pln
Rabu, 28 Oktober 2026 15:36 WIB
Penulis:Redaksi

ENDE, FLORESKU.com — Camino de Flores Etape Tengah berakhir pada Senin (26/10), setelah sekitar 70 peserta menempuh perjalanan ziarah sejauh 70 kilometer melintasi Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berlangsung pada 23–26 Oktober 2026, kegiatan yang diinisiasi Mari Elka Pangestu ini memadukan refleksi spiritual, persaudaraan lintas iman, pelestarian budaya, dan solidaritas bagi masyarakat Flores pascagempa 15 Agustus 2026.
Hari pertama, Jumat (23/10), perjalanan dimulai dengan Misa pembukaan di Taman Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio, Beiposo, Ngada. Peserta kemudian mengunjungi Kampung Adat Beiposo untuk mengenal tradisi dan kehidupan masyarakat setempat.
Hari kedua, rombongan mengunjungi Gereja Mater Boni Consili Bajawa, Gereja Paroki Maria Ratu Semesta Alam Langa, Kampung Adat Bena, Paroki Rakateda I, dan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko. Selain memperdalam pengalaman iman dan budaya, persinggahan di seminari menjadi momentum kepedulian terhadap pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak gempa.
Hari ketiga, Minggu (25/10), peserta mengikuti Misa bersama para imam dan siswa di Seminari Mataloko, kemudian mengunjungi Gua Maria Camino Watu Go dan Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi Gako, Nagekeo, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Nangapanda, Ende.
Di Nangapanda, rombongan disambut umat Paroki Santo Eduardus bersama masyarakat setempat. Warga Muslim dan para siswi Muslim SMA Negeri 1 Nangapanda turut memeriahkan penyambutan, memperlihatkan semangat persaudaraan di tengah keberagaman agama.
Mari mengatakan, Camino de Flores bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ruang introspeksi, refleksi, dan pemulihan. Penjabat Sekda Nagekeo Elias Tae mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk kolaborasi spiritualitas, budaya, dan aksi sosial.
Hari keempat, Senin (26/10), peserta mengunjungi kawasan Puncak Danau Kelimutu, Desa Wisata Waturaka, dan Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende, sebelum mengikuti Misa penutupan yang dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, di Gereja Katedral Kristus Raja.
Uskup berharap Camino de Flores membawa berkat bagi penggagas, peserta, dan masyarakat Flores. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga berharap kegiatan ini berkembang menjadi ikon wisata religi daerah.
Selain menggalang solidaritas pascagempa, Mari bersama arsitek Yori Antar memberikan dukungan bagi pembangunan rumah tenun Sao Tege Seda Camino Kelibara dan revitalisasi rumah adat Sao Ria Ngi’i Nangape Camino Wologeru di Ende.
Camino de Flores diharapkan memperkuat pariwisata berbasis alam, religi, sejarah, dan budaya sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Flores. (Silvia)