Manusia
Senin, 15 Juni 2026 09:16 WIB
Penulis:Redaksi

Oleh Pater Gregor Nule SVD
Manusia cenderung membalas kebaikan dengan kebaikan, dan kejahatan dengan kejahatan. Dinamika ini disebut adil, pantas, wajar dan umumnya berlaku dalam hidup manusia sepanjang waktu.
Dalam Injil Mat 5:38-42 Yesus mengingatkan hukum talion, "Mata ganti mata, dan gigi ganti gigi" atau hukum balas dendam.
Tetapi, Yesus ingatkan agar kita tidak mempraktekkannya. Tidak boleh membalas dendam atau membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, kita mesti saling mengampuni, serta membalas kejahatan dengan kebaikan.
Sebab ketika menyimpan dendam dalam hati maka hati, pikiran dan seluruh diri jadi rusak, negatif dan kacau-balau. Maka tindakan membalas kejahatan dengan kejahatan akan memungkinkan terbangunnya jaringan kejahatan yang rumit tanpa akhir.
Karena itu, satu-satunya jalan untuk memutuskan jaringan kejahatan adalah perjuangan dan kerelaan untuk mengampuni dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Pengampunan yang sejati lahir dari hati yang penuh belaskasihan dan mengasihi. Ketika seseorang jatuh ke dalam kesalahan dan kejahatan ia tidak boleh dicap negatif dan jahat.
Sebaliknya ia diberi kesempatan untuk sadari kelemahan, kerapuhan dan kesalahannya serta berusaha untuk bertobat. Satu-satunya jalan yakni mengampuninya dan tidak membalas kejahatannya dengan kejahatan.
Ketika kita membalas kejahatan dengan kejahatan maka kita juga bukan orang baik dan benar. Kita tidak jauh berbeda dengan orang jahat karena kita telah dengan sadar, tahu dan mau melakukan kejahatan yang sama.
Yesus minta kita untuk membangun hati yang bersih, tulus dan positif. Yesus juga minta kita untuk memiliki kerelaan untuk mengampuni atas dasar kasih dan belaskasihan.
Dengan demikian kita dengan tulus mampu membalas kejahatan dengan kebaikan .
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!
Kewapante, 15 Juni 2026