Kamis, 08 April 2021 13:47 WIB
Penulis:redaksi

Oleh: RD. Pedro Sina da Silva*
DALAM lingkup teologi kristiani, Hans Küng dikenal sebagai figur kontroversial, pembangkang Gereja katolik dan “musuh” Joseph Ratzinger alias Paus emeritus Benedictus XVI. Pada lingkup yang lebih luas, Küng justru dikenal sebagai pelopor etika global atau etika universal.
Mengapa relasi Küng dan Ratzinger tampaknya tak pernah harmonis, padahal keduanya adalah sahabat akrab sejak masa muda? Mengapa institusi Gereja katolik “menyingkirkan” Küng, sedangkan ketokohannya begitu populer di jagat dialog: interkulltural, interreligius dan ekumenis?
Küng dan Ratzinger: dua sahabat yang "bermusuhan" sampai mati
Kedua pemikir besar abad XX ini bertemu untuk pertama kalinya di Innsbruck (1957), pada sebuah Konggres Teologi. Kebetulan saat itu Ratzinger sedang mengerjakan resensi atas tesis doktoralnya Hans Küng tentang Karl Barth. Sejak itu persahabatan dan dialog teologis antar mereka mulai terbangun, dan sering kali diwarnai oleh “permusuhan” intelektual yang hebat.
Atas keinginan Küng, Ratzinger bisa mengajar di Universitas Tübingen. Saat di Tübingen, Ratzinger menolak iklim universitas yang menurutnya sudah terkontaminasi aroma marxisme dalamnya pengaruh Bultmann, Heidegger dan Bloch sangat dominan. Konflik akademis pun tak terhindarkan. Ratzinger disingkirkan dan pindah ke Universitas Regensburg.
Menurut Küng, dalam autobiografinya “Hans Küng. La verdad controvertida” (2009), konflik itu adalah bukti kegagalan Ratzinger dalam beradaptasi dengan iklim akademis yang dinamis dan terbuka. Sedangkan menurut Ratzinger, dalam bukunya “Mi Vida. Autobiografia” (2013), meninggalkan Tübingen adalah jalan kebenaran yang membebaskan. Setelah peristiwa pahit itu, Ratzinger meluncurkan best seller-nya: “Introduction to Christianity (1968).
Küng dan Ratzinger sama-sama adalah “teolog muda” dalam Konsili Vatican II. Setelah Konsili, muncul gelombang krisis pos konsiliar. Sekitar 70-an teolog Jerman mendesak diadakan Konsili baru: Konsili Vatican III. Dalam atmosfer tegangan pos konsiliar itu, Hans Küng meluncurkan bukunya “Infallible? An Inquiry (1971), dengan mana dia menolak infalibilitas Paus.
Akibatnya, otoritas mengajarnya dicabut oleh Magisterium. Saat menjabat Perfek Konggregasi Doktrin Iman, Ratzinger berusaha bernegosiasi dengan sahabatnya untuk mencabut bukunya itu, namun tidak pernah berhasil.
Küng memang dikenal sebagai seorang teolog cerdas nan progresif yang berani mengupas beberapa persoalan sensitif dalam Gereja seperti: tahbisan imam wanita, tujuan selibat, gereja dan demokrasi, gerakan ekumenis, Dan lain-lain.
Menjelang pemilihan Paus tahun 2005, Küng menulis "Offene Brief", surat terbuka kepada para Cardenal supaya jangan memilih Ratzinger. Menurutnya, karakter Ratzinger yang kaku, konservatif, dogmatis dan sulit berdialog, bisa menjadi ancaman serius bagi masa depan Gereja. Hasil konklaf justru sebaliknya. Eks “serdadu Hitler” itu terpilih menjadi pengganti Santu Petrus. Namun Küng tak lelah melancarkan kritiknya. Menurutnya, Gereja katolik, di bawah Benediktus XVI, akan memasuki musim dingin, beku dan tak berpengharapan.
Suatu ketika di tahun 2005, Ratzinger mengundang Küng untuk makan malam bersama di residencia Castel Gandolfo. Acara itu menjadi soroton banyak media internasional karena dua “musuh abadi” bisa makan di satu meja yang sama. Persahabatan sejati tak lenyap oleh perbedaan pandangan teologis, perbedaan ide, keyakinan atau agama. Permusuhan intelektual yang tegas tidak seharusnya meniadakan persahabatan dan persaudaraan antar sesama manusia. Küng tetap memilih menjadi katolik dan beriman dengan caranya sendiri. Di mata dunia, dia dikenal sebagai pelopor perdamaian karena konsep etika global yang digagasnya secara sangat briliant.
