Jagung Titi dari Larantuka: Renyahnya Rasa, Hangatnya Kenangan Flores

Minggu, 14 Juni 2026 14:42 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

titi.jpg
Jajanan lokal 'Jagung Titit di Pasar Tradisional Jln Ekasapta, Kota Larantuka -Flores Timur (Silvia)

Oleh: Silvia S.

PERJALANAN  ke sebuah daerah sering kali dikenang lewat panorama alamnya. Orang mengingat gunung yang menjulang, laut yang membiru, atau jalan-jalan yang berliku di antara perbukitan.

 Namun, tidak jarang, kenangan yang paling lama bertahan justru datang dari hal-hal sederhana: aroma masakan yang mengepul dari dapur, secangkir kopi hangat di pagi hari, atau rasa jajanan tradisional yang dijumpai di sudut pasar.

Demikian pula dengan perjalanan kami ke Kota Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur yang akrab dijuluki Kota Renha.

Sabtu pagi, 13 Juni 2026, langkah kami menyusuri lorong-lorong Pasar Tradisional di Jalan Ekasapta, Kota Larantuka. 

Hiruk-pikuk tawar-menawar bercampur dengan aroma ikan segar, rempah-rempah, serta aneka kue tradisional yang tersusun di atas meja-meja kayu para pedagang.

Di tengah keramaian itu, perhatian kami tertuju pada butiran-butiran pipih berwarna kuning keemasan yang tersusun rapi dalam berbagai kemasan. 

Baca juga:

Ada yang dibungkus plastik bening, ada pula yang dikemas cantik menggunakan anyaman daun lontar.

"Ibu, silakan dicoba jagung titi ini. Renyah dan gurih," sapa seorang penjual dengan senyum ramah.

Sapaan sederhana itu menjadi pintu masuk menuju salah satu kisah kuliner paling otentik dari Flores.

Pangan Lokal yang Menolak Dilupakan

Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur  jagung titi bukanlah makanan asing. Hampir setiap suku mengenal panganan ini. 

Ia hadir dalam berbagai kesempatan: sebagai camilan keluarga, bekal perjalanan, bahkan suguhan bagi tamu.

Namun, di tengah gempuran makanan instan dan camilan modern yang terus membanjiri pasar, keberadaan jagung titi perlahan mulai terdesak. Tidak banyak daerah yang masih mempertahankan proses pembuatannya secara tradisional.

Menurut Maria Herin, salah seorang penjual di Pasar Tradisional Ekasapta, Flores Timur menjadi salah satu wilayah yang hingga kini tetap setia merawat tradisi tersebut.

"Yang masih tekun memproduksi jagung titi sekarang adalah perempuan-perempuan dari Pulau Adonara. Hampir semua yang dijual di sini didatangkan dari sana," ujarnya.

Hal senada disampaikan Mama Paulina Uran, pedagang lainnya.

Menurutnya, di balik kesederhanaan bentuk jagung titi, tersimpan ketekunan dan keterampilan yang diwariskan lintas generasi.

"Anak-anak sekarang banyak yang suka makanan kemasan. Tapi perempuan-perempuan Adonara masih terus membuat jagung titi seperti dulu," katanya.

Mungkin itulah sebabnya jagung titi lebih dari sekadar camilan. Ia adalah cara masyarakat menjaga ingatan kolektif tentang tanah kelahiran.

Proses pembuatan ‘Jagung Titi’ (Foto: Istimewa -File Floresku.com)
Dititi dengan Ketepatan dan Kesabaran

Proses pembuatan jagung titi sesungguhnya tidak rumit. Namun, ia membutuhkan ketelitian, kecepatan, dan pengalaman.

Pertama, jagung pilihan disangrai di atas wajan panas hingga matang sempurna. Setelah itu, saat biji jagung masih berada pada suhu yang tepat, jagung harus segera dititi atau dipipihkan menggunakan batu khusus atau alat pemukul dari kayu.

Dari proses "meniti" inilah nama makanan ini berasal.

