Medkes Hadirkan Solusi Terintegrasi untuk Brand Kosmetik Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 15:57 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

(Kiri ke Kanan) Direktur Operasional PT Medkes Global Prima (Medkes) Shella Huliselan, Partner Beauty World Indonesia dr. Samuel Stemi, dan General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia Irine, pada acara panel talk show “Unlocking Premium Brand Success” di Cosmobeauté Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang, Kamis (01/10/2026).  Sinergi Medkes dan Beauty World Indonesia menggabungkan kapabilitas pengembangan formulasi dan produksi dengan pengalaman distribusi, retail, dan pengembangan pasar untuk mendukung pengembangan brand kosmetik. Melalui tim R&D dan tenaga ahli di bidang formulasi, Medkes membantu pelaku usaha menerjemahkan kebutuhan pasar menjadi produk yang dikembangkan secara lebih terarah, dengan memperhatikan kualitas serta kesiapan regulasi.
(Kiri ke Kanan) Direktur Operasional PT Medkes Global Prima (Medkes) Shella Huliselan, Partner Beauty World Indonesia dr. Samuel Stemi, dan General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia Irine, pada acara panel talk show “Unlocking Premium Brand Success” di Cosmobeauté Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang, Kamis (01/10/2026). Sinergi Medkes dan Beauty World Indonesia menggabungkan kapabilitas pengembangan formulasi dan produksi dengan pengalaman distribusi, retail, dan pengembangan pasar untuk mendukung pengembangan brand kosmetik. Melalui tim R&D dan tenaga ahli di bidang formulasi, Medkes membantu pelaku usaha menerjemahkan kebutuhan pasar menjadi produk yang dikembangkan secara lebih terarah, dengan memperhatikan kualitas serta kesiapan regulasi. (redaksi)

JAKARTA  - Pertumbuhan industri kecantikan di Indonesia membuat pelaku usaha perlu semakin memperhatikan kesiapan produk sebelum dipasarkan. Tidak cukup hanya mengandalkan formulasi dan kualitas, produk juga harus dikembangkan dengan memperhatikan ketentuan serta regulasi yang berlaku. Bagi pemilik brand, tantangan pengembangan produk kini mencakup bagaimana memastikan produk memiliki standar yang sesuai sekaligus memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan, sebelum produk dipasarkan.

Melihat kebutuhan tersebut, PT Medkes Global Prima (Medkes) memperkuat perannya sebagai mitra maklon yang mendukung pengembangan brand kosmetik dari sisi formulasi, produksi, hingga kesiapan regulasi. Kapabilitas tersebut menjadi bagian dari pembahasan Medkes dalam panel talk show “Unlocking Premium Brand Success” di Cosmobeauté Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang, Kamis, 1 Oktober 2026.

Direktur Operasional PT Medkes Global Prima, Shella Huliselan, mengatakan kesiapan terhadap regulasi perlu menjadi bagian dari proses pengembangan produk sejak awal, bukan baru dipikirkan setelah produk selesai diproduksi. “Ketika ingin membangun sebuah brand, pemilik brand tidak hanya perlu memikirkan produknya mau seperti apa, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat memenuhi persyaratan yang berlaku. Karena itu, kami di Medkes berupaya mendampingi dari awal agar proses pengembangan produk dapat berjalan lebih terarah,” ujar Shella.

Direktur Operasional PT Medkes Global Prima (Medkes), Shella Huliselan, pada acara panel talk show “Unlocking Premium Brand Success” di Cosmobeauté Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang, Kamis (01/10/2026).

Medkes memperkuat perannya sebagai mitra maklon yang mendukung pengembangan brand kosmetik secara end-to-end, mulai dari pengembangan formulasi dan produksi hingga kebutuhan legalitas dan kesiapan regulasi. Shella menekankan pentingnya aspek regulasi diperhatikan sejak awal proses pengembangan produk agar produk dapat memenuhi persyaratan yang berlaku dan dikembangkan secara lebih terarah.

Menurut Shella, pendampingan tersebut mencakup proses pengembangan formulasi, produksi, hingga berbagai kebutuhan legalitas, termasuk pendaftaran HAKI, notifikasi BPOM, dan sertifikasi sesuai karakteristik produk. “Pelaku usaha tidak perlu memulai semuanya dari nol. Di Medkes, kami dapat mendampingi mulai dari pengembangan formulasi, proses produksi, hingga kebutuhan legalitas seperti pendaftaran HAKI, notifikasi BPOM, dan sertifikasi sesuai karakteristik produknya. Dengan begitu, pemilik brand dapat lebih fokus mengembangkan konsep dan produknya, sementara proses teknisnya kami bantu siapkan agar lebih terarah,” ujar Shella.

