In Memoriam Bapa Alo, Orang Desa Selalu Menyapanya 'Guru' (15 Maret 1932 — 8 Mei 2022)

Sabtu, 21 Mei 2022 15:44 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

Bapa alok.JPG
Almarmum Bapak Alo Bisara (Facebook/Primus Dorimulu)

JAKARTA (Floresku.com) - Pada usia 16 tahun, Bapa Alo sudah menjadi guru Sekolah Rakyat. Pada zamannya, seorang dari Gen Z sudah memikul tanggung jawab sebagai pendidik dan tokoh masyarakat.  

Pada paruh kedua  dekade 1940-an hingga akhir dekade 1960-an, para guru Sekolah Rakyat, yang kemudian berubah menjadi  Sekolah Dasar, tidak hanya menjadi pendidik di sekolahnya, melainkan menjadi penggerak utama semua kegiatan sosial kemasyarakatan, bahkan juga politik.

Pemimpin politik pada masa itu umumnya dari kalangan guru. Ketika wilayah swapraja warisan Belanda berubah menjadi kabupaten, 1958, Ngada berubah menjadi salah satu kabupaten lewat UU No 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II dalam Wilayah Tingkat I Bali, NTB, dan NTT.  Wilayah Ngada meliputi tiga swapraja, yakni Swapraja Ngada, Swapraja Nagekeo, dan Swapraja Riung.

Di bawah swapraja ada hamente. Ketika tiga swapraja dilebur menjadi Kabupaten Ngada terdapat 34 hamente, semacam kecamatan. 

Ke-34 hamente kemudian direstrukturisasi menjadi enam kecamatan, yakni Kecamatan Ngada Utara, Ngada Selatan, Nage Utara, Nage Tengah, Keo, dan Riung. Setahun kemudian, Ngada Utara berubah nama  menjadi Bajawa, Ngada selatan menjadi Aimere, Nage Tengah menjadi Boawae, dan Nage Utara menjadi Aesesa.

Bung Karno dan Bung Hatta  dalam naskah Proklamasi Kemerdekaan RI boleh saja menyatakan, “…hal-hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain dilaksanakan dengan cara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”  Tapi, dalam kenyataan, struktur pemerintahan HIndia Belanda bertahan hingga 1962. Sejak 1962, struktur swapraja dan hamente di Ngada berubah menjadi kecamatan dan desa.

Anggota dewan dan pegawai daerah Ngada pada awalnya didominasi para guru.  Sejak awal 1950-an, Bapa Alo sudah melakukan aktivitas politik dan pada tahun 1957, ia dipercayakan menjadi Ketua Partai Katolik Aesesa dan pada tahun 1971 menjabat ketua Partai Katolik Ngada.  

Setelah dua tahun memimpin Partai Katolik Aesesa, pada tahun 1958, Bapa Alo terpilih menjadi anggota DPRD Ngada. Posisi itu diembannya hingga tahun 1974, setahun setelah Partai Katolik resmi dileburkan ke PDI.

Dua rekan gurunya, Jan Jos Botha dan Linus Jogo Dajo, masing-masing, menjadi  Bupati dan Ketua DPRD Ngada tahun 1967.  

Ketika berhenti dari guru, 1965 untuk mengemban tugas baru sebagai kepala PPN Serat, Mbay, Agustus 1965 hingga Juli 1969, Bapa Alo tetap menjadi anggota dewan dan memimpun Partai Katolik Ngada. 

 Pada 2007, Kabupaten Ngada dimekarkan menjadi dua kabupaten, yakni Ngada dan Nagekeo. 

Bapa Alo (kanan) dan putranya, Primus Dorimulu (Foto: Dokpri). 

Bapa Alo berasal dari Nagekeo

Sebagai remaja, Bapa Alo  tidak mempunyai keleluasaan seperti teman sebaya di zamannya yang bukan pendidik. Saat itu, di luar pastor atau imam Katholik, guru di Flores adalah profesi dengan tingkat pendidikan paling tinggi di wilayah kami. 

Belum ada dokter, ahli hukum,  dan ahli dari profesi lain.  Guru tidak hanya mendidik siswa di sekolah, melainkan juga mengajar para orangtua murid agar bisa membaca dan menulis. 

Guru adalah profesi yang benar-benar  digugu dan ditiru. Keseharian mereka disorot. Mereka harus hidup sebagai peneladan.  

Predikat guru begitu melekat pada diri Bapa Alo, ayah kami yang bernama lengkap Philipus Aloysius Bisara. Philipus adalah nama yang disematkan saat ia menerima Sakramen Penguatan. Aloysius nama baptis. Sedang Bisara adalah nama keluarga. 

Etnis Toto tidak mengenal nama marga seperti di wilayah Flores Timur dan Sikka. Nama marga di kedua wilayah ini dipengaruhi oleh budaya Portugis yang masuk Flores Timur awal tahun 1500.  

Meski selama 19 tahun bekerja di luar profesi guru, Bapa Alo tetap saja disapa “Guru” oleh orang sewilayah ulayatnya, Toto. 

Etnis Toto berdiam di wilayah Nagekeo bagian timur. Wilayah etnis Toto terbentang dari pantai utara hingga pantai selatan Flores. Sebagian etnis Toto masuk wilayah Kabupaten Ende.  Orang-orang segenerasinya juga tetap menyapanya “Guru Alo”.

