warloka
Selasa, 24 Februari 2026 20:09 WIB
Penulis:redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) - Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) DPW Labuan Bajo menyelenggarakan kegiatan Geo Camp pada 2–3 Februari 2026 di Kampung Pesisir Warloka.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata minat khusus di Flores yang menekankan pendekatan riset, edukasi, dan pelestarian budaya lokal.
Ketua PGWI DPW Labuan Bajo, Saverinus Guardi, saat diwawancarai media ini di Labuan Bajo, Selasa 24/02/ 2026, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaboratif untuk memperkuat narasi destinasi berbasis data lapangan.
"Kami ingin membangun pariwisata yang tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengetahuan, identitas, dan nilai hidup masyarakat," ungkapnya.
Warloka dipilih sebagai lokasi perdana dalam tema besar “Jelajah Peradaban Flores” karena memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang masih hidup hingga kini. Secara geografis, kampung pesisir ini berada di jalur pelayaran strategis Flores.
Ia mengatakan, berdasarkan laporan penelitian tahun 1979 yang dilakukan bersama Museum Nasional Indonesia, ditemukan berbagai keramik asing di wilayah Warloka.
"Artefak tersebut berasal dari Cina pada masa Dinasti Sung hingga Ming (abad ke-10–17), Vietnam (Annam) abad ke-14–15, serta Thailand abad ke-14–17," tuturnya.
Baca juga:
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa Warloka pernah menjadi bagian dari jaringan perdagangan maritim internasional di Nusantara.
Selain Saverinus, Alexandro Hatol anggota PGWI Labuan Bajo, menyebut Warloka layak diposisikan sebagai salah satu pelabuhan purba Nusantara.
"Jejak arkeologis ini menunjukkan bahwa Warloka bukan sekadar kampung nelayan, melainkan simpul perjumpaan antarbangsa sejak berabad-abad lalu,” jelasnya.
Pendekatan ini dinilai penting untuk memperkaya interpretasi sejarah bagi wisatawan, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan nilai warisan budaya yang dimiliki.
Geo Camp tidak sekadar kegiatan berkemah, melainkan metode eksplorasi lapangan yang menggabungkan kajian sejarah, geowisata, dokumentasi visual, serta interpretasi destinasi.
Program ini melibatkan pemandu wisata senior, fotografer, videografer, penulis, dan pegiat seni yang tergabung dalam PGWI untuk menggali potensi lokal secara langsung dan mendalam.
Pasar Barter, Warisan Ekonomi Solidaritas
Selain itu, salah satu fokus eksplorasi Geo Camp adalah Pasar Barter Warloka yang berlangsung setiap Selasa pagi pukul 05.00–08.00 WITA.
Tradisi ini mempertemukan masyarakat pesisir dan pegunungan dalam sistem pertukaran hasil laut dan hasil kebun tanpa transaksi uang. Ikan segar dan ikan kering ditukar dengan sayuran, pisang, jeruk, serta umbi-umbian. Sistem ini berjalan atas dasar kepercayaan dan kesepahaman nilai.
Bagi PGWI, praktik barter tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi tradisional, melainkan cerminan solidaritas ekologis antara wilayah laut dan gunung.
"Dalam konteks pariwisata edukatif, pasar barter dapat menjadi media pembelajaran tentang sistem ekonomi lokal yang berkelanjutan dan berbasis komunitas," jelas Sandro.
Namun, PGWI juga mencermati adanya pembangunan fasilitas fisik pasar di sekitar dermaga. Modernisasi dinilai perlu dikelola secara bijak agar tidak menghilangkan nilai sosial dan keaslian praktik barter sebagai warisan budaya hidup.
Situs Megalitik dan Struktur Adat yang Masih Hidup
Geo Camp juga mengeksplorasi Situs Megalitik Batu Meja yang masih dihormati masyarakat setempat.
Situs ini diyakini sebagai ruang pertemuan leluhur dan menjadi bagian penting dari sistem adat yang dipimpin oleh Tua Golo.
Keberadaan situs megalitik memperlihatkan kesinambungan sejarah Warloka, dari masa prasejarah hingga era perdagangan maritim. Hal ini memperkuat posisi Warloka sebagai ruang pertemuan peradaban yang berlapis.
Observasi lapangan juga turut mencatat fenomena alih bahasa yang spontan dalam aktivitas pasar barter. Percakapan dapat berganti dari Bahasa Indonesia atau Manggarai ke Bahasa Bima maupun Bajo.
Fenomena sosio-linguistik ini mencerminkan Warloka sebagai titik temu berbagai etnis seperti Manggarai, Bima, dan Bajo.
"Keberagaman bahasa menjadi bukti hidup interaksi maritim yang telah berlangsung selama berabad-abad," Tendesnya.
Membangun Pariwisata Berbasis Identitas
Melalui Geo Camp ini, PGWI menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pariwisata Flores yang tidak semata berorientasi pada kuantitas kunjungan, tetapi pada kualitas narasi dan penguatan identitas lokal.
"Warloka, dalam perspektif "Jelajah Peradaban Flores", dipandang bukan hanya sebagai kampung pesisir, melainkan mosaik budaya maritim, pelabuhan purba, dan ruang pertemuan peradaban yang masih hidup hingga hari ini," tutup nya.
Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan destinasi lain di Flores: berbasis riset, menghormati warisan budaya, serta mendorong pariwisata yang edukatif dan berkelanjutan. (Oktavianus Dalang). ***