Tuhan
Kamis, 28 Mei 2026 08:06 WIB
Penulis:Redaksi

Oleh Pater Gregor Nule, SVD
Selamat pagi saudara/iku dan selamat menjalani hari baru ini dengan penuh harapan.
Sering kita temui aneka tipe manusia. Ada orang yang selalu dambakan agar keinginannya terpenuhi. Tetapi ia hanya berharap agar mukjizat itu terjadi tanpa buat apa-apa. Ia tidak punya iman. Ia berdoa asal-asalan.
Sebaliknya, ada orang yang juga menginginkan mukjizat. Tetapi, ia berdoa terus--menerus, tekun mencari dan bekerja. Ia tidak hanya mengharapkan mukjizat turun dari langit. Ia berdoa dan bekerja.
Perikop Injil Mark 10: 46-52 menampilkan Bartimeus sebagai model orang beriman yang memohonkan mukjizat dan tekun berjuang untuk mendapatkannya.
Bartimeus buta dan miskin. Setiap hari ia duduk di pinggir jalan untuk meminta sesuatu dari setiap orang yang lewat. Ia ingin memenuhi kebutuhan makan dan minum.
Tetapi, dalam hati yang terdalam ia rindukan kesembuhan matanya. Ia rindu bisa melihat. Ia percaya bahwa hanya Tuhan yang dapat menyembuhkannya.
Karena itu, ketika Yesus lewat, ia minta belaskasihan. Ia tidak minta uang atau barang lain. Ia berkata,"Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku",(Mrk 10:47).
Ketika ditegur supaya diam dan tidak mengganggu, ia semakin keras berteriak dengan harapan supaya Yesus mendengarkan suaranya.
Yesus berhenti dan menyuruh memanggilnya. Yesus menanyakan keinginannya. Mungkin ia inginkan uang atau barang lain.
Bartimeus menjawab,'Rabuni, semoga aku dapat melihat", (Mrk 10:51).Permintaannya dikabulkan Yesus. Kerinduannya menjadi kenyataan.
Yesus memulihkan penglihatannya dan berkata, "Pergilah imanmu telah menyelamatkan dikau",(Mrk 10:52).
Bartimeus menjadi sembuh karema ia meminta dengan penuh iman, dan terus berjuang agar suara permohonannya didengar oleh Yesus, kendatipun ia dihalang-halangi orang lain.
Kita belajar dari Bartimeus agar selalu datang kepada Yesus untuk menyerahkan kepadaNya segala kelemahan, kerapuhan, rasa sakit dan penyakit kita.
Mungkin mata kita tidak buta dan telinga kita tidak tuli. Tetapi, hati kita tertutup dan buta. Kita tidak bisa mendengarkan bisikan Tuhan dan melihat kebesaran kasih Allah dalam hidup dan karya kita.
Kita serahkan semua kepada Yesus. Kita mesti tekun berdoa dan memohon serta terus berjuang mengatasi segala hambatan.
Kita tidak boleh cepat putus asa atau hanya mengharapkan mukjizat tanpa iman, harapan dan perjuangan apa pun.
Kita mesti terus datang kepada Yesus dan berkata, " Tuhan, semoga aku dapat melihat".
Kewapante, 28 Mei 2026. ***