Dari sisi manufaktur, Medkes memiliki tiga fasilitas produksi yang masing-masing didukung standar sesuai kategori produknya, yaitu Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Berbeda dengan fasilitas manufaktur yang menggabungkan beberapa kategori produksi dalam satu fasilitas, Medkes menyiapkan fasilitas yang terpisah untuk produksi kosmetik, obat, dan obat tradisional. Saat ini, fasilitas produksi obat dan obat tradisional berada dalam tahap akhir penyempurnaan dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Kesiapan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya Medkes untuk mendukung pengembangan produk dengan kebutuhan dan standar produksi yang berbeda.

Kapabilitas ini kemudian makin diperkuat melalui sinergi Medkes dengan Beauty World Indonesia dalam membangun ekosistem yang terintegrasi di industri kecantikan. Medkes berperan dalam pengembangan formulasi dan produksi, sementara Beauty World Indonesia memiliki pengalaman di sisi distribusi, retail, serta pengembangan pasar. Sinergi ini memungkinkan pelaku usaha mendapatkan dukungan yang lebih menyeluruh. 

(Kiri ke Kanan) Partner Beauty World Indonesia dr. Samuel Stemi, Direktur Operasional PT Medkes Global Prima (Medkes) Shella Huliselan, dan General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia Irine, pada acara panel talk show “Unlocking Premium Brand Success” di Cosmobeauté Indonesia 2026, ICE BSD, Tangerang, Kamis (01/10/2026).

Menjawab kebutuhan pasar, Medkes menghadirkan tiga fasilitas produksi yang masing-masing didukung standar sesuai kategori produknya, yaitu Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Berbeda dengan fasilitas manufaktur yang menggabungkan beberapa kategori produksi dalam satu fasilitas, Medkes menyiapkan fasilitas yang terpisah untuk produksi kosmetik, obat, dan obat tradisional. Saat ini, fasilitas produksi obat dan obat tradisional berada dalam tahap akhir penyempurnaan dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Kesiapan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya Medkes untuk mendukung pengembangan produk dengan kebutuhan dan standar produksi yang berbeda.

Seiring berkembangnya industri kecantikan, ekosistem pelaku usaha kosmetik juga semakin beragam. Pengembangan brand kini tidak hanya dilakukan oleh perusahaan kosmetik, tetapi juga oleh profesional di bidang kecantikan, termasuk dokter dan klinik yang melihat peluang untuk menghadirkan produk berdasarkan kebutuhan pasien dan pengalaman klinis.

Partner Beauty World Indonesia dr. Samuel Stemi, mengatakan pengalaman berinteraksi langsung dengan pasien dapat menjadi salah satu dasar dalam mengidentifikasi kebutuhan produk. Namun, menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi sebuah brand membutuhkan dukungan dari berbagai kompetensi, mulai dari formulasi dan produksi hingga aspek legalitas dan pengembangan bisnis. “Ketika kita punya ide untuk membuat satu brand, kita tentu mencari produsen yang tidak hanya bisa memproduksi skincare, tetapi juga bisa mendukung dari sisi perencanaan formulasi dan aspek lainnya. Jadi pengembangan brand-nya bisa dilakukan dengan lebih terarah,” katanya.

Menurutnya, keberadaan ekosistem yang terintegrasi juga memungkinkan dokter untuk lebih fokus pada keahlian klinis, sementara pengembangan brand dapat didukung oleh mitra dengan kompetensi yang sesuai. “Medkes menjadi salah satu pilihan yang menarik karena tidak hanya mendukung dari sisi produksi, tetapi juga dapat memberikan dukungan yang lebih menyeluruh hingga ke aspek pemasaran,” ujar dr. Samuel.

Pengembangan brand tidak berhenti ketika produk telah siap diproduksi dan memenuhi persyaratan yang berlaku. Bagi brand yang sedang tumbuh, tantangan berikutnya adalah membangun akses ke konsumen dan menentukan kanal yang tepat untuk mengembangkan penjualan, seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis.

General Manager Sales & Marketing B2C Beauty World Indonesia, Irine, mengatakan pengalaman di sisi distribusi dan retail menjadi bagian penting dalam melengkapi proses pengembangan sebuah brand. “Brand yang sudah siap secara produk tetap perlu memiliki strategi untuk masuk ke pasar. Karena itu, pengalaman di sisi distribusi, retail, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen menjadi pelengkap dari kemampuan produksi,” ujar Irine.

Beauty World Indonesia telah memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di industri kecantikan, termasuk dalam distribusi berbagai kebutuhan industri kecantikan serta pengembangan kanal penjualan kepada konsumen. Dalam beberapa tahun terakhir, Beauty World juga melihat perubahan perilaku konsumen yang semakin kuat ke kanal digital. “Karena itu, ekosistem menjadi penting agar pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi, tetapi dapat dilanjutkan hingga bagaimana produk tersebut dikembangkan dan diterima oleh pasar,” tutup Irine.

Tulisan ini telah tayang di jogjaaja.com oleh Redaksi pada 02 Okt 2026