perdagangan
Minggu, 18 Oktober 2026 16:23 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Oleh Maxi Ali Perajaka*
BARANGKALI banyak yang belum tahu, salah satu sumber tertulis paling penting tentang Flores Barat dan Tengah pada pertengahan abad ke-19 berasal dari J.P. Freijss.
Freijss sendiri adalah seorang pedagang, penjelajah, penulis Belanda dan sekretaris serikat zending Protestan yang melakukan pelayaran ke wilayah Lombok hingga Flores antara tahun 1854 hingga 1856. Tujuan perjalanannya ialah menjajaki peluang perdagangan dan pemetaan wilayah bagi kepentingan pemerintah kolonial.
Salah satu laporan J. P. Freijss yang paling menarik berjudul Mangarai en Lombok, in 1854–1856 , diterbitkan dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (Jurnal Bahasa, Geografi, dan Etnologi Hindia Belanda), Jurnal ilimah Seri Baru IX, Jilid III diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1860.
Jurnal ini merupakan salah satu wadah utama publikasi pengetahuan kolonial mengenai wilayah Nusantara, khususnya daerah-daerah yang saat itu masih relatif sedikit dikenal oleh pemerintah Hindia Belanda.
Catatan Freijss memiliki arti istimewa karena memuat salah satu deskripsi versi orang Belanda paling awal mengenai Flores.
Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya sendiri, Freijss mewariskan informasi berharga mengenai kondisi geografis, struktur sosial dan politik lokal, jaringan perdagangan, praktik perbudakan, hubungan antarsuku dan pola hidup masyarakat pantai dan pegunungan Flores tahun 1850-an.
Kisah Freijss tentang Manggarai
Freijss menulis bahwa ia pernah singgah di Nangaramoe atau Nanga Ramo, sebuah kawasan pesisir di wilayah selatan Manggarai yang pada masa itu menjadi salah satu pintu masuk penting menuju pedalaman Flores barat dan tengah.
Di tempat inilah ia berinteraksi langsung dengan masyarakat Manggarai dan mulai mengamati pandangan hidup mereka.
Freijss juga mencatat sebuah percakapan menarik ketika ia bertanya kepada beberapa orang Manggarai apakah mereka percaya kepada Tuhan?
Orang-orang Manggarai itu menjawab bahwa mereka tidak mengetahui tentang Tuhan karena belum pernah melihat-Nya. Jawaban tersebut menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki konsep religius yang berbeda dari pemahaman Kristen versi Protestan.
Bagi Freijss, percakapan itu menjadi alasan bagi orang Belanda memperkenalkan ajaran Kristen kepada penduduk asli Manggarai. Freijss mencatat, sesudah dia seorang misionaris Protestan bernama Lenz sempat tinggal beberapa lama di wilayah tersebut untuk mengajarkan ajaran Kristen kepada warga lokal.
Catatan ini memperlihatkan bagaimana pada pertengahan abad ke-19 orang Flores bagian barat pernah menjadi arena perjumpaan antara tradisi lokal dan misi Kristen Protestan.
Namun di balik sudut pandang misioner yang melekat pada diri Freijss, tersimpan pula informasi etnografis yang sangat berharga mengenai masyarakat setempat.
Catatan Freijss di Flores Tengah
Ketika bergerak lebih ke timur, Freijss memasuki wilayah yang disebutnya sebagai Flores bagian tengah. Ia membedakan kawasan ini dari Manggarai atau Flores bagian barat berdasarkan kondisi alam, bahasa, dan karakter penduduknya.
Menurut pengamatannya, wilayah Flores Tengah dihuni oleh tiga kelompok utama, yaitu orang Rokka di bagian tengah selatan, orang Langa di bagian barat laut, dan orang Wogo di bagian timur laut.
Kelompok-kelompok tersebut digambarkan sebagai masyarakat yang tangguh dan berani. Freijss mencatat bahwa orang Bima pernah berusaha menaklukkan Langa, sementara orang Ende mencoba menaklukkan Rokka.
Namun semua upaya itu gagal. Bahkan di sepanjang pesisir selatan, masyarakat setempat dikenal berhasil menghalau para perompak laut dan pemburu budak yang selama berabad-abad mengancam berbagai wilayah di Flores.
Keterangan ini penting karena menunjukkan bahwa masyarakat pedalaman Flores bukanlah kelompok pasif yang hanya menjadi korban kekuatan luar.
Sebaliknya, mereka memiliki kemampuan mempertahankan wilayah dan kebebasan mereka sendiri. Berkat kemampuan itu pula, menurut Freijss, jumlah penduduk mereka tetap besar dan permukiman mereka tersebar hingga ke daerah pesisir.
Stereotip Kanibalisme
Salah satu bagian paling menarik dari catatan Freijss adalah keterangannya mengenai stereotip “kanibalisme” yang saat itu sering dilekatkan pada masyarakat pedalaman Flores Tengah.
Informasi ini ia terima dari orang Bima dan Ende. Mereka menggambarkan orang Rokka sebagai pemakan manusia (kanibal) yang kejam. Bahkan beredar cerita bahwa orang asing, orang tua lanjut usia, atau anggota keluarga yang sakit parah akan dibunuh untuk disantap dagingnya.