Seperti tertera dalam Riwayat Hidup, setelah tamat Opleiding School Voor Volks Onderwijzer (OVO),  Sekolah Pendidikan Guru Sekolah Rakyat di Ndona, Ende, 1948, Bapa Alo  menjadi guru bantu di Sekolah Rakyat (SR) enam tahun, Boawae, Kabupaten Nagekeo (dahulu Ngada) pada usia 16 tahun.  

Hanya dua dua tahun di sana, Bapa Alo kemudian dipindahkan ke Mbay, 1950. Dari Mbay Bapa Alo beralih tempat tugas ke Wekaseko. 

Hanya setahun di Wekaseko, ia mendapatkan penugasan di Jawakisa, Rendu. Hanya setengah tahun di Rendu, Bapa Alo kembali ke Wekaseko, Juni 1954.

Lama pendidikan formal Bapa Alo hanya delapan tahun. Tiga tahun SR di Wekaseko. Dua tahun di Standard  School, Mataloko dan tiga tahun di OVO, Ndona. 

Ketika Sekolah Pendidikan Guru  (SPG) dibuka di Boawae, Bapa Alo lulus ujian persamaan, 1964. Ketika menjadi PNS tahun 1974, ia mengikuti kursus singkat Pendidikan Pejabat Pamong Praja di Kupang.

Saat di SR, Bapa Alo dan rekannya dididik oleh dua orang guru, yakni  Bapak Edu Jago dari Maukeli dan Bapak Markus Ndori dari  orang Lio. Ia sangat terkesan dengan dua gurunya itu.

Bapa Alo mengikuti Komuni Pertama  sebelum masuk SR. Waktu itu, di Watuapi, ada pelajaran agama buat orang dewasa yang hendak Sambut Baru di bawah bimbingan Bapak Gerardus Gadere. 

"Saya diperkenankan ikut Komuni Pertama oleh Bapak Gedere setelah lulus tes bersama siswa Kelas II SR," jelas Guru Alo.

Di  Sekolah Standard School, Mataloko, Bapa Alo hanya belajar  dua tahun. Waktu itu, ada tes untuk siswa Kelas II  Standard  School. 

Yang mendapatkan nilai bagus boleh memilih:  menjadi imam  atau menjadi guru. Kalau menjadi imam, langsung pindah ke Seminari Mataloko. Sedang yang mau menjadi guru, langsung masuk Kelas I OVO, Ndona. Bapa Alo mengakui, rekan-rekannya di Standard School umumnya jenius.  

Beberapa nama yang sangat menonjol adalah  Bapak Yohanes Riberu, Bapak Jan Jos Botha, dan Bapak Manafe. Yohanes Riberu masuk Seminari dan menjadi imam. 

Kemudian, ia meninggalkan imamat dan menjadi dosen dan politisi Golkar di Jakarta.   Jan Botha menjadi bupati Ngada dua periode. Sedang Manafe menjadi tokoh PKI.

Bapa Alo adalah Orang Toto generasi kedua, bersama Hermanus Paga Dae, yang mengenyami pendidikan tertinggi untuk ukuran zamannya. Orang Toto pertama yang mengenyami pendidikan tertinggi  di zamannya adalah Aloysius Do Kepa.

Seperti sejumlah rekannya, Bapa Alo juga ditawari misionaris saat itu agar melanjutkan studi ke Tomohon, Sulawesi Utara.  Kakek Segudo, ayahnya, tidak setuju. Ia khawatir putra sulungnya hilang ditangkap Belanda.  

Mama Beth

Wekaseko menjadi magnet besar Bapa Alo. Karena di kampung ini, ia mendapatkan gadis pujaan yang dijodohkan orangtua kedua belah pihak. 

Kakek Segudo dan Kakek Ngange Mbongu sudah bersepakat untuk menjadi besan. Segudo adalah kepala Kampung Watuapi, sedang Ngange Bhongu adalah kepala Kampung Wekaseko. Kedua kampung berjarak sekitar 10 km.  

Dalam masa pemerintahan Hindia Belanda, kampung berada di bawah hamente. Beda dengan kepala hamente yang 100 persen ditunjuk Belanda, kepala kampung adalah hasil pemilihan warga kampung yang kemudian mendapat persetujuan dari kepala hamente dan kepala swapraja.  

Kakek Segudo sempat kecewa ketika putri Kakek Ngange yang ditaksir untuk putra sulungnya, Alo, sudah dipinang dan diperistri pria lain. Pria itu adalah sepupu sang gadis dan sahabat Bapa Alo sejak sekolah SR hingga OVO, Ndona, yakni Herman Paga Dae.

Dalam keputusasaan, Ebu  (Kakek) Segudo mendapat kabar gembira dari sahabatnya di Wekaseko. “Jangan khawatir, Teman. Saya punya satu putri cantik yang selama ini saya ‘sembunyikan’ di Ratedao,” kata Ebu Ngange. 

Ebu Segudo belum yakin, sebelum ia sendiri melihat dari dekat. Seeing is believing.

Bapa Alo, awalnya, tidak terlalu peduli dengan jodoh orangtua. Apalagi di setiap tempat tugas, ia mendapatkan banyak respons positif dari gadis-gadis cantik.  

Di Boawae, misalnya, Bapa Alo muda sempat jatuh cinta pada putri seorang guru senior, kepala sekolah. Percintaan mereka nyaris berujung pernikahan.  

Bersama putranya, Kakek Segudo ke Wekaseko. Di sana, Kakek Ngange memperkenalkan putrinya, Elisabeth Nisa, yang biasa disapa Beth. Perempuan  itu baru berusia kurang-lebih 14 tahun.  

