Sawah
Rabu, 18 Februari 2026 11:28 WIB
Penulis:redaksi

Penemuan ruang tersegel di Gibraltar membuka bab baru tentang kepunahan manusia purba.
Di balik tebing kapur di pesisir timur Gibraltar, para arkeolog menemukan sebuah ruang gua yang tertutup rapat selama sekitar 40.000 tahun.
Ruang ini berada di bagian terdalam Vanguard Cave dan baru berhasil ditembus pada 2021. Ketika lapisan sedimen dibuka, yang tampak bukan sekadar sisa-sisa fosil, melainkan sebuah lanskap masa lalu yang membeku: tulang-tulang hewan masih tergeletak persis di tempat mereka jatuh, tanpa sentuhan manusia modern.
Di dalam ruang tersebut ditemukan tulang lynx, hyena, burung bangkai, serta cangkang siput laut yang jelas dibawa manusia ke dalam gua.
Tidak ada tanda-tanda gangguan, menjadikan ruang ini semacam arsip alamiah. Para peneliti menafsirkan temuan ini sebagai potret terakhir dari dunia yang pernah dihuni Neanderthal, manusia purba yang menjadi “saudara evolusioner” Homo sapiens.
Kompleks Gorham’s Cave telah lama menjadi pusat perdebatan dalam paleoantropologi. Beberapa penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa Neanderthal mungkin bertahan di wilayah ini hingga sekitar 24.000 tahun lalu, jauh lebih lama dibandingkan wilayah Eropa lainnya.
Jika benar, maka Gibraltar bisa menjadi salah satu tempat terakhir di bumi yang dihuni Neanderthal.
Pertanyaan besar lainnya adalah apakah Neanderthal memiliki kemampuan simbolik. Jawaban parsial muncul ketika ditemukan ukiran abstrak di dinding Gorham’s Cave, berupa pola silang yang dibuat secara sengaja.
Ukiran ini berusia lebih dari 39.000 tahun dan menjadi bukti bahwa Neanderthal tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mampu mengekspresikan makna.
Meski tidak langsung menjawab kapan Neanderthal benar-benar punah, ruang tersegel di Vanguard Cave memberi peluang luar biasa bagi penelitian modern.
Dengan teknologi DNA lingkungan dan analisis isotop, ilmuwan kini dapat merekonstruksi kehidupan Neanderthal secara lebih rinci. Dari kegelapan gua itu, sejarah manusia kembali ditulis—bukan sebagai kisah kemenangan tunggal Homo sapiens, melainkan sebagai jejak kompleks berbagai bentuk kemanusiaan yang pernah ada. (Leoni).***