Tuhan
Jumat, 13 Maret 2026 22:30 WIB
Penulis:redaksi

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
Dalam.hidup sehari-hari sering kita bertemu dengan dua tipe manusia. Di satu pihak, ada orang yang tidak banyak bicara. Apa saja yang.dilakukannya tidak pernah ia sampaikan kepada siapa pun.
Tetapi, di pihak lain, ada orang tertentu yang selalu omong.banyak dan sampaikan kepada siapa pun apa saja yang ia lakukan, terutama kebaikan, keberhasilan dan jasa-jasanya.
Perikop Injil Luk 18: 9-14 menampilkan seorang Farisi dan seorang pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah.
Orang.Fsrisi berdiri lalu berdoa dengan penuh kebanggaan. Ia sebutkan semua hal besar yang dilakukannya. Ia berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah.
Ia juga bukan pezina, bukan perampok, bukan orang lalim, dan bukan seperti si pemungut cukai. Ia sebutkan semuanya dengan bangga sambil memukul dada.
Sebaliknya, si pemungut cukai berdiri jauh di belakang, tidak berani mengangkat mukanya dan sambil menepuk dadanya sebagai tanda penyesalannya ia berdoa mohon belas kasihan.
Si pemungut cukai berkata, 'Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini', (Luk 1:13). Ia merasa diri hancur dan malu mengangkat mukanya. Dia tidak bisa berkata lain kecuali mohonkan belas kasihan Allah.
Yesus menanggapi sikap dan isi doa kedua orang itu dengan berkata bahwa si pemungut cukai dibenarkan Tuhan, sedangkan orang Farisi tidak.
Sebab orang yang merendahkan diri akan ditinggikan, sedangkan orang yang meninggikan diri akan direndahkan. Allah mengetahui semua yang tersembunyi di dalam hati manusia.
Sebagai pengikut Yesus kita belajar untuk membangun hati yang lemah lembut, sederhana dan tidak sombong.
Kita tidak perlu bangga berlebihan lalu mewartakan ke mana-mana semua hal besar yang atau jasa-jasa yang telah kita lakukan.
Kita juga tidak boleh meremehkan orang lain, lalu menganggap mereka sebagai orang yang tidak laku atau tidak berjasa apa pun.
Tuhan mengetahui semua yang kita lakukan dan tidak kita lakukan, serta membalasnya dengan adil. Tuhan itu sungguh luar biasa.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!
Kewapante, 14 Maret 2026. ***