Tuhan
Sabtu, 29 Agustus 2026 15:55 WIB
Penulis:Redaksi

Oleh Pater Gregor Nule SVD
Pengakuan iman yang benar dan tak berubah dari Petrus dan para murid lainnya kepada Yesus sebagai Mesias, Putera Allah yang hidup, di Kaisarea Filipi, menjadi titik tolak bagi Yesus untuk melanjutkan pendidikan iman dan membangun kesadaran para murid agar senantiasa setia pada ajaran dan kehendakNya.
Pertama-tama, Yesus mengungkapkan rencanaNya ke Yerusalem untuk menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh para tua-tua, dibunuh dan mati di salib, tetapi dibangkitkan pada hari ketiga sebagai wujud pemenuhan kehendak Bapa di surga.
Yesus mengajar para muridNya untuk memahami salib dalam arti baru dan luhur, bukan sebagai kutukan dan hukuman, melainkan sebagai sarana dan jalan untuk menyelamatkan umat manusia dari kejahatan dan kuasa maut yang tak terelakkan. Salib menjadi jembatan kepada kemuliaan Yesus dan pintu masuk menuju kerajaan surga bagi semua orang yang percaya.
Dengan demikian, Yesus memperkenalkan Diri sebagai Hamba Allah yang harus menderita, dan Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Tetapi, para murid tidak memahami rencana Allah itu dan belum sanggup melihat kehendak Allah di balik penolakan, penderitaan dan kematian Yesus di salib. Maka Petrus menolak rencana Yesus ke Yerusalem. Ia berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu. Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”, (Mat 16:22).
Berhadapan dengan reaksi negatif ini, Yesus mengingatkan Petrus dan teman-temannya akan hakekat dan tuntutan menjadi murid Kristus. Yesus berkata, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi, siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”, (Mat 16:24-25).
Melalui pesan ini Yesus mau menyadarkan para muridNya bahwa memikul salib adalah sebuah keharusan, dan bukan pilihan, mau atau tidak mau, dan juga bukan sebuah nasib malang yang harus ditanggung tanpa makna.
Nabi Yeremia juga mengalami hal serupa dalam hidup dan karyanya. Ia merasa ditangkap oleh Tuhan untuk mewartakan SabdaNya. Tetapi, ketika melaksanakan tugas pewartaan ia ditolak, pribadinya dicemooh dan diperlakukan secara tidak wajar, bahkan jiwanya berulang kali terancam maut.
Yeremia mengalami kesepian bahkan ditinggalkan oleh sahabat-kenalan dan keluarganya sendiri. Ia juga merasa seolah-olah Allah meninggalkan dia. Meski demikian, ia tetap setia dan bertahan. Akibatnya ia berhasil mentobatkan bangsa Israel.
Sebab tidak ada jalan lain menuju kemuliaan dan kebahagiaan sejati tanpa penderitaan dan tuntutan pengorbanan.
Sebagai orang kristen kita diminta untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab harian laksana memikul salib hidup sambil mengikuti Kristus dan menghayati ajaran-ajaranNya.
Ketika kita alami cobaan, tantangan dan penderitaan maka semuanya mesti diterima dan ditanggung demi kesetiaan pada kehendak Allah. Kita dituntut untuk rela berkorban.
Nabi Yeremia, Yesus, rasul-rasul serta para murid lainnya sepanjang sejarah mengalami penolakan, penganiayaan, penderitaan dan bahkan pembunuhan, namun mereka tetap setia pada kehendak Allah dan tidak pernah meninggalkan tugas perutusan.
Kita pun hendaknya tetap bertekun dan setia pada komitmen iman. Kita belajar melihat dan menemukan kehendak Allah di balik setiap pengalaman dan situasi sulit penuh tantangan dalam melaksanakan tugas, karya dan pekerjaan-pekerjaan kita.
Kita belajar untuk lupa diri dan lupakan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok agar dapat memberikan sesuatu yang terbaik untuk Tuhan, sesama dan demi kebaikan bersama.
Mungkin sering kita mudah mengeluh, marah-marah dan cepat menyerah, bahkan melarikan diri dari persoalan-persoalan hidup. Atau, kita mudah membela diri lalu mempersalahkan orang lain, dan bahkan persalahkan Tuhan sendiri.
Dalam segala-galanya, Yesus minta kita supaya rela berkorban demi kebahagiaan dan keselamatan orang banyak.
Santu Paulus mengingatkan kita agar memanfaatkan hidup kita dengan baik sehingga menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan dan berguna bagi orang lain.
Karena itu, tidak pantas kita memberikan yang buruk, kotor, atau sisa yang tidak berguna dan yang tidak berkenan sebagai persembahan kepada Allah dan sesama.
Ingatlah, semua hal baik yang telah kita lakukan bagi orang lain, sebetulnya kita lakukan itu juga untuk diri sendiri dan untuk memuliakan Allah, sang Penyelenggara hidup.
Keadilan akan menular, kebaikan akan berkembangbiak…dan kebenaran akan memberi terang…maka lakukanlah semuanya itu kepada siapa saja….dengan demikian, Kerajaan Allah akan sungguh hadir di tengah kehidupan kita.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!
Kewapante, 30 Agustus 2026. ***