Dalam usia yang masih belia itu, Bapa Alo harus bersabar. Mama Beth harus menyelesaikan SR dan setelah itu ia harus belajar keterampilan putri, khususnya memasak, menjahit, dan membuat aneka kue agar layak menjadi teman hidup seorang guru.  Bapa Alo ketika itu berusia 19  tahun.

“Saat pertama kali berjumpa  dengan Mamamu, spontan suara hati saya menyatakan, ini jodoh saya,” kata Bapa Alo.

Sebagai seorang terpelajar yang sudah belajar  tentang HAM dan diperkenalkan dengan pentingnya pilihan bebas, Bapa Alo sesungguhnya tak mau dijodohkan orangtua dengan perempuan yang bukan pilihannya sendiri. 

Ia ingin memilih sendiri pasangan hidup. Di Ndona, ia sudah membaca novel Siti Nurbaya yang diterbitkan pertama kali tahun 1922 oleh Balai Pustaka.

Tapi, perempuan muda yang dijodohkan orangtuanya sudah mampu merebut hatinya. Ia harus bersabar. Menunggu tiga tahun bukan perkara mudah. Mereka menikah 4 Juli  1954 ketika Mama Beth berusia 17 tahun dan Bapa Alo 22 tahun. 

Perkawinan Bapa Alo dan Mama Beth mempercepat hubungan dua klan dan suku. Kakek Segudo dan Klan Dorimulu, Suku Soy. Sedang Kakek Ngange Bhongu dari Klan Gani, Suku Bepa.  

Bapa Alo menjadi guru bantu di SR Wolowajo, Wekaseko, tahun 1953 hingga Juni 1995. Sempat enam bulan di Jawakisa, Rendu, Januari hingga Juni 1954, Bapa Alo kembali ke Wekaseko.  Selama mengajar di Rendu, Bapa Alo mempersiapkan pernikahannya.

Semua persiapan berjalan baik kecuali satu hal, yakni lagu pernikahan. Pada masa itu, hampir tidak ada stok lagu pernikahan. 

“Bapa Alo akhirnya mengarang sendiri sebuah lagu untuk pernikahannya,” kata Almarhum Daniel Dhakidae, salah seorang  muridnya di SR Wolowajo.

Dipimpin Dr Daniel Dhakidae, lagu pernikahan Bapa Alo itu dinyanyikan kembali para bekas muridnya saat Bapa Alo dan Mama Beth merayakan Pernikahan Emas, 2004, di Watuapi. 

Seorang bekas murid yang ikut bernyanyi adalah Bapak Ambros Geri yang saat itu sudah menjadi besan Bapa Alo.  Adik saya, Sirilus Abuligi, menikah dengan Yola, putri Bapak Ambros. Sirilus adalah satu dari lima putra Bapa Alo yang memilih tinggal di kampung halaman sebagai pelanjut trah Kakek Segudo.

Almarhum Daniel adalah putra pertama dari Mama Maria Theresia Poi Gani, kakak sulung dari Mama Beth. Di tangan Mama Poi, Mama Beth dididik sebagai seorang istri guru yang melayani suami, tamu, dan pastor. 

Pada masa itu, kepala sekolah semacam ada kewajiban tidak tertulis untuk melayani makan-minum pastor yang datang mengunjungi stasi.

Kakek Ngange Bhongu beristri tujuh, di antaranya Nenek Fonga, putri dari Kakek Nipado,  pahlawan Perang Watuapi, pahlawan Kunu Toto. Saat usia empat  tahun,  Nenek Fonga meninggal dunia, meninggalkan dua putrì, Mama Margaretha dan Mama Beth. 

Mama Beth kemudian dipelihara oleh  nenek kandungnya, Nago, istri Kakek Nipado yang bermukim di Ratedao. Jarak Wekaseko dan Ratedao sekitar 20 km. 

Di kampung ini, Mama Beth bertumbuh menjadi seorang remaja. Jika Wekaseko dan Watuapi terletak di pesisir pantai utara, Ratedao berada di pedalaman, Toto bagian tengah.

Nenek Nago dan kakaknya, Nenek Gade, berasal dari Kawa, di lereng Gunung Amegelu. Keduanya menjadi istri Kakek Nipado. Kawa menjadi salah satu tempat persembunyian Nipado dari kejaran tentara Belanda. 

Bersama Nenek Nago selama sekitar sepuluh tahun, Mama Beth mendapatkan banyak cerita tentang Perang Watuapi, perang yang paling menakutkan Belanda. Kakek Nipado ditembak Belanda di Kampung Nusa, disaksikan oleh istri, Ibu Nago, dan putranya, Kakek Bani Nipa.

Umumnya para guru SR pada masa lalu adalah figur multi-talenta. Mereka tidak saja mampu mengajar semua bidang studi, melainkan juga bisa mengarang puisi dan lagu serta mampu memainkan berbagai jenis olahraga.

Mantan Bupati Nagekeo Elias Jo mengaku selalu ditunjuk Bapa Alo membawakan deklamasi setiap tahun hingga tamat SR. 

“Saya pernah membaca puisi berjudul Guru Garam Masyarakat yang dikarang sendiri oleh Bapa Alo,” ujar Elias saat menyampaikan pidato sebagai wakil masyarakat menjelang penguburan Bapa Alo di Watuapi, 10 Mei 2022.

Ketika Bendung Flores May rampung dan irigasi mulai berfungsi, Bapa Alo mengarang sebuah lagu pendek, dua bait. Lagu dinyanyikan siswa SDK Dhawe.

