Festival Golo Koe 2026: Uskup dan Menpar Ajak Warga Rawat Iman, Budaya dan Bumi

Selasa, 11 Agustus 2026 20:52 WIB

Penulis:Redaksi

memnpa4.jpeg
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bersiap menabuh gong tanda dimulainya Puncak Festival Golo Koe 2026, disaksikan Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus (Vinsen Patno)

LABUAN BAJO (Floresku.com )– Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo menjadi ruang perjumpaan antara iman, budaya, pariwisata, dan kepedulian terhadap lingkungan. Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyerukan semangat bersama agar perkembangan pariwisata tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan masyarakat lokal, budaya, dan alam tetap menjadi bagian utama pembangunan.

Festival yang dibuka di Marina Waterfront Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin, 10 Agustus 2026, mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.” Bagi Mgr. Maksimus, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk melihat secara kritis arah perkembangan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super premium.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menggunting pita tanda dimulainya Puncak Festival Golo Koe 2026, disaksikan Uskup Labuan Bajo Maksimus Regus dan Wabup Mabar. (Vinsen Patno).

Menurutnya, pertumbuhan pariwisata harus menjawab pertanyaan mendasar: pertumbuhan itu untuk siapa? Ia mengingatkan agar kemajuan Labuan Bajo tidak membuat masyarakat lokal justru menjadi asing di tanahnya sendiri.

“Pariwisata kelas dunia” juga, kata Mgr. Maksimus, tidak boleh membuat sebagian masyarakat hanya menjadi penonton. Karena itu, pembangunan harus memberi ruang bagi nelayan, petani, UMKM, perempuan, generasi muda, masyarakat adat, kelompok difabel, dan keluarga-keluarga sederhana.

Baca juga:

Ia menegaskan, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan, pembangunan hotel, investasi, maupun pendapatan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh pariwisata menghadirkan kehidupan yang layak dan adil bagi masyarakat lokal.

Mgr. Maksimus juga menyerukan kolaborasi antara pemerintah, Gereja, masyarakat adat, dunia usaha, pelaku pariwisata, komunitas budaya, generasi muda, dan masyarakat sipil. Sinergi, menurutnya, bukan sekadar hadir bersama dalam sebuah acara, tetapi keberanian untuk saling mendengarkan, mengoreksi, dan berbagi tanggung jawab demi kepentingan bersama.

Perhatian yang sama diarahkan pada lingkungan. Festival Golo Koe, katanya, harus menjadi bagian dari “itikad ekologis” untuk mengembalikan kepada alam apa yang selama ini diambil manusia. Menanam kembali pohon, menjaga sumber air, melindungi pesisir, serta bertanggung jawab terhadap sampah merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

Ia juga mengingatkan bahwa Flores tidak boleh hanya dijual sebagai panorama wisata. Di balik keindahan alamnya terdapat budaya, adat, bahasa, kampung, tanah leluhur, ritus, gereja, kapela, masjid, dan tradisi kehidupan yang telah membentuk masyarakat selama berabad-abad.

“Flores memiliki jiwa,” tegasnya. Karena itu, Labuan Bajo harus dapat menjadi destinasi yang modern dan terbuka kepada dunia tanpa kehilangan akar budaya serta mengalami kemiskinan sosial dan spiritual.

Menpar: Masyarakat Harus Jadi Pelaku Utama

Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai kekuatan utama Festival Golo Koe terletak pada partisipasi aktif masyarakat lokal.

Saat membuka Festival Golo Koe 2026 di Kawasan Waterfront City Labuan Bajo, Senin (10/8/2026), Widiyanti mengatakan festival tersebut mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam sebuah ruang yang terbuka bagi siapa saja.

“Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia,” kata Widiyanti.

Menurutnya, pariwisata tidak selalu harus dibangun melalui kemegahan atraksi. Nilai spiritual, budaya, dan kemanusiaan yang tumbuh dari masyarakat juga dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun destinasi berkualitas.

Festival Golo Koe 2026 kembali masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN). Festival ini mengusung tema “Maria Assumpta Nusantara” dan memadukan prosesi religi, atraksi budaya, pameran UMKM, serta pertunjukan seni lokal.

Pada penyelenggaraan 2025, Festival Golo Koe mencatat lebih dari 45 ribu wisatawan. Festival tersebut melibatkan 173 pelaku UMKM dan 883 pekerja seni serta menciptakan 1.473 kesempatan kerja dengan perputaran ekonomi mencapai Rp2,82 miliar.

Tahun ini, penyelenggara menargetkan 50 ribu pengunjung dengan perputaran ekonomi yang diharapkan melampaui capaian tahun sebelumnya. Peningkatan kunjungan juga diproyeksikan berdampak pada tingkat hunian hotel dan homestay di Labuan Bajo.

Festival Golo Koe 2026 kembali terpilih sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak 2024 dan untuk kedua kalinya masuk dalam Top 10 KEN. Capaian tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu ikon pariwisata berbasis budaya dan religi di Indonesia.

Beragam agenda mewarnai festival tahun ini, mulai dari pentas seni budaya Nusantara, pameran ekonomi kreatif dan kuliner lokal, edukasi ekologis, penanaman pohon, tari Caci, karnaval budaya, Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara hingga ekaristi agung.

Prosesi Arca Bunda Maria Asumpta Nusantara dalam Festival Golo Koe 2026

Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara menjadi salah satu agenda utama. Patung Bunda Maria diarak menggunakan kapal pinisi melintasi perairan Labuan Bajo sebelum dibawa menuju Gua Maria di Golo Koe. Ribuan peserta mengenakan busana adat Manggarai, menciptakan perpaduan antara tradisi budaya, nilai religius, dan identitas lokal.

Bagi Mgr. Maksimus, Festival Golo Koe pada akhirnya merupakan sebuah ziarah pertobatan bersama: mengubah paradigma dari eksploitasi menuju perawatan, dari dominasi menuju persaudaraan, serta dari keuntungan semata menuju kesejahteraan bersama.

“Ekonomi bertumbuh, masyarakat berdaya, budaya terpelihara, iman mendapat ruang, dan alam tetap bernapas” menjadi wajah pembangunan pariwisata yang diimpikannya. (Vinsen Patno).