Tuhan
Selasa, 04 Agustus 2026 06:56 WIB
Penulis:Redaksi

Oleh Pater Gregor Nule SVD
Sering orang bijak menasihati agar dalam hidup sehari-hari kita tidak bertindak laksana seorang wasit di lapangan bola kaki. Seorang wasit berjalan ke sana ke mari sambil memimpin jalannya pertandingan dan memperhatikan tindakan para pemain.
Apabila terjadi pelanggaran, peluit dibunyikan dan hukuman dijatuhkan. Tidak ada diskusi, penjelasan atau permohonan maaf.
Perikop Injil Mat 15:1-2.10-14 melukiskan tentang protes orang-orang Farisi dan ahli Taurat terhadap tindakan para murid Yesus. Mereka dipersalahkan karena melanggar aturan Hukum Taurat, yakni makan tanpa membasuh tangan sebelumnya.
Teguran itu sebenarnya secara tidak langsung diarahkan juga kepada Yesus. Sebab pada prinsipnya seorang Guru bertanggungjawab terhadap perilaku para murid termasuk kesalahan mereka
Tetapi, Yesus balik mengkritik orang-orang Farisi dan ahli Taurat melalui orang-orang lain, dengan berkata,".....Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang melainkan yang keluar dari mulut orang, itulah yang menajiskan orang",(Mat 15:11).
Yesus mau menegaskan bahwa semua yang masuk ke dalam tubuh termasuk makanan tidak membuat seseorang najis atau kotor. Sebaliknya, yang keluar dari dalam tubuh, khususnya dari hati akan menajiskan orang lain.
Hati yang kotor, jahat, penuh iri hati dan kebencian menjadi dapur dan asal segala kejahatan. Orang demikian selalu bersikap dan berpikir negatif. Tidak ada sesuatu yang baik di matanya.
Segala sesuatu yang berasal dari hati yang kotor, negatif dan najis akan berakibat negatif dan buruk bagi orang lain yang menjadi sasaran kata-kata dan pembicaraannya.
Orang bisa saja menjadi sakit hati, berkecil hati dan tidak bersemangat. Apalagi jika penilaian negatif itu berasal dari orang yang punya jabatan, kedudukan dan kuasa tertentu.
Karena itu, Yesus mengingatkan kita agar membangun hati yang bersih dan positif. Sebab hati yang baik dan positif akan berbuahkan hal-hal baik dan positif melalui sikap, kata-kata dan tindakan.
Orang yang berhati baik dan positif mampu memahami orang lain, tidak cepat menghakimi dan penuh belas kasihan. Ia bijaksana dalam kata dan tindakan. Ia berpikir sebelum berkata atau bertindak.
Mari kita belajar menjadi orang yang baik dan positif. Kita tidak menjadi wasit dan hakim bagi sesama. Kita bisa membantu orang yang keliru atau bersalah dengan teguran yang tidak menyakitkan hati.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!
Kewapante, 04 Agustus 2026.