“Aesesa negha sadha mala.
Uzu ana raya kema take mata.
(Diulang 2 x )

Oa Dewa pai mawa rani.
Dhesi tefa gena irigasi kami.”
(Diulang 2 x)

Artinya:
Sungai Aesesa sudah masuk dataran.
Ini karena kerja keras seluruh rakyat.

Mari kita berdoa kepada Allah
Agar irigasi selalu dalam lindungan-Nya.

Selain Watuapi dan Tana Toto, Bapa Alo sangat mencintai dataran Mbay. Sebagian besar hidupnya, sekitar 52 tahun,  dihabiskan di Mbay.  

Selain ada irigasi  dan saudara sedarah, Mbay adalah wilayah yang berkembang dan kini menjadi Ibukota Kabupaten Nagekeo. Sejak awal 1960-an, Bapa Alo sudah berusaha agar Mbay menjadi ibukota kabupaten.

Bisara=Bicara

Kakek Segudo memberikan nama Bisara untuk anak lelaki sulungnya. Tidak ada leluhur Segudo bernama Bisara. Ayah Segudo adalah Do, dan Do adalah putra dari Doi, dan seterusnya hingga Kebu, Rea, dan Soi. 

Soi datang dari Malaka, sekitar 20 generasi silam.

Kakek Segudo sempat berkenalan  dengan seorang pedagang dari Sulawesi Selatan bernama Bisara. Ia terkesan dengan nama Bisara karena saat menyaksikan Do Kepa diinterogasi pejabat Belanda di Ende, Kakek Segudo mendengar kata mirip Bisara.

“Apakah Anda melawan Belanda?” tanya Belanda. “Ya, Tuan,”  jawab Do Kepa.

“Kami dapat kabar,  Anda memobilisasi kekuatan senjata untuk melawan kami,” tanya Belanda.

“Tidak benar, Tuan,” jawab Do Kepa.

“Tapi, Anda bilang, Anda melawan Belanda.” desak pejabat Belanda.

“Ya, Tuan, saya melawan dan tetap melawan Belanda dengan bicara,” jawab Do Kepa.

Putra dari Kepa Biu, pahlawan Toto yang ditembak Belanda itu, dikenal sebagai jenius dan figur yang memiliki kekuatan supranatural. 

Setamat dari pendidikan di Ndona, kemungkinan besar sekolah guru Sekolah Rakyat, ia memilih kegiatan politik. Ia masuk-keluar kampung, bertemu para kepala kampung  untuk menggalang kekuatan.

Salah satu kegiatannya adalah mengumpulkan uang untuk bisa ikut Sumpah Pemuda di Batavia tahun 1928. Saat  sedang menggalang dana, ia ditangkap Belanda dan ditahan di Ende. Ikut ditahan di Ende adala Kakek Segudo dan Kakek Ngange Bhongu. 

Atas permintaannya, kedua kakek kami dilepaskan Belanda. Sedangkan Do Kepa dibuang ke Jawa, dan kemungkinan selanjutnya dipindahkan ke Kaledonia Baru.

Kakek Segudo ingin sekali agar putranya kelak seperti Do Kepa yang jago bicara.  Ia pun menamai anaknya dengan Bisara. Ketika putranya dibaptis, ia mencari nama orang kudus  yang sama dengan nama baptis  Do Kepa, yakni Aloysius. Jadilah nama Aloysius Bisara. Ketika menerima Sakramen Krisma, Bapa Alo mendapatkan nama tambahan Philipus.

Doa Kakek Segudo terkabul.  Putranya menjadi politisi tingkat kabupaten dan menjadi orator yang cukup memukau publik di zamannya. Sebagai yunior  dari Kanis Parera (Kanis Pari), tokoh Partai Katolik, Singa Podium, Bapa Alo banyak belajar orasi dan debat. Saat menyaksikan Bapa Alo berkampanye Partai Katolik, ada yang nyeletuk, “Benar-benar ini Bisara jago bicara.”

Bapa Alo pernah bercerita tentang salah satu pegalaman mengesankan saat ia sebagai Ketua Partai Katolik Ngada bentrok dengan Golkar yang didukung pemerintah dan polisi setempat. 

Pengalaman itu terjadi pada pemilu 3 Juli  1971, pemilu terakhir multi-partai sebelum fusi. Pemilu 1971 diikuti oleh sembilan parpol, termasok Golkar, yang oleh jurkamnya diperkenalkan  sebagai partai bukan parpol.

Mengetahui kuatnya Partai Katolik di Ngada, partai dengan lambang Rosario, Golkar melancarkan kampanye menyerang. Sejumlah “atttacking” pun disiapkan, di antaranya poster di berbagai sudut kota Bajawa dan di semua  kecamatan dan desa berbunyi, “GOLKAR BEKERJA NYATA, PARPOL HANYA MIMPI.”

Slogan seperti itu dianggap lumrah oleh Bapa Alo sebagai  ketua Partai Katolik Ngada. Tapi, yang dilawannya adalah sikap aparat kepolisian dan pemerintah yang tidak netral. Setiap gerakan ketua partai dan pengurusnya selalu diintai dan dihalangi polisi dan hansip. Hal yang sama tidak terjadi pada pemimpin dan pengurus Golkar.

