pariwisata
Jumat, 30 Oktober 2026 17:10 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengintensifkan promosi destinasi wisata Indonesia untuk menarik lebih banyak wisatawan asal Tiongkok.
Pada 2026, pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan dari Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 1,559 juta hingga 1,726 juta kunjungan.
Dalam strategi promosi tersebut, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu destinasi unggulan yang diperkenalkan kepada pasar pariwisata Tiongkok bersama Bali.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia selama Januari-Agustus 2026 mencapai 1,054 juta kunjungan. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 905.002 kunjungan.
Sementara itu, sepanjang 2025, wisatawan Tiongkok tercatat menyumbang 1,34 juta kunjungan dan menempati posisi keempat sebagai pasar wisatawan mancanegara terbesar Indonesia, setelah Malaysia, Australia, dan Singapura.
Untuk memperluas pasar tersebut, Kemenpar menggelar kegiatan Familiarization Trip (Famtrip) pada 19-25 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan tujuh agen perjalanan dan operator tur dari sejumlah kota besar di Tiongkok, yakni Beijing, Guangzhou, Hangzhou, Nanjing, Shenzhen, dan Shanghai.
Program tersebut menggandeng China Southern Airlines sebagai mitra maskapai resmi yang melayani penerbangan langsung Guangzhou-Denpasar.
Selama berada di Labuan Bajo, para peserta Famtrip diajak menjelajahi sejumlah destinasi unggulan di kawasan Taman Nasional Komodo menggunakan kapal pinisi.
Destinasi yang dikunjungi meliputi Pulau Kelor, Pulau Padar, Pink Beach, dan Pulau Komodo. Para agen perjalanan Tiongkok tersebut mendapatkan pengalaman langsung mengenai keindahan alam, wisata bahari, serta daya tarik perjalanan menggunakan kapal pinisi.
Selain kunjungan destinasi, Kemenpar juga memfasilitasi pertemuan bisnis (business matching) dengan 14 pelaku industri pariwisata Indonesia. Pertemuan ini melibatkan berbagai sektor, mulai dari maskapai penerbangan, penyedia akomodasi, hingga agen perjalanan.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) serta Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat.
Melalui pengalaman langsung tersebut, para agen perjalanan dan operator tur Tiongkok diharapkan dapat mengembangkan paket wisata Indonesia yang sesuai dengan karakteristik dan preferensi wisatawan dari negara tersebut.
Baca juga:
Namun, promosi Labuan Bajo juga perlu memperhatikan kebijakan pengendalian kunjungan di Taman Nasional Komodo.
Sejak 1 April 2026, kuota kunjungan ke Pulau Padar, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo, termasuk 23 titik penyelaman di sekitarnya, ditetapkan maksimal 1.000 orang per hari atau 365.000 orang per tahun.
Kuota tahunan tersebut telah terpenuhi sejak Agustus 2026. Untuk mengakomodasi permintaan wisatawan, Balai Taman Nasional Komodo kemudian membuka tambahan kuota sedikitnya 500 orang per hari selama September-Desember 2026 dengan memanfaatkan kuota yang tidak terpakai pada bulan-bulan sebelumnya.
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan di Labuan Bajo, para peserta Famtrip melanjutkan perjalanan ke Bali.
Pulau Dewata dipilih karena merupakan salah satu pintu masuk utama wisatawan Tiongkok ke Indonesia, didukung konektivitas penerbangan langsung dengan sejumlah kota di negara tersebut.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kemenpar, Yulia, mengatakan kegiatan Famtrip merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat promosi pariwisata Indonesia di pasar Tiongkok.
Ia optimistis kegiatan tersebut dapat memperluas jejaring kerja sama dengan pelaku industri perjalanan Tiongkok sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, khususnya Labuan Bajo dan Bali.
Bagi Labuan Bajo dan Flores, upaya promosi ini menjadi peluang untuk memperluas penetrasi pasar wisatawan Tiongkok. Tantangannya adalah memastikan peningkatan promosi berjalan seiring dengan kesiapan layanan, konektivitas, kualitas pengalaman wisata, serta pengelolaan destinasi yang berkelanjutan. (Leoni/Tari). ***