Namun Freijss kemudian mulai meragukan cerita-cerita tersebut. Keraguan itu muncul setelah ia memperoleh keterangan dari orang Keo dan terutama setelah bertemu langsung dengan seorang pria Rokka yang mampu berbahasa Melayu dengan baik.
Pria asal Rokka tersebut dengan tegas menyangkal tuduhan bahwa bangsanya adalah pemakan daging manusia.
Sebaliknya, pria itu menjelaskan bahwa masyarakat Rokka dikenal sangat setia terhadap sahabat. Persahabatan bahkan disahkan melalui ritual pertukaran darah dengan cara melukai telapak tangan dan saling mengisap darah sebagai simbol persaudaraan.
Kesaksian ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa sebagian cerita tentang “kanibalisme” kemungkinan merupakan cerita palsu stereotip yang dibangun oleh kelompok pesaing atau oleh para pedagang pesisir yang memiliki hubungan buruk dengan masyarakat pegunungan.
Freijss juga mencatat bahwa masyarakat Rokka menyebut Tuhan Yang Mahatinggi dengan nama Ata Ga’e. Informasi ini sangat menarik karena menunjukkan keberadaan konsep ketuhanan asli yang telah berkembang sebelum masuknya agama-agama dunia.
Dalam konteks sejarah budaya Flores, penyebutan Ata Ga’e dapat menjadi petunjuk penting mengenai sistem kepercayaan tradisional masyarakat Flores Tengah.
Selain mencatat aspek kepercayaan, Freijss juga menggambarkan kehidupan ekonomi masyarakat pegunungan. Mereka menanam padi, jagung, jewawut, ubi, kapas, dan nila. Lereng-lereng gunung dipenuhi kebun dan ladang, sementara daerah pesisir ditumbuhi kelapa dan pinang.
Gambaran ini menunjukkan bahwa Flores Tengah pada masa itu merupakan kawasan agraris yang produktif dan mampu menopang populasi yang cukup besar.
Pertemuan dengan orang Keo dan Tonggo di Borong
Sebelum mencapai Rokka di Flores Tengah, Freijss sempat singgah di Borro (kini, Borong- Manggarai Timur).
Borro ketika itu merupakan pusat perdagangan penting yang menghubungkan wilayah Manggarai dengan Keo, Tonggo, dan Noemba serta Ende.
Di tempat inilah berbagai komoditas seperti beras, buah kelapa, minyak kelapa, kain tenun, dan hasil bumi lainnya diperdagangkan.
Di Borro Freijss bertemu dengan sejumlah pedagang berasl dari dari Keo dan Tonggo
Dari pertemuan itu, Freijss menggambarkan para pedagang Keo sebagai penduduk pegunungan Flores Tengah bagian timur yang ramah, berambut keriting, dan terkenal karena kemampuan menenun kain ikat berwarna biru dengan motif putih.
Pengamatan ini menjadi salah satu catatan Eropa paling awal mengenai tradisi tenun ikat Keo yang hingga kini masih menjadi identitas budaya masyarakat Keo (sekarang, Nagekeo).
Kemudian, dari orang-orang Tonggo, Freijss memperoleh informasi tentang seorang tokoh bernama Anakoda Salee.
Tokoh ini merupakan pemimpin pesisir selatan di wilayah Flores tengah yang adalah keturunan Makassar. Dia berhasil membangun pengaruh politik di wilayah Tonggo.
Dari orang-orang Tonggo yang dijupainya, Freijss mendpat informasi bahwa masyarakat Tonggo telah terpecah menjadi dua kelompok besar.
Kelompok pertama adalah masyarakat pesisir yang telah memeluk Islam dan mengakui kepemimpinan Anakoda Salee.
Kelompok kedua adalah masyarakat Tonggo pegunungan yang masih mempertahankan kepercayaan tradisional mereka. Hubungan kedua kelompok tersebut sering kali diwarnai konflik.
Bahkan Freijss mencatat adanya kewajiban penyerahan budak dari masyarakat pegunungan kepada kelompok pesisir sebagai bentuk upeti tahunan.
Lebih jauh lagi, Freijss mendapat informasi bahwa perdagangan budak masih berlangsung aktif di Ende, Tonggo, khususnya di Pasar Maunura, dan wilayah sekitarnya.
Budak-budak diambil dari daerah pegunungan Flores, juga dari Timor, Solor dan Sumba untuk kemudian dijual di pasar budak di Sumbawa, Lombok, dan Bali.
Fakta ini menunjukkan bahwa Flores pada abad ke-19 tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung ke dalam jaringan perdagangan manusia yang luas di kawasan Nusa Tenggara dan Indonesia Timur.
Keterangan ini memperlihatkan bahwa wilayah Tonggo pada pertengahan abad ke-19 berada dalam proses transformasi sosial yang kompleks.
Pengaruh perdagangan maritim, Islamisasi pesisir, dan jaringan kekuasaan Makassar telah menciptakan perbedaan yang semakin jelas antara masyarakat pesisir dan masyarakat pedalaman.
Dengan demikian, catatan J. P. Freijss bukan sekadar laporan perjalanan, tetapi lebih daripada itu sebagai ‘jendela’ baru untuk melihat dan memahami kondisi kehidupan masyarakat Manggarai (Flores) dan yaitu Rokka, Langa, dan Wogo (Flores Tengah) -yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Ngada - juga Keo dan Tonggo yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Nagekeo. ***