Bapa Alo pun melancarkan serangan balik. Di Jl Kartini, Bajawa, jalan paling ramai di kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada dipasang poster Partai Katolik berukuran besar.  “PARTAI POLITIK BERJUANG MELAHIRKAN KEMERDEKAAN INDONESIA, SEDANGKAN GOLKAR TINGGAL MENIKMATINYA.” Partai Katolik resmi hadir di Indonesia tahun 1923.

Rupanya serangan balik itu cukup mematikan dan membuat pengurus Golkar tidak  bisa tidur. Bapa Alo dipanggil Polres Bajawa dan meminta poster itu dicopot.

“Mengapa judul poster Partai Katolik  begitu meremehkan Golkar?” tanya Kapolres.

“Golkar bilang parpol hanya mimpi, maka bunyi poster kami itulah jawabannya. Kalau Bapak bilang saya salah, maka saya akan perintahkan seluruh anggota saya di seluruh Ngada  untuk tidak memberikan suara pada pemilu kali ini,” jawab Bapa Alo, tenang, sama sekali tidak gentar terhadap provokasi Kapolres.

Kapolres pun menatap Bapa Alo dengan mata nanar. Keduanya saling menatap.

“Lebih baik, kami parpol, tidak ikut pemilu. Biar Golkar menang mudah di Ngada,” tambah Bapa Alo.

“Di luar dugaan, Bapak Kapolres malah meminta maaf kepada saya. Dia memohon agar saya tidak melakukan itu.  Bapak Kapolres berdiri dan memeluk saya dan memohon maaf,” kenang Bapa Alo.

Bapa Alo pun meminta agar poster Golkar yang berbunyi, Golkar bekerja nyata dan parpol hanya mimpi,” agar  dicabut. Jika itu dilakukan, Partai Katolik akan mencabut posternya.

“Deal!”  Keduanya berpelukan.

Seperti doa ayahnya, Kakek Segudo, Bapa Alo Bisara sudah mengalahkan lawan dengan bicara.  

Bapa Alo tak pernah menyelesaikan masalah dengan kekerasan fisik. Dalam berinteraksi dengan pihak lain, ia tak pernah  menggunakan kata-kata kasar. Sepanjang yang kami anak-anak tahu, ia tak pernah melakukan kekerasan verbal. Kalau pun ada pihak lain yang tersinggung, maka itu lebih karena keterusterangan dia dalam menyampaikan fakta.

“Abis” yang Tiada Habis

Tiada hari tanpa membaca dan mendengar radio. Itulah kebiasaan Bapa Alo hingga usia 90. Pada era sebelum TV, ia rutin mendengar siaran berita Radio Australia dan Radio Makassar.  

Ketika kualitas berita TV meningkat, Bapa Alo rajin menonton siaran berita. Demi mendengar siaran radio, battery yang sudah lama disambung-sambung dengan karton.

Saat menjadi guru muda di Boawae, 1948-1950,  Bapa Alo  menjadi penulis rutin di Majalah Bentara, Ende, dengan nama samaran Ebulobo. Karena isi tulisan selalu menyerang pemerintah, ia diminta untuk berhenti menulis. Pada akhirnya, nama samarannya diketahui juga.

Karena tidak tahan untuk menulis kritik sosial, Bapa Alo menulis lagi dengan nama samaran baru, yakni “Abis” yang dicantumkan di akhir tulisan.   

Tulisan dengan nama “Abis” membuat marah  pemerintah setempat.   “Kok, tulisan si Abis ini tidak habis-habis. Muncul terus setiap Bentara edisi baru,” gerutu pejabat pemerintah setempat.

Bapa Alo adalah pembaca HU Kompas hingga usia pensiun. Koran ini memiliki tempat tersendiri di hatinya. Sebagai pengurus Partai Katolik, ia ikut menggalang dukungan masyarakat Ngada agar Kompas diterbitkan. 

Sebagai salah satu syarat izin terbit, Kompas harus didukung oleh orang Katolik Flores dan itu ditunjukkan lewat tanda tangan.

Ketika ada koran lokal, Pos Kupang  dan Flores Pos, ia berhenti langganan Kompas. Ia selalu membaca sambil mengeluarkan suara. 

Rekan-rekan di sampingnya cukup mengatupkan mata sambil tertidur sambil mengikuti berita yang dibacakan Bapa Alo. Di saat pensiun, ia membaca koran sambil diselingi komentar lucu.

Sejak muda, Bapa Alo rajin mencatat sejarah hasil wawancaranya dengan para pelaku. Ia menulis tentang Kunu Toto dan suku-suku lengkap dengan “tana pu’u muku doka dea” atau tanah ulayat. Bapa Alo adalah keturunan Suku Soy dengan tana pu’u muku doka dea Tondu-mbe’e  sampai Maidewa.

Kemenangan Digo Wigho dan Racakana dalam perang besar melawan Suku Poma yang disokong Bianawanda, jagoan asal Sumba, adalah hasil kolaborasi Suku Dodo dengan sekitar tujuh suku besar di Tana Toto. 

Ketujuh suku itu, antara lain, adalah Suku Pobo, Suku Bepa, Suku Ndize, dan Suku Soy. Sebagai imbalan, ketujuh suku, masing-masing, mendapatkan tana pu’u muku doka dea.

Suku Soy bertugas menjaga tapal batas wilayah Toto-Tana Rea dengan etnis Lio di bagian timur.  Dalam Perang Digo Wigho-Racakana, Suku Soy bertugas sebagai penyedia logistik dan mengungsikan perempuan dan anak-anak.  

