SISI KEHIDUPAN: Seroja, Ina Peni Utan Lolo, dan Apolonia

Minggu, 18 April 2021 15:29 WIB

Penulis:redaksi

apolonia.jpg
Apolonia bersama P. Chares Beraf SVD

Oleh: P. Charles Beraf, SVD*

DUKA ini terlalu dalam untuk Apolonia. Apolonia, lengkapnya "Apolonia Ana Aryanti Teken Buto" adalah gadis atau lebih tepat anak semata wayang, yang ditinggal sendirian sejak berumur satu tahun gara gara kedua orang tuanya bercerai dan hilang entah ke mana. 

Sejak usia itu, dia bersama empat saudara sepupunya diasuh neneknya di Waimatan, Ileape. Di rumah tinggal Waimatan, selama bertahun tahun, mereka berlima hingga Apolonia menginjak usia remaja, 16 tahun. Tanpa ayah. Tanpa ibu. Neneklah menjadi segalanya bagi Apolonia, dan empat sepupunya melengkapi keceriaan di rumah kecil mereka. 

Di bawah kaki Ina Peni Utan Lolo, Ile Lewotolok, Apolonia bertumbuh dewasa, meski sudah terlalu pagi keceriaannya direnggut oleh prahara rumah tangga. Tapi siapa yang bisa sangka bahwa yang pernah jatuh bakalan juga ditimpa tangga pula? 

Apolonia tak menyangka, nenek dan empat sepupunya disapu pergi oleh SEROJA di kaki Ina Peni Utan Lolo. "Rumah juga disapu rata, dan saya tersangkut di bubungan atap rumah tetangga". 

Kisah Apolonia terlalu pedih. Begitu pedihnya sampai dia enggan bicara banyak ketika saya hendak mewawancarainya. 

"Saya tak sadar ketika dibawa ke sini. Dua kaki saya terbentur entah kayu entah batu".  Di rumah Siprianus Boli, di bilangan Lamahora, Lewoleba, Apolonia diungsikan. 

"Saya tidak mau pulang kampung. Saya mau di sini". 

Barangkali Apolonia trauma untuk memulai lagi keceriaan di kaki Ina Peni Utan Lolo. Ditinggal pergi orang tuanya. Ditinggal pergi pula nenek dan empat sepupunya. Yang satu prahara rumah tangga. Yang lain prahara Seroja. Mungkin masih ada prahara lain: luka traumatik karena Seroja atau dia tak bisa mengenyam lagi pendidikan di SMKN ILEAPE, karena tak punya siapa siapa. 

"Tuhan mungkin punya rencana", kata kata klise ini kerap terlalu mudah dilontarkan di tengah keterlaluan ini. 

Dan memang tak sedikit pun terlintas di hati dan kepala Apolonia sendiri soal rencana, apalagi soal rencana Tuhan. Dukanya terlalu dalam. Amuk Seroja, geramnya Ina Peni Utan Lolo dan mungkin juga Tuhan - sudah merenggut yang paling berharga dalam hidup Apolonia.

Apolonia, gadis kelas 10, kini masih dengan tatapan kosong di matanya. Sendirian. Tak punya siapa pun lagi selain ENTAH (?).  Entah pada siapa, entah dengan siapa. (*)

*Charles Beraf SVD, alumnus STFK Ledalero, Master in Rural Sociology at University of the Philippines.