Senyum Terakhir di Jembatan Maut Cunca Wulang

Selasa, 26 Mei 2026 07:39 WIB

Penulis:Redaksi

jembatan.jpg
Jembatan Gantung Cunca Wulang yang ambruk saat dua turis Austria terjatuh dan tewas. (Dok. Polres Manggarai Barat)

Oleh Silvia S.

Pagi itu, langit Cunca Wulang tampak teduh. Kabut tipis menggantung di sela pepohonan Mbeliling, sementara aliran sungai di bawah tebing batu mengalir jernih seperti biasa.

Burung-burung hutan bernyanyi pelan, menyambut para pelancong yang datang mencari keindahan Flores yang selama ini mereka impikan.

Di antara para wisatawan itu, ada Juergen dan Astrid.

Pasangan asal Austria itu tiba sekitar pukul 09.20 Wita di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Desa Cunca Wulang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Mereka datang bukan sekadar untuk melihat air terjun. Mereka datang untuk menikmati hidup, mengabadikan cinta, dan membawa pulang kenangan dari tanah eksotis di timur Indonesia.

Dengan langkah santai, keduanya berjalan ditemani pemandu lokal bernama Muhardin. Setelah registrasi di pos tiket selesai, mereka mulai trekking menuju air terjun yang terkenal dengan tebing batu dan aliran sungainya yang memesona.

Tak ada yang tampak ganjil pagi itu.

Setibanya di jembatan gantung kayu yang membentang di atas sungai berbatu, Juergen dan Astrid berhenti sejenak. Mereka tampak bahagia. 

Astrid tersenyum sambil merapikan langkahnya, sementara Juergen menoleh ke belakang dan meminta Muhardin merekam mereka.

Baca juga:

“Mereka bilang, ‘Tolong ambil video kami dari belakang saat kami menyeberang jembatan ini,’” kenang Muhardin dengan suara bergetar.

Sebuah permintaan sederhana. Sebuah momen kecil yang ingin dijadikan kenangan.

Mereka berjalan beriringan di atas jembatan kayu itu. Perlahan. Hangat. Tenang. Barangkali tak pernah terlintas dalam benak keduanya bahwa langkah-langkah itu akan menjadi langkah terakhir dalam hidup mereka.

Baru sekitar sepuluh meter berjalan, suara keras tiba-tiba memecah keheningan hutan.

Kraakkk!

Kayu penyangga di bawah jembatan patah. Dalam hitungan detik, struktur jembatan gantung itu ambruk. Juergen dan Astrid terjatuh bebas dari ketinggian sekitar sepuluh meter menuju dasar sungai berbatu.

Tubuh mereka menghantam batu besar di dasar jurang.

Tak ada kesempatan menyelamatkan diri.

Muhardin hanya bisa terpaku sebelum akhirnya berlari panik menuju pos tiket meminta pertolongan warga. Namun semuanya sudah terlambat. Kedua wisatawan itu meninggal seketika di lokasi kejadian.

Kematian Juergen dan Astrid bukan hanya menyisakan duka bagi keluarga mereka di Austria. Tragedi itu juga menjadi luka mendalam bagi wajah pariwisata Flores yang selama ini dikenal sebagai surga alam dunia.

Jembatan yang merenggut nyawa mereka disebut pernah direnovasi pada tahun 2023. Secara kasat mata masih tampak layak digunakan. Namun penyangga bagian bawah diduga telah lapuk dan tak mampu lagi menopang beban.

Sekretaris Desa Cunca Wulang, Benediktus Hartono, mengatakan kerusakan itu memang tidak terlihat dari permukaan. Sebelumnya, sejumlah wisatawan lain bahkan sempat melintas tanpa masalah.

Tetapi maut kadang datang tanpa tanda.

Tragedi ini kemudian menggema jauh hingga Eropa. Media Austria menurunkan laporan dengan nada getir. Dalam salah satu alinea yang menyentil keras, disebutkan bahwa kecelakaan fatal di lokasi wisata alam Indonesia bukanlah hal yang jarang terjadi.

Mereka menyoroti medan sulit, infrastruktur yang menua, serta lambatnya jalur penyelamatan di wilayah kepulauan Indonesia.

Pastor Marco SVD menilai sorotan media asing itu merupakan ujian besar bagi turisme Flores. Ada dua persoalan yang tak bisa lagi diabaikan: infrastruktur wisata yang rapuh dan sistem penyelamatan yang belum memadai.

Karena bagi wisatawan mancanegara, keindahan alam saja tidak cukup. Rasa aman adalah bagian dari perjalanan.

Kematian Juergen dan Astrid kini menjadi pengingat pahit bahwa di balik promosi wisata kelas dunia, masih ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai. Jembatan-jembatan tua, jalur trekking, standar keselamatan, hingga sistem evakuasi harus ditata ulang dengan serius.

Flores memang indah. Sangat indah.

Namun keindahan tanpa keselamatan dapat berubah menjadi tragedi.

Dan di Cunca Wulang, pada pagi yang sunyi itu, sebuah video yang awalnya hendak merekam senyum bahagia dua manusia, justru menjadi saksi bisu detik-detik terakhir kehidupan mereka.