Setelah perang besar, Digo menjaga Kawasan Toto, sedang dan Raca (Raja) menjaga Kawasan Rea (Jea).  Namun, keduanya tetap satu. Ketika Belanda hendak menaklukan Flores, Toto-Tana Rea dipecah. Toto masuk wilayah Sapraja Nagekeo, sedang Tana Rea masuk Swapraja Ende. 

Hingga saat ini, sebagian Suku Soy masuk Kabupaten Ende. Mereka mendiami wilayah Kamubheka hingga Paumere, Nangapanda.

Ketika Jalan Trans-Flores dibangun Belanda, seluruh rakyat dipaksa kerja rodi  dengan peralatan seadanya. Di bawah pimpinan Nipado, perintah Belanda ditolak. Nipado juga menolak kewajiban membayar pajak. Meletuslah Perang Watuapi tahun 1916-1917.  Inilah pertempuran paling berdarah. Banyak pasokan Belanda yang tewas.  

Perlawanan Nipado sangat merepotkan Belanda karena mampu menggerakkan perlawanan  di berbagai wilayah di Flores, timur hingga barat.

Sengketa perbatasan Ngada dan Ende pada awal 1970-an berakhir setelah Bapa Alo  menunjuk garis yang menjadi tapal batas. Atas izin anggota Suku Soy, Bapa Alo memenuhi permintaan Bupati Ngada untuk menentukan tapal  batas. Pihak Ende menerima  garis batas yang ditunjukkan Bapa Alo.

Di samping suratkabar, Bapa Alo rajin membaca Alkitab. Pada masa pensiun, ia rutin membaca Mazmur dan dalam sehari melakukan beberapa doa wajib, di antaranya Doa Kerahiman pukul 15.00 Wita.

Kasih Itu Sabar

Ada dua kata kuno Yunani yang menjelaskan tentang waktu. Kedua kata itu adalah chronos dan kairos. Chronos mengacu pada  perjalanan waktu atau kronologi. 

Manusia lahir, sekolah, bekerja, menikah, hingga meninggalkan adalah kronologi. Pertemuan demi pertemuan dalam urutan waktu adalah koronologi. 

Sedang kairos adalah kesan yang diperoleh dalam perjalanan hidup, dalam interaksi  dengan sesama, dalam perjumpaan demi perjumpaan dalam perjalanan waktu.  

Pengalaman hidup yang sekadar kronos akan hilang ditelan waktu. Tidak ada yang dikenang.  Sedangkan pertemuan yang memberikan kesan yang baik dan  mendalam akan selalu dikenang sampai akhir hayat. Itulah kairos.

Dalam 90 tahun hidupnya, Bapa Alo sudah banyak berkarya dan berinteraksi dengan sesama. Banyak nilai kehidupan yang diajarkan kepada kami anak dan cucunya, bukan hanya lewat kata-kata, melainkan juga contoh hidup. 

Ada kairos yang membuat kami tetap ingat Bapa Alo hingga akhir hayat kami. Dia sudah tiada di bumi fana, namun nilai-nilai yang diajarkan kepada kami tetap abadi.

Bapa Alo selalu mengulang pesannya kepada kami anak dan cucu. Bahwa jika ingin hidup sukses, banyak sahabat, pikiran tenang,  tidur nyenyak, dan sehat jiwa-raga, kita harus bisa melaksanakan tiga hal: jujur, adil, dan sabar.

“Tiga hal itu suilt dilaksanakan oleh setiap orang. Namun, dari ketiganya, yang paling sulit adalah sikap sabar. Jika seseorang sudah  bisa sabar, peluang sukses akan sangat besar,” kata Bapa Alo.  

Pesan itu pula yang diulanginya pada perjumpaan kami yang terakhir, November 2021 di rumahnya di Mbay, Nagekeo.

Antara harapan dan kenyataan selalu ada jarak. Kadang, jaraknya sangat jauh.  Di itu pentingnya kesabaran. Tanpa kesabaran, orang tidak bisa tenang, marah-marah, berlaku kasar, mengeluh, menyalahkan, dan bertindak ceroboh.

Hasil sebuah usaha membutuhkan proses panjang, bahkan sangat panjang. Kita harus sabar menekuni sebuah pekerjaan yang acap melewati proses panjang. Tanpa kesabaran, kita mudah terjerumus dalam tindakan yang keliru yang justru menjauhkan kita dari hasil yang ingin dicapai.

Setiap usaha tidak selamanya membuahkan hasil. Kegagalan dalam hidup justru jauh lebih banyak dibandingkan kesuksesan. Jika tidak sabar, yang kita tuai hanya ke kekecewaan demi kekecewaan. Hidup kita akan jauh dari bahagia. 

Orang yang sabar menjadi teman kerja, teman diskusi, dan teman bermain yang  menyenangkan. Teman hidup yang sabar akan membuat pasangannya bahagia. Betapa pentingnya kesabaran itu!  

Dalam deskripsi tentang Kasih, kata “sabar” disebutkan Paulus sebagai unsur pertama. Pada bagian terakhir deskripsinya kata “sabar” diulang kembali.  

“Kasih itu sabar,
kasih itu murah hati,
ia tidak cemburu. 
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 
Ia tidak melakukan yang tidak sopan 
dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. 
Ia tidak pemarah  dan tidak menyimpan kesalahan   orang lain. 
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 
Ia menutupi segala sesuatu, 
percaya segala sesuatu, 
mengharapkan segala sesuatu, 
sabar menanggung segala sesuatu.”
(I Korintus 13:4-7)

Banyak ayat Alkitab yang menekankan pentingnya sikap sabar. “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”  (Kolose 3:13)

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (Yakobus 1: 19-20)

Nilai lain yang diwariskan Bapa Alo adalah optimisme. Sebagian besar perjalanan hidup Bapa Alo adalah “via dolorosa”, jalan penderitaan. Tapi, jalan penderitaan itu dilewati dengan senyum, tanpa mengeluh dan menyalahkan diri sendiri  dan sesama.  

