamatan. 

Tetapi, justeru merekalah orang-orang pertama yang bertobat ketika mendengarkan pewartaan para nabi dan Yesus sendiri. Yesus memuji  keterbukaan dan kerendahan hati mereka untuk meninggalkan cara hidup lama dan mulai  membangun hidup baru sebagai pengikutNya. Maka Yesus menjanjikan keselamatan kepada mereka, dan bukan kepada “anak sulung” atau orang-orang Farisi, ahli Taurat dan tua-tua agama yang menganggap diri benar dan suci. 

Yesus menegaskan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan para pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah”, (Mat 21:31).

Apa pesan bacaan-bacaan suci hari ini untuk kita?  Pertama, kita diajak untuk  menyadari pentingnya menginsyafi  dosa dan bertobat sebagai jalan kepada keselamatan. Nabi Yehezkiel minta orang-orang Israel supaya tinggalkan dosa dan bertobat. Yesus memuji anak bungsu yang menolak permintaan ayahnya, namun kemudian menyesal dan pergi ke kebun. Ia bertobat dan lakukan kehendak ayahnya.

Kita juga diminta untuk membangun komitmen yang sungguh-sungguh guna menghayati iman dan tuntutan agama kita. Kita tidak boleh hanya buat janji, lalu cepat lupa dan tidak lakukannya.  Tanda bahwa kita adalah pengikut Kristus sejati apabila kata-kata yang kita ucapkan hendaknya sungguh selaras dengan sikap dan perbuatan harian kita. Apa yang kita katakan, itulah yang kita lakukan.

Kedua, santo Paulus mengingatkan kita agar tidak hidup hanya untuk diri sendiri, melainkan selalu saling menolong. Di tengah dunia yang penuh dengan persaingan dan ambisi untuk mencari kepentingan sendiri kita diajak untuk mencontohi Yesus yang rela berkorban untuk menyelamatkan semua umat manusia. 

Ibu dalam lustrasi di atas menyadarkan kita akan salah satu ciri khas manusia yakni suka menolong. Ibu itu berkata, “Sifat ular itu suka memagut dan melukai. Tetapi itu tidak mesti mengubah sifat saya yang suka membantu dan menyelamatkan”. 

Dalam hidup sehari-hari sebagai orangtua sering kita berhadapan dengan anak-anak yang nakal, kepala batu, bahkan bisa lakukan hal-hal yang tidak pantas atau kurang ajar. Meski demikian, mereka tetap menjadi anak-anak kita. Atau kadang-kadang sikap dan perilaku adik, kakak, dan saudara/i atau orang-orang dekat membuat kita sakit hati dan kesal. Tetapi mereka tetap menjadi adik, kakak, saudara/I dan tetangga kita.

Karena itu, kita diminta agar tidak mengubah sifat atau karakter yang baik dan luhur hanya karena seseorang membenci dan berbuat jahat terhadap kita. Kita mesti menjaga agar hati tetap baik dan bersih, kendatipun berhadapan dengan orang yang mungkin hatinya busuk dan suka membuat onar. 

Hendaknya kita bersikap bijaksana saat kebaikan kita difitnah, dikhianati dan dibalas dengan kejahatan. 

Kita mesti ingat bahwa walau dunia dan orang-orang sekitar tidak melihat kebaikanmu, tetapi Tuhan melihat segalanya dan akan membalas ketulusan hatimu. 

SEMOGA Tuhan memberkati kita selalu!

Kewapante, 27 September 2026