Buku 'Jejak Misioner Pater Fritz Meko SVD' Dibedah di Palangkaraya

Sabtu, 28 Maret 2026 21:19 WIB

Penulis:redaksi

bdahnu.jpeg
Para pembecara pada Acara Budah dan Lauching Buku 'Jejak Langkah Pater Fritz Meko, SVD'. Kamis (26/3) di Aula Soverdi Palangkaraya (WAG Ledalero)

PALANGKARAYA (Floresku.com) – Peluncuran dan bedah buku Jejak Langkah Pater Fritz Meko, SVD berlangsung hangat dan penuh makna di Aula Soverdia, Palangkaraya, Kamis (26/3). 

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni literasi, tetapi juga ruang refleksi mendalam atas perjalanan hidup dan spiritualitas misioner Pater Fritz Meko.

Acara yang dimulai pukul 16.30 WIB itu dihadiri sekitar 200 peserta dari beragam latar belakang, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, biarawan-biarawati, hingga organisasi seperti OMK, Pemuda Katolik, WKRI, dan PMKRI. Suasana diskusi berlangsung hidup, menandakan tingginya minat terhadap karya biografi tersebut.

Berawal dari Penolakan

Buku ini ditulis oleh Sasongko Iswandaru dari Penerbit Pohon Cahaya Yogyakarta. Namun prosesnya tidak instan. Pater Fritz awalnya menolak tawaran penulisan biografi karena merasa tidak pantas diangkat dalam narasi yang berpotensi glorifikatif.

Setelah melalui diskusi panjang, ia akhirnya menyetujui dengan empat syarat penting: tanpa unsur pemujaan, menonjolkan cara pandang hidup, berbasis kajian atas karya-karyanya, serta melalui wawancara mendalam untuk menggali sisi batin.

Proses penulisan berlangsung sejak Agustus 2024 hingga Januari 2026. Setelah revisi pada Februari, buku setebal 484 halaman ini akhirnya terbit pada awal Maret 2026.

Palangkaraya Jadi Titik Makna

Pemilihan Palangkaraya sebagai lokasi launching memiliki alasan kuat. Kota ini merupakan tempat awal pelayanan misioner Pater Fritz, yang ia sebut sebagai “laboratorium karakter misioner”.

Pengalaman pastoral di wilayah ini pada periode 1993–1999 dan 2006–2009 menjadi fondasi penting dalam membentuk spiritualitas dan arah pelayanannya. Karena itu, peluncuran buku di Palangkaraya dipandang sebagai langkah simbolis yang sarat makna.

Diskusi Kritis dan Inspiratif

Sesi bedah buku menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. Maidiantius Tanyid, Yusuf Wahyu, Pater Cornel Fallo, SVD, Dony Laseduw, dan Marthinus Mardianus. Diskusi dipandu oleh Drs. Edy Loke, MM, yang mampu menghidupkan dialog antara narasumber dan peserta.

Sebelum sesi utama, penulis dan Pater Fritz diberi kesempatan menjelaskan latar belakang penulisan buku. Para peserta tampak aktif menyimak, bahkan terlibat dalam refleksi kritis atas isi buku.

Kehadiran Kiki Tarigan, mantan Ketua Umum PMKRI, juga menjadi perhatian tersendiri. Ia datang dari Jakarta karena buku ini memuat bab khusus tentang PMKRI.

Lebih dari Sekadar Biografi

Buku ini tidak hanya merekam perjalanan hidup seorang imam, tetapi juga memotret dinamika panggilan, pergulatan batin, dan komitmen pelayanan yang dijalani secara konsisten.

Acara ditutup dengan makan bersama dalam suasana persaudaraan. Bagi banyak peserta, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa karya pelayanan yang tulus dapat menjadi sumber inspirasi dan harapan.

Melalui buku ini, jejak langkah seorang misionaris tidak hanya dikenang, tetapi juga dihidupkan kembali dalam semangat pelayanan bagi sesama. (Sandra - Sumber Katolikku.com). ***