Pedagang Tenun Ikat Keliling Pasar Sikka demi Nafkah

redaksi - Kamis, 05 Maret 2026 19:06
Pedagang Tenun Ikat Keliling Pasar Sikka demi NafkahArkadius, pedagang kain tradisional di Pasar Alok, Maumere. (sumber: Silvia)

 MAUMERE (Floresku.com)– Tenun ikat tetap menjadi salah satu komoditas budaya yang hidup di pasar-pasar tradisional Kabupaten Sikka. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas Pasar Alok Maumere, seorang pedagang muda, Arkadius (27), tampak menawarkan berbagai jenis sarung tenun kepada para pengunjung pasar.

Arkadius berasal dari Wolojita, Kabupaten Ende. Ia mengaku setiap hari berkeliling dari satu pasar ke pasar lain di wilayah Kabupaten Sikka untuk menjajakan kain tenun ikat yang dibawanya.

“Setiap hari kami bawa kain tenun ini ke pasar. Hari ini jadwalnya di Pasar Alok Maumere. Pokoknya kami datangi pasar-pasar yang ada di Kabupaten Sikka,” ujarnya saat ditemui Floresku.com.

Menurut Arkadius, aktivitas berdagang kain tenun sudah menjadi rutinitasnya. Ia biasanya hanya beristirahat pada hari Minggu, sementara pada hari-hari lainnya ia berkeliling menjual tenun di berbagai pasar tradisional.

Baca juga:

Dalam sehari, penjualan kain tenun bisa cukup menjanjikan, terutama ketika pasar sedang ramai. Ia mengatakan, pada hari-hari biasa ia masih bisa menjual beberapa sarung. Namun, ketika mendekati hari raya keagamaan seperti Natal dan Paskah, penjualan bisa meningkat drastis.

“Kalau lagi ramai, sehari bisa jual belasan sarung. Apalagi menjelang hari raya Natal dan Paskah, biasanya banyak orang datang beli,” katanya.

Ketertarikan Arkadius terhadap dunia tenun ikat bukanlah hal yang tiba-tiba. Sejak kecil ia sudah terbiasa melihat aktivitas menenun di rumahnya.

“Nenek dan ibu saya penenun yang handal. Sejak kecil saya sudah biasa melihat mereka menenun setiap hari,” tuturnya.

Sarung tenun yang dijual Arkadius tidak hanya berasal dari hasil tenun ibunya sendiri. Ia juga menerima kain dari para penenun lain yang datang menawarkan hasil karya mereka untuk dijual kembali.

“Selain dari ibu saya, ada juga penenun lain yang datang jual ke saya,” jelasnya.

Harga sarung tenun yang dijual pun bervariasi tergantung jenis dan kualitasnya. Sarung tenun motif Nggela misalnya, biasanya dijual dengan harga di atas Rp1 juta.

 Sementara beberapa jenis sarung lain berkisar sekitar Rp600 ribu dan masih bisa dinegosiasikan dengan pembeli.

Arkadius juga mengakui bahwa minat masyarakat terhadap tenun ikat semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. 

Salah satu faktor pendorongnya adalah program penggunaan tenun ikat di tempat kerja, khususnya bagi ASN di NTT, serta di lingkungan sekolah menengah atas dan sederajat.

Program tersebut dinilai turut membantu melestarikan budaya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para penenun dan pelaku UMKM di daerah. (Silvia). ***

RELATED NEWS