Salah satu masa tersulit dalam hidup kami adalah ketika PPN Serat, perusahaan kapas,  ditutup karena Bandung Flores May jebol tahun 1965. BUMN lainnya, PPN Tebu juga ditutup.  Dua perkebunan ini dibentuk oleh Frans Seda saat ia menjadi Menteri Perkebunan, 1964-1966.

Atas permintaan Frans Seda, Ketua Partai Katolik Pusat,  1961-1968, Bapa Alo tidak bisa menolak ketika dimintai untuk memimpin PPN Serat.  Bapa Alo berhenti dari profesi guru dan mulai memimpin BUMD kapas. 

Posisi sebagai  Kepala SDK Dhawe yang sudah diemban  sejak Agustus 1961 ditinggalkan pada tahun 1965. Kami berpindah dari Danga ke Okisato, Lape. Lokasi perkebunan kapas ada di wilayah Lape.

Ketika PPN Serat ditutup, pada tahun 1970 kami kembali ke Kampung Watuapi. Bapa Alo bukan lagi kepala PPN Serat dan bukan pula guru. 

Ia harus bekerja sebagai petani dan nelayan untuk membiayai anak-anaknya.  Periode 1970-1973 adalah masa kelam.  Bapa Alo tidak bisa menjadi petani. Ia rajin menanam, tapi tidak terbiasa mencangkul, membuat pagar, dan menyiangi rumput. Semua pekerjaan tani mengandalkan keluarga.

Bapa Alo lebih senang ke laut. Dengan pukat sekitar 50 meter dan sampan yang dimiliki  ia ke laut untuk menangkap ikan. Hasil tangkapan sekadar untuk makan, tidak cukup untuk dijual. 

Saat liburan, saya dan Dokter Don Bosco, rajin ke laut untuk menangkap ikan. Kami lego jangkar dan tidur di sampan. Dalam satu malam, kami dua kali memeriksa pukat dan sekali di pagi hari.

Ketika tidak ada ikan yang tersangkut di jaringan  pukat, pada pagi hari Bapa Alo berenang sambil membawa galah untuk menghalau ikan.  Ia pandai berenang dan tidak takut melintasi perairan tempat lalu-lalang buaya.

Pada tahun 1968-1970, punyakit antrax menyerang wilayah Ngada bagian utara. Hampir setiap hari ada kerbau Kakek Segudo yang mati karena antrax. Di padang Watuapi, bangkai kerbau bertebaran. 

Kakek Segudo pada masanya memiliki banyak kerbau dan domba. Biaya sekolah saya dan Dokter Don umumnya dari menjual kerbau.

Dari kecil, rumah kami selalu penuh dengan anak sekolah dari kampung ayah dan ibu.  Pada dekade 1960-an hingga 1970-an,  SMP di Kecamatan Aesesa hanya ada di Mbay.  Memasuki dekade 1980-an, SMA mulai dibuka di Mbay.  Saudara dari desa menitipkan anak mereka di rumah Bapa Alo.

Hidup dengan banyak orang di rumah sudah menjadi keseharian di rumah Bapa Alo. Kami anak-anak sudah terbiasa membagi dari kekurangan. 

Pada tahun 1969, Dokter Don masuk SMP Seminari, Mataloko. Sedang saya dua tahun kemudian.

Semua gelombang kehidupan dihadapi Bapa Alo dengan optimistis. Dalam pergaulan, ia tak pernah merasa inferior dengan rekan-rekannya yang memiliki kondisi ekonomi lebih baik. Ia menikmati hidup, termasuk kepahitan.

Mengakhiri “Pertandingan”

Minggu, 8 Mei 2022, Bapa menghembuskan nafas terakhir disaksikan dua anaknya, Walde dan Khasmir. Ia kembali ke Rumah Bapa dengan tenang.

Seumur hidupnya, hanya sekali Bapa Alo masuk rumah sakit, yakni Juli 2021 ketika Covid-19 jenis Delta melonjak tajam.  Ia tidak pernah merepotkan kami, anak dan cucunya.

Usia manusia terbatas, tapi karya dan jasa seseorang  bisa melampaui umur. Bapa Alo telah pergi. Tapi, jasa, perbuatan baik, dan nilai-nilai yang diajarkannya tetap kami kenang. 

Kiranya, semua orang yang pernah berinteraksi dengan Bapa Alo mendapatkan  kesan mendalam dan positif yang tidak lekang oleh waktu.  

Meski ia tidak lagi menjadi guru sejak 1966, Bapa Alo tetap disapa “Guru Alo” oleh masyarakat dan orang yang sudah lama mengenalnya. 

Dan, rasanya sapaan itulah yang paling pas buat dia. Melihat nilai-nilai yang dipegang  dan contoh hidupnya, Bapa Alo layak disapa dan dikenang sebagai seorang guru.

Bagi kami anak dan cucu, Bapa Alo adalah “maestro”, pemimpin yang telah membuka jalan menuju peradaban baru. Harta tertinggi baginya adalah pendidikan. 

