Peta jalan
Senin, 20 Juli 2026 18:00 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

LABUAN BAJO, Floresku.com – Yayasan Sekolah Umat Katolik Manggarai Barat (YASUKMABAR) memulai tradisi baru dalam penyelenggaraan pendidikan dengan menggelar Apel Upacara Bendera Bersama yang diikuti seluruh sekolah di bawah naungannya, Senin (20/7).
Kegiatan ini menjadi momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya seluruh satuan pendidikan YASUKMABAR berdiri dalam satu barisan, satu semangat, dan satu komitmen membangun pendidikan Katolik yang unggul, berkarakter, serta berlandaskan nilai-nilai Injil.
Apel bersama yang digelar untuk membuka Tahun Ajaran 2026/2027 tersebut dipimpin Ketua YASUKMABAR, Romo Yohanes F. Selman, S.Fil., M.Pd., sebagai pembina upacara. Sementara petugas upacara dipercayakan kepada siswa-siswi SMKS Stella Maris Labuan Bajo.
Peserta apel terdiri atas kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta peserta didik dari SDK Wae Medu, SMPK St. Ignatius Loyola, dan SMKS Stella Maris Labuan Bajo.
Dalam amanatnya, Romo Yohanes menegaskan bahwa apel bersama akan menjadi tradisi baru yang dilaksanakan secara rutin karena seluruh sekolah berada dalam satu payung YASUKMABAR.
Baca juga:
"Kita mau mengawali seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran dalam apel bersama untuk membuka Tahun Ajaran Baru 2026–2027. Ini pertama kali kita apel secara bersama-sama dan akan menjadi kebiasaan kita ke depan karena kita satu payung di bawah asuhan YASUKMABAR," ujarnya.
Romo Yohanes menekankan pentingnya membangun budaya disiplin sebagai fondasi utama penyelenggaraan pendidikan di setiap unit sekolah.
Menurutnya, disiplin harus menjadi kebiasaan yang diterapkan mulai dari ketepatan waktu hadir di sekolah, kerapian berpakaian, hingga kesungguhan mengikuti seluruh proses pembelajaran dan kegiatan sekolah.
Ia mengingatkan bahwa guru dan tenaga kependidikan harus menjadi teladan bagi peserta didik.
"Peserta didik lebih mengikuti apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan," tegasnya.
YASUKMABAR juga akan menerapkan aturan lebih tegas terkait kedisiplinan waktu. Guru maupun siswa yang datang terlambat nantinya tidak langsung diperbolehkan memasuki lingkungan sekolah, tetapi harus menunggu di luar gerbang sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain disiplin, Romo Yohanes mengingatkan pentingnya memperkuat identitas sekolah Katolik melalui penghayatan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, sekolah Katolik harus menjadi tempat tumbuhnya kejujuran, semangat bela rasa, saling mengasihi, dan pelayanan kepada sesama.
Ia meminta para kepala sekolah dan guru agama Katolik memperkuat program pastoral pendidikan, seperti perayaan Ekaristi awal dan akhir tahun ajaran, misa Jumat Pertama, rekoleksi, aksi puasa, hingga kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional.
"Sebagai sekolah Katolik kita harus menunjukkan ciri khas itu. Tidak sekadar mengawali dan mengakhiri pelajaran dengan doa, tetapi memiliki program pastoral pendidikan yang nyata," katanya.
Romo Yohanes juga mengingatkan seluruh tenaga pendidik untuk terus meningkatkan mutu pendidikan.
Menurutnya, kualitas pembelajaran menjadi salah satu alasan utama masyarakat tetap mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada sekolah Katolik.
Karena itu setiap guru diminta menjalankan tugas secara profesional mulai dari menyusun perencanaan pembelajaran, melaksanakan proses belajar mengajar, hingga melakukan evaluasi secara berkelanjutan.
Apel bersama ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi simbol lahirnya budaya kolaborasi antarsekolah di bawah YASUKMABAR.
Melalui kegiatan tersebut, seluruh warga sekolah diajak memperkuat semangat nasionalisme, persaudaraan, disiplin, dan pelayanan sebagai fondasi pendidikan Katolik.
Dengan mengenakan seragam masing-masing, para guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik mengikuti seluruh rangkaian upacara secara khidmat. Pengibaran Sang Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya menjadi simbol kecintaan kepada bangsa sekaligus tekad membangun generasi muda Manggarai Barat melalui pendidikan yang berkualitas.
Ke depan, apel bersama ini diharapkan menjadi agenda rutin yang mempererat rasa memiliki terhadap YASUKMABAR sebagai rumah bersama seluruh sekolah Katolik di Manggarai Barat.
Melalui tradisi baru tersebut, YASUKMABAR menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan Katolik yang bermutu, membentuk peserta didik yang beriman, berkarakter, cerdas, dan siap memberikan kontribusi bagi Gereja, masyarakat, serta bangsa Indonesia. (Vinsen Patno). ***