Tuhan
Sabtu, 16 Mei 2026 18:15 WIB
Penulis:Redaksi

HOMILI, Minggu Paskah VII A: Komsos ke 60: Kis 1:12-14; 1Pet 4:13-16; Yoh 17:1-11a)
Oleh Pater Gregor Nule, SVD
Sebelum mengakhiri amanat perpisahanNya Yesus berdoa bagi para murid-Nya. Alasannya adalah karena Yesus akan segera meninggalkan mereka di bumi dan kembali ke Rumah Bapa.
Yesus juga menyadari bahwa para murid-Nya akan mengalami banyak tantangan dan kesulitan.
Yesus menyerahkan mereka kepada pemeliharaan Allah Bapa. Yesus minta supaya Bapa memelihara mereka dalam nama-Nya sendiri.
Memelihara para murid dalam nama Bapa, artinya memelihara mereka dalam lingkaran kasih. Sebab Allah adalah kasih. Dan, semua orang yang hidup dalam pemeliharaan Allah hendaknya saling mengasihi seorang kepada yang lain.
Santo Yohanes berkata, “Allah adalah kasih, dan siapa saja yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”, (1Yoh 4:16).
Yesus juga minta kepada Bapa agar melindungi para murid dari kuasa dunia, yaitu dari musuh-musuh dan segala yang jahat.
Para murid berasal dari Allah dan bukan dari dunia, dan bisa saja digoda dan digoncang oleh kuasa dunia, yakni dosa dan kejahatan.
Ketika para murid menerima Firman Allah dan percaya kepada-Nya, kendatipun mereka masih tinggal di dunia, mereka terpisah dari dunia.
Sebab Firman yang mereka terima telah mengubah hati, hidup, sikap, serta cara pikir dan perilaku mereka. Dan, mereka juga telah dikuduskan dalam kebenaran.
Itulah sebabnya, dunia membenci, memusuhi dan menolak mereka.
Setelah bangkit dari alam maut dan ketika hendak naik ke surga Yesus minta para muridNya agar segera kembali ke Yerusalem untuk berdoa menantikan datangnya Roh Kudus.
Maka para murid sungguh setia pada perintah Yesus. “Dengan sehati mereka bertekun dalam doa bersama dengan beberapa wanita serta Maria, ibu Yesus…..”, (Kis 1:14). Akibatnya mereka tetap hidup dalam sukacita dan bersatu dalam ikatan persekutuan sebagai saudara dalam iman.
Yesus juga mendoakan kita sebab Yesus sungguh mencintai kita. Maka Yesus minta supaya kita saling mendoakan sebagai wujud cinta di antara kita.
Tanda bahwa kita saling mencintai yakni bahwa kita saling peduli seorang terhadap yang lain, dan kita saling mendoakan. Kita berdoa untuk kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan sesama.
Yesus juga menghendaki persatuan di antara kita sehingga dapat bertahan dan mampu menghadapi aneka tantangan, betapa pun beratnya.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi dunia dewasa ini adalah kemajuan pesat di bidang teknologi dan media digital, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Maka pada hari ini ketika Gereja merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 60, Paus Leo XIV ajak kita untuk merenungkan tema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”.
Paus mau menyadarkan kita bahwa kemajuan teknologi dan media digital, khususnya kecerdasan buatan, di satu pihak, bisa menawarkan banyak hal positif, kemudahan dalam berkomunikasi, memfasilitasi pekerjaan dan usaha-usaha kita, serta bisa menjadi sarana pewartaan Injil yang handal.
Tetapi, di pihak lain, jika kita tidak bijaksana maka kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan bisa merugikan dan merendahkan martabat kita sebagai manusia.
Kita bisa saja memanfaatkan kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk mencari keuntungan diri, dan sebaliknya, menjadikan orang lain sebagai korban dan sasaran penghinaan.
Atau kita menjual harga diri dan martabat kita atau orang lain untuk kesenangan sesaat atau keuntungan ekonomi.
Karena itu, Paus mengajak kita untuk memanfaatkan kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan guna mewartakan Injil, menghadirkan kerajaan Allah di dunia, merawat wajah kita dan sesama, serta mendengarkan suara yang lemah dan terpinggirkan.
Mari kita berkomitmen untuk setia mempromosikan nilai-nilai keadilan, kebenaran, solidaritas, kekeluargaan dan persaudaraan di tengah dunia, yang digegoroti oleh perpecahan, permusuhan, kebohongan, penipuan, pemalsuan, dan macam-macam kebobrokan lainnya sebagai akibat penggunaan media komunikasi digital dan kecerdasan buatan yang tidak bijaksana dan egoistis.
Kita mesti bangga menjadi saksi Kristus dan mengikuti pesan Rasul Petrus, “Berbahagialah kamu, jika dinista karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
Janganlah ada di antara kamu yan harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri, penjahat atau pengacau. Tetapi, jika kamu harus menderita sebagai orang Kristen, janganlah malu”, (1Pe 4:14-16).
Semoga Tuhan Yesus mendoakan kita selalu! Amen.
Kewapante, 12 Mei 2024. ***