Cinta
Sabtu, 20 Juni 2026 12:04 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Oleh: Yosef Naiobe
Pagi itu, Sabtu, 20 Juni 2026, langit Bone tampak cerah. Udara masih menyimpan kesejukan ketika keluarga besar berkumpul untuk mengantar seorang anak menuju gerbang kehidupan yang baru.
Di rumah keluarga, prosesi siraman khusus bagi calon mempelai pria, Andi Nizar Alfaidzin Abbas, S.H., digelar dalam suasana khidmat dan penuh haru.
Bagi masyarakat Bugis, pernikahan tidak dimulai pada saat ijab kabul di masjid atau ketika kedua mempelai duduk bersanding di pelaminan.
Perjalanan itu dimulai jauh sebelumnya, ketika hati dan jiwa dipersiapkan untuk menerima amanah kehidupan rumah tangga. Siraman menjadi langkah awal dari perjalanan panjang tersebut.
Acara diawali dengan pengajian dan pembacaan doa bersama keluarga. Ayat-ayat suci mengalun lembut, menyatu dengan harapan yang dipanjatkan oleh orang-orang terdekat. Setelah doa selesai, prosesi siraman dimulai.
Di hadapan keluarga, telah disiapkan berbagai perlengkapan sederhana namun sarat makna: tempayan berisi air bersih, kelapa muda, dan berbagai perlengkapan adat lainnya.
Air yang jernih itu bukan sekadar air. Ia melambangkan pembersihan lahir dan batin sebelum seseorang memasuki fase kehidupan yang baru.
Satu per satu air siraman disiramkan ke tubuh Andi Nizar. Tidak ada kemewahan dalam ritual itu. Yang ada hanyalah ketulusan, doa, dan cinta keluarga yang mengalir sebagaimana air yang membasahi tubuh calon mempelai.
Namun momen yang paling menggetarkan terjadi sesaat kemudian.
Andi Nizar berlutut di hadapan kedua orang tuanya. Dengan penuh hormat ia membasuh kaki ayah dan ibundanya, Dr. Andi Abbas, S.H., M.H., M.Si., dan Hj. Nuraliah Ramly, S.Pd.I., M.M.
Tak lama kemudian ia memeluk keduanya.
Suasana yang sejak awal khidmat berubah menjadi haru. Air mata yang selama ini ditahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.
Sang ibu tampak mengelus pundak putranya sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi. Di sampingnya, sang ayah juga tak mampu menyembunyikan perasaannya.
Pelukan itu seolah menjadi bahasa yang tidak memerlukan kata-kata.
Di dalamnya tersimpan rasa syukur seorang anak kepada orang tua yang telah membesarkannya.
Di dalamnya pula terdapat doa dan restu yang dilepaskan oleh orang tua kepada anak yang sebentar lagi akan membangun keluarganya sendiri.
Setelah prosesi siraman selesai, acara dilanjutkan dengan sesi foto keluarga. Dimulai bersama kedua orang tua, kemudian bersama paman, tante, dan keluarga besar yang hadir.
Jika sebelumnya air mata mendominasi wajah Andi Nizar, kali ini senyum mengembang lepas. Senyum itu bukan sekadar ekspresi kebahagiaan. Ia seperti tanda bahwa satu fase kehidupan telah dituntaskan dengan penuh rasa hormat dan syukur.
Siraman tersebut menjadi pembuka dari rangkaian adat Mapacci yang akan dilaksanakan pada malam harinya.
Dalam tradisi Bugis, Mapacci merupakan ritual penyucian diri yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur sebelum akad nikah dilangsungkan.
Malam Mapacci adalah malam perenungan. Malam ketika seorang calon mempelai diajak menanggalkan segala kesombongan, membersihkan niat, dan menyiapkan diri untuk menerima amanah rumah tangga.
Dua hari kemudian, Senin, 22 Juni perjalanan itu berlanjut ke Masjid Agung Bone.
Di tempat yang selama puluhan tahun menjadi saksi doa dan ikrar masyarakat Bone, Andi Nizar dan Tasya Nurul Annisa akan mengucapkan janji suci mereka.
Seorang jaksa muda yang pernah menorehkan prestasi nasional dan seorang dosen filsafat Universitas Hasanuddin akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Namun adat Bugis mengajarkan bahwa di hadapan Tuhan, orang tua, dan leluhur, semua gelar dan prestasi menjadi sederhana.
Sebab sebelum menjadi jaksa, dosen, pejabat, atau tokoh masyarakat, setiap orang terlebih dahulu adalah anak.
Anak yang harus meminta restu.
Anak yang harus belajar merendah.
Anak yang harus disucikan.
Perjalanan itu akan mencapai puncaknya pada resepsi pernikahan di Hotel Claro Makassar. Keluarga, sahabat, dan para tamu akan hadir membawa doa dan ucapan selamat.
Namun sesungguhnya inti dari seluruh rangkaian itu sudah dimulai sejak pagi di Bone, ketika seorang anak membasuh kaki kedua orang tuanya dan mengucapkan terima kasih dengan air mata.
Karena pada akhirnya, siraman membersihkan.
Mapacci menyucikan.
Akad mengikat.
Dan restu keluarga menguatkan.
Dari Bone, tempat seorang anak belajar merendah, perjalanan itu akan terus berlanjut menuju kehidupan baru bersama orang yang dicintainya.
Sebuah perjalanan yang, seperti harapan semua keluarga dan sahabat, semoga selalu berlabuh pada satu muara yang sama: Tuhan.
*Yosef Naiobe: Penulis Sastra. ***