'Bertemu Tuhan di Tubuh', Refleksi Teologis Saat Sakit Covid-19 (Bagian 4)

Sabtu, 31 Juli 2021 13:24 WIB

Penulis:redaksi

Editor:Redaksi

pendenta.jpeg
Pendeta Dr. Mery Kolimon (Dokpri)

Oleh Pendeta Dr. Mery Kolimon (Ketua Sinode GMIT)

Teologi Tubuh

KAMI sudah mulai sehat. Badan saya tak lagi sakit. Kepala tak lagi sering pening. Nafsu makan perlahan membaik. Saya tak lagi merasakan mabuk kalau harus memasak. Minggu depan kami mau kembali tes PCR setelah 21 hari terkonfirmasi positif. Semoga kami sudah kembali negatif. 

Seorang kawan pendeta perempuan yang melayani di salah satu denominasi gereja di Kota Kupang, menulis pesan kepada saya demikian: “Mama, sampai saat ini, saya masih bergumul dengan persoalan konsentrasi. Meski telah bebas atau negatif Covid sejak dua bulan lalu, tugas-tugas paper dari kampus terbengkalai. Meski masih bisa, saya menulis dengan kecepatan merayap… Menurut bebebrapa kawan yg sudah berusia di atas 50 tahun, ketika terserang Covid, semangat hidupnya jadi melemah, menjadi apatis.” Apakah banyak orang mengalami hal seperti itu? Ini menarik untuk distudikan dan direfleksikan secara teologis.

Kami sekeluarga belum tahu apa dampak Covid ke depan pada hidup kami di masa depan: Apa dampak Covid akan merusak pada daya tahan tubuh saya, suami, dan anak-anak? Apakah paru-paru kami akan baik-baik saja? Bagaimana dengan lambung, jantung, dan otak kami? Bagaimana dampak panjang Covid kepada semua manusia yang terinveksi?

Terinveksi Covid membantu kami untuk lebih peka pada tubuh sebagai karya Allah yang mulia sekaligus rapuh. Tubuh kami mulia karena diciptakan oleh Allah sendiri dalam gambar dan rupaNya, sekaligus ringkih karena manusia telah jatuh dalam dosa. Kesadaran akan penebusan Allah mendorong manusia untuk menjaga tubuhnya secara bertanggung jawab karena tubuh adalah buah karya Allah yang mulia. Tubuh yang telah terinveksi harus dikasihi, dirawat sebagai bentuk keterlibatan dalam karya penebusan dan pemulihan Kristus. 

Tubuh yang telah terinveksi tidak boleh dipaksa bekerja melebihi kemampuannya. Virus mungkin akan pergi setelah masa tertentu, tetapi jejaknya akan tinggal memberi pelajaran kehidupan yang berharga pada umat manusia untuk merawat tubuh ciptaan Allah dan menghormati hidup pemberianNya.  Salah satu agenda berteologi sebagai penyintas Covid adalah agenda perjalanan menuju diri, untuk secara serius merawat dan menghargai tubuh, jiwa, dan roh.

Terinveksi Covid membantuku lebih berenung tentang teologi tubuh. Tubuh dan hidup manusia adalah situs berteologi. Tubuh adalah tempat kita berjumpa dengan Tuhan. Tubuh berasal dari tanah dan telah disentuh Allah menjadi hidup, bergerak, berjalan, melompat, penuh kegembiraan. Ada juga masa tubuh sakit dan bersedih. Karena tubuh diciptakan Allah, kita dapat bertemu dengan Allah di sana, dalam segala pengalaman tubuh: sedih, senang, sakit, sehat.

Tubuh mengungkapkan sesuatu tentang karya Allah yang mulia yang mengasihiNya. Namun tubuh juga terbatas. Ada waktunya tubuh tak ada lagi. Selama tubuh masih ada, saya ada. Saat tubuh berhenti bekerja, saya tidak ada lagi di dunia. Teologi tubuh membantu kita untuk menghormati tubuh dan merawatnya dengan syukur kepada Tuhan yang menciptakannya sampai waktunya tubuh kembali menjadi tanah. 

Bahasa Iman di Masa Krisis

Ada hal yang menarik dalam pengalaman spiritualitas saya di masa krisis ini. Saya dibesarkan sebagai anak-anak dalam dua bahasa: bahasa Indonesia dan bahasa Meto Timor Barat. Di masa kecil saat mulai masuk sekolah di pedalaman, bahkan guru-guru kami memakai dua bahasa itu untuk anak-anak yang belum bisa berbahasa Indonesia. Sehari-hari kami bergaul lebih banyak dengan bahasa daerah. Untuk kepentingan studi saya juga belajar bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Studi S-2 saya dalam bahasa Belanda dan S-3 dalam bahasa Inggris. Jadi paling sedikit saya bisa berbicara empat bahasa: bahasa Indonesia, Meto, Inggris, dan Belanda. 

Ketika berada dalam masa-masa takut dan cemas yang terdalam, saya berdoa dalam bahasa Timor. Ketika saya berdoa dalam bahasa ibu itu, saya mampu mengungkapkan perasaan saya yang paling dalam. Kadang-kadang saya merasa marah pada diri saya karena tidak mampu menemukan kata dalam bahasa daerah itu untuk hal yang ingin saya ungkapkan. Sekarang saya lebih fasih berbahasa Indonesia dibanding bahasa daerah. Namun saya sungguh merasakan kedalaman pengalaman bersama Tuhan dalam bahasa kalbuku.

Dalam bahasa itu saya bercerita kepada Tuhan mengenai kekuatiranku, mengenai keluargaku, dampak penyakit ini pada pelayananku, dan kecemasanku atas seluruh peradaban manusia. Kalau saya berdoa di masa krisis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa yang lain mungkin yang saya ungkapkan dangkal saja. Namun ketika saya berdoa dalam bahasa daerah, ada hal-hal yang sangat dalam yang terungkap kepada Tuhan dan kepada diri saya sendiri. Doa itu menjadi sangat pribadi antara Tuhan dan saya.

Saya pikir hal ini bisa saja terkait pengalaman iman yang membentukku. Saya bertumbuh mengenal Tuhan dalam komunitas percaya di Timor Barat. Ayahku yang seorang dari Pulau Alor menikah dengan ibuku seorang perempuan Timor Barat dan mereka bekerja di Timor sampai akhir hayat mereka. Saya bertumbuh sebagai anak manusia yang belajar mengenal Tuhan, Firman, dan karya-karyanya dalam komunitas yang kuat memelihara budaya dan bahasa daerah di lingkungan itu. Saya teringat iman ibu dan nenekku yang kuat dibentuk budaya Timor, almarhum Penatua Banunaek dari Oetoli di Jemaat Oinlasi Barat yang mendoakan kami kala sakit, syukur, dan sukacita yang kami rayakan dalam kedalaman bahasa syair. Semua itu terserap hingga ke kalbu. Di saat saya bergumul dengan hal yang paling dalam, itulah bahasa yang mampu mengungkapkan segenap kerinduan, harapan, dan kecemasan.  BERSAMBUNG