Desa Golo Riwu Siap Gaet Investor 2026

Minggu, 01 Maret 2026 20:48 WIB

Penulis:redaksi

kades.jpg
kepala desa Golo Riwu Ignasius Didimus Loyola Mense (Vian Dalang)

LABUAN BAJO (Floresku.com) - Menghadapi tantangan krisis ekonomi global yang diprediksikan melanda tahun 2026, Pemerintah Desa Golo Riwu menyiapkan langkah revolusioner, menggaet para investor.

Hal itu disampaikan kepala desa Golo Riwu Ignasius Didimus Loyola Mense kepada media ini, Minggu (01/3) di Labuan Bajo.

"Kita siap meluncurkan program "Investor Serbu Desa" yang menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai panglima pembangunan" tegas Edo sapaan akrab Didimus Loyola Mense.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran infrastruktur nasional, Edo Mense Fokus penguatan sektor pertanian modern, dengan Porang sebagai komoditas unggulan utama.

Bagi Edo pemilihan porang didasarkan pada analisis pasar yang tajam, harga porang di tahun 2026 diperkirakan lebih stabil dan prospektif. Permintaan dunia kini bergeser pada produk turunan bernilai tambah seperti tepung glucomannan dan beras porang, bukan lagi sekadar umbi mentah.

"Sebagai langkah nyata, Pemdes Golo Riwu berkomitmen membagikan bibit unggul kepada masyarakat yang memiliki potensi lahan produktif" Ujarnya.

SDM dan SDA sebagai "Magnet" Investasi

Edo menegaskan bahwa pertanian modern bukan hanya soal mencangkul, melainkan peningkatan kapasitas intelektual petani. Dengan SDM yang terampil mengelola porang secara profesional, Golo Riwu akan memiliki daya tawar tinggi di mata investor.

Baca juga:

"Kita jangan terlalu bermimpi dan hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Yang paling krusial adalah Pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) melalui pemanfaatan SDA (Sumber Daya Alam) . Jika rakyat punya penghasilan, desa akan kuat," tegas Edo.

Menurut ia, Strategi "Investor Serbu Desa" ini dirancang untuk menciptakan ekosistem bisnis yang matang. Dengan ketersediaan bahan baku porang yang melimpah dan berkualitas, investor pengolahan pangan diharapkan akan datang membangun pabrik atau jalur ekspor langsung dari desa ini.

"Semoga program pemberdayaan ini  sebagai "pemantik" bagi pembangunan infrastruktur jalan" Imbuhnya.

Kata Edo, selama ini keterbatasan anggaran sering kali menghambat perbaikan akses jalan. Namun, dengan menjadikan Golo Riwu sebagai pusat produksi porang nasional, urgensi pembangunan jalan akan meningkat secara otomatis.

"Pertumbuhan ekonomi akan memaksa kehadiran infrastruktur" tuturnya.

Ia berharap dengan volume panen yang besar akan mengubah status jalan desa menjadi jalur logistik strategis yang wajib diperhatikan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi.

"Data produksi porang yang nyata akan menjadi senjata ampuh bagi desa dalam melobi anggaran pembangunan jalan di tingkat yang lebih tinggi" kata Edo.

Dengan demikian masuknya investor melalui program ini membuka peluang skema kerjasama atau CSR untuk pemeliharaan akses jalan utama.

Edo Mense optimistis bahwa jika aspek SDA (Porang) dan SDM sudah kokoh, maka hal tersebut akan menjadi pemicu (trigger) bagi keberhasilan program-program desa lainnya.

Ia yakin, Desa Golo Riwu ingin membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah fondasi sejati untuk menjemput pembangunan fisik yang berkelanjutan.

"Jika ekonomi warga sudah mandiri dan desa kita menjadi pusat perhatian investor karena porang, maka infrastruktur jalan bukan lagi sekadar impian, melainkan kebutuhan logistik yang harus dipenuhi oleh negara," pungkasnya optimis. (Oktafianus Dalang)