"Kuncinya ada pada waktu," tutur Mama Paulina.

"Terlalu cepat dititi, jagungnya hancur. Kalau terlambat, jagung menjadi keras dan susah dipipihkan. Jadi harus pas. Butuh kecepatan sekaligus rasa."

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun, sesungguhnya tersimpan filosofi mendalam. Tidak semua hal bisa dikerjakan hanya dengan tenaga. 

Ada pekerjaan yang memerlukan intuisi, kesabaran, dan pengalaman yang terasah bertahun-tahun.

Baca juga:

Setiap butir jagung titi adalah hasil dari keterampilan tangan-tangan yang telah belajar membaca waktu dengan cermat.

Renyah, Gurih, dan Bersahabat dengan Dompet

Lalu, bagaimana rasanya?

"Kalau soal rasa, tidak perlu diragukan lagi," sela Marta, pedagang lainnya.

"Renyah dan gurih. Paling enak dinikmati sambil minum kopi atau teh hangat."

Memang, cita rasa jagung titi tidak menawarkan sensasi berlebihan. Tidak ada taburan keju, cokelat, atau aneka perisa buatan. Yang hadir justru rasa asli jagung yang dipertahankan apa adanya.

Kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatannya.

Menariknya lagi, harga panganan ini tetap sangat terjangkau.

Jagung titi dijual menggunakan takaran tradisional yang disebut rantang. Satu rantang dengan ukuran sekitar satu kilogram dibanderol sekitar Rp10 ribu.

Murah, mengenyangkan, sekaligus kaya nilai budaya.

Bekal Perjalanan Orang Flores Timur

Ada satu keistimewaan lain yang membuat jagung titi begitu dicintai masyarakat Flores Timur: daya simpannya yang luar biasa.

"Kalau disimpan dalam wadah tertutup rapat, jagung titi bisa bertahan sampai setahun tanpa kehilangan rasa gurihnya," kata Maria Herin dengan penuh keyakinan.

Karena kelebihan itulah, hingga era 1990-an, jagung titi menjadi bekal wajib bagi banyak keluarga Flores Timur saat melakukan perjalanan jauh.

Mudah dibawa, tidak cepat basi, dan cukup mengenyangkan.

Sebelum berbagai makanan kemasan mudah ditemukan seperti sekarang, jagung titi telah lebih dulu menjadi "makanan praktis" masyarakat Flores.

Ia hadir menemani perjalanan dengan kapal laut, perjalanan darat antarkampung, bahkan bekal anak-anak ke sekolah.

Setiap Gigitan Adalah Jalan Pulang

Jagung titi dapat dinikmati dengan berbagai cara. Ada yang menyantapnya langsung sebagai camilan. Ada pula yang mencampurkannya dengan kacang tanah atau gula merah.

Namun, bagi banyak orang Flores, cara terbaik menikmatinya tetap sederhana: ditemani secangkir kopi hitam panas atau teh manis hangat.

Dalam setiap gigitannya, tersimpan lebih dari sekadar rasa renyah dan gurih. Ada kenangan tentang dapur kayu yang mengepul pada pagi hari. Ada tangan-tangan ibu dari Adonara yang bekerja cekatan sejak fajar. Ada pula kisah tentang masyarakat yang menghargai hasil bumi mereka sendiri.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan serbuan camilan pabrikan, jagung titi menjadi pengingat bahwa kekayaan kuliner Nusantara tidak selalu lahir dari kemewahan.

Kadang-kadang, ia berasal dari sebutir jagung, sebuah wajan panas, dua tangan yang sabar, dan tradisi yang dijaga dengan cinta.

Mungkin karena itulah, ketika kami menemukannya di Pasar Tradisional Ekasapta, Larantuka, rasanya bukan sekadar bertemu jajanan lama.

Kami seperti berjumpa kembali dengan sepotong kecil Flores Timur,  yang tetap renyah dalam ingatan, hangat dalam kenangan, dan tak pernah benar-benar hilang.***