Selama menjadi ayah, ia telah berusaha keras agar setiap anaknya mendapatkan pendidikan yang baik. Investasi terpenting adalah human investment dan  investasi manusia yang paling utama adalah pendidikan.

Tak ada gading yang tak retak. Kiranya semua kesalahan Bapa Alo dimaafkan.

Mama Beth sudah terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta, Januari  2018. Kiranya mereka berdua sudah masuk persekutuan para kudus.

Kiranya seperti St Paulus, Bapa Alo bisa berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik , aku telah mencapai garis akhir   dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7)

Bapa Alo, Selamat jalan!
Kami anak dan cucù akan selalu merindukanmu.
Kiranya, Allah Yang Mahapengasih membukakan pintu Surga bagimu.

Jakarta, 21 Mei 2022
Primus Dorimulu

RIWAYAT HIDUP BAPA  ALO BISARA

Nama                                : Ph Alo Bisara.
Tempat/tgl lahir             : Watuapi, 15 Maret 1932.
Meninggal                        : Mbay, 8 Mei 2022 dalam usia 90 tahun.

Riwayat Keluarga:

1. Ayah kandung:  Almarhum Paulus Segu Do.
2. Ibu kandung: Almarhumah Agnes Netu Nago.
3. Saudara kandung, 3 orang: 
* Almarhumah Chaterina Rio.
* Almarhumah Margaretha Masi. 
* Michael Kuwado.

4. Nama istri:  Almarhumah Elisabeth Igo Nisa Ngange (Mama Beth).
5. Pekerjaan istri: ibu rumah tangga.
6. Tempat/ tanggal  perkawinan: Wakaseko, 4 Juli 1954.

Anak kandung:  8 orang:

1.  Almarhumah Theresia Belu.
2.  Johanes Don Bosco Do.
3.  Primus Dorimulu.
4.  Sirius Abuligi.
5.  Waldetrudis Sueni.
6.  Almahruma Maria Goreti Flora Nago.
7. Engelbertus Loyma.
8. Kasimirus Dhoy.
Catatan: Bapa Alo dan Mama Beth mempunyai anak angkat, yakni Maria (Mia) Muke.

Jumlah menantu: 7 orang

1. Eduarda Yayik Pawitra Gati
2. Anastasia Aida Ningsih
3. Fabiola Sarlota Odja Owa
4. Almahrum Paulus Setu Seda
5. Almarhum Pieter Towa
6. Elisabeth Putu
7. Florentina Nena

Jumlah Cucu: 12 orang

1. Dionisius Laksmana Bisara Putra.
2. Baltazar Bimo Bisara
3. Donata Asta Netu Nisa.
4. Priscillia Pritha Bisara.
5. Reiner Rekado Bisara.
6. Elisabeth Amalia Rio.
7. Rikhardus Do Bisara.
8. Maria Theresia Nisa Bisara
9. Yoseph Soa Seda
10. Fransiskus Xaverius Seda
11. Tania Bisara.
12. Carolina Toa.

Jumlah cicit:  5 orang

1. Andrea Robin Dogati.
2. Danella Pascal Dogati.
3. Chatarina Alexandria Cahaya Pase.
4. Stephanie Arniel Bisara.
5. Aloysius Bisara Junior.

Riwayat Pendidikan:

1. Sekolah Rakyat (SR) Wolowajo : Agustus 1941-Juni 1944 (3 tahun).
2. Standard School Mataloko.       : 1944-1946 (2 tahun).
3. OVO Ndona.                                 :  1946-1948 (2 tahun).

Riwayat Pekerjaan

* Guru bantu SR 6 tahun di Boawae I. dari 1/8/1948 -  31/12/1950 (2 thn 6 bln).
* Guru bantu SR 3 tahun  Mbay dari 1/1/1951 – 31/7/1952 (2thn).
* Guru bantu SR 3 tahun  Wolowajo dari 1/8/1952 – 31/12/1953 (1 thn 6bln).
* Guru bantu SR  Rendu (Djawakisa) dari 1/1/1954 – 31/7/1954 (7bln).
* Guru bantu SR Wolowajo dari 1/8/1954 – 31/7/1955.
* Kepala SDK Watuapi dari 1/8/1955 – 31/7/1961.
* Kepala SDK Dhawe dari 1/8/1961 – 31/7/1965.
* Kepala PPN Serat Mbay 1/8/1965 – 31/7/1969
* Kepala Perkebunan Kapas, 1966-1969 (Perkebunan Kapas tidak bisa dilanjutkan karena Bendung Flores Mei pecah).
* Petani dan nelayan, 1970-1973.
* Sekretaris camat, 1974-1976.
* Tahun 1976 Pegawai Pemda Ngada, Bagian Horta, kemudian diangkat menjadi Kepala Sub-Bagian Perundang-undangan hingga  1986.
* Pensiun di Mbay, 1986 hingga akhir hayat.

Riwayat Organisasi

1949 – 1950 : Ketua Muda Katolik Nagakeo.
1954 – 1964 : Ketua Persatuan Guru Katolik Aesesa.
1957 – 1970 : Ketua Partai Katolik wilayah Aesesa.
1971 – 1974 : Ketua Partai Katolik Kabupaten Ngada.
Juli 1959-Maret  1974 : Anggota DPRD II Ngada:
April 2009 – 2014.       : Ketua PWRI cabang Kabupaten Nagakeo.
1991 – 2009 : Ketua Persatuan Wredetama Republik Indonesia (PWRI) Ranting  Aesesa.

Mbay,  13  Mei 2022. ***