Proyek Etika global Hans Küng bagi perdamaian dunia
Konsep etika global Hans Küng bisa kita temukan dalam beberapa karya utamanya seperti: Proyek etika global (Projekt weltethos, München 1990), Etika global untuk politik dan ekonomi (Weltethos für weltpolitik und weltwirtschaft, München 1997), Sains dan etika global (Wissenschaft und Weltethos, München 1998), dan masih banyak yang lain.
Saat saya mengerjakan tesis doktoral saya tentang “La ´dictadura del relativismo´ y la política en Ratzinger, buku-buku di atas sungguh membantu saya untuk bisa mengkritik secara lebih tajam pemikiran Ratzinger, sekaligus boleh menikmati pemikiran Küng yang jernih dan teratur seperti barisan puncak-puncak pegunungan Alpen yang indah.
Yang menarik dari kedua pemikir besar abad XX itu, hemat saya, adalah keluasan visi mereka dalam mendiagnosis persoalan-persoalan dunia dan mencarikan solusi yang tepat menurut perspektif masing-masing. Jika Ratzinger mengingatkan kita akan bahaya “kediktatoran relativisme” yang sedang mengancam dunia, dan sekaligus merancang pentingnya “razón abierta“, “rasio yang terbuka” untuk melawan kedidaktoran relativisme tersebut, Kung menyoroti suatu krisis besar dalam dunia politik dan ekonomi, yang harus diatasi dengan etika global, etika universal.
Setelah melakukan analisis mendalam terhadap fenomena sosial sejak jaman modern hingga posmodern, Küng mensinyalir sejumlah dimensi penting dari konflik politik global dan bahaya yang mengancam perpecahan masyarakat seperti fundamentalisme religius yang memprovokasi terorisme dan kekerasan, rigorisme moral dan kesewenang-wenangan pluralisme modern. Küng juga melihat adanya kegagalan total dari “politik riil” dan “politik ideal” yang berujung pada konser perang dunia pertama dan perang dunia kedua.
“Política real” terbukti gagal total karena tujuan politik telah menghalalkan segala cara seperti kebohongan, kekerasan, pengkhianatan dan perang. Demikian pun “política ideal” gagal karena terlampau menekankan motivasi moral dan tujuan baik, tapi lupa memperhatikan relasi-relasi riil kekuasaan dan konsekuensi-konsekuensi negatif yang ditimbulkannya.
Atas alasan-alasan itu, umat manusia membutuhkan paradigma baru, yakni etika global, dengan kunci utamanya adalah etika tanggung jawab. Etika tanggung jawab menuntut tanggung jawab nasional yang membawa kepada tanggung jawab global dalam mana tujuan dan kriteria fundamental dari setiap tindakan etis adalah manusia dan hidupnya dalam dunia yang layak huni.
Dua tuntutan utama dari etika global adalah respek terhadap kemanusiaan dan taat pada 'kaidah emas' yang terdapat pada setiap agama di dunia: “Jangan lakukan terhadap orang lain apa yang anda tidak ingin orang lain lakukan terhadapmu”.
Menurut Küng, etika global ini harus diaplikasikan dalam pelbagai bidang hidup: politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, hukum, pendidikan, dan lain-lain. Sekalipun masih terdapat perbedaan dalam hal orientasi politik, sosial, ekonomi, religius,dan berbagai hal lainnya, etika global ini tetap dipandang penting sebagai fundamen utama bagi kebersamaan manusia di dunia.
Berhadapan dengan polarisasi antara umat beragama dan tidak beragama, Küng ingatkan: Tidak ada demokrasi yang langgeng tanpa saling hormat antar orang beragama dan tidak beragama! Berhadapan dengan bahaya “benturan peradaban”, Küng ingatkan: Tidak ada damai antar peradaban tanpa damai antar agama! Dan tidak ada damai antar agama tanpa dialog antar agama!
Berhadapan dengan bahaya dogmatisme dan fundamentalisme yang selalu melahirkan terorisme dan kekerasan, baik di dalam Gereja maupun di dalam agama-agama lain, Küng ingatkan: Tidak akan ada tatanan dunia baru tanpa etika global!
Di Chicago, 28 Agustus 1993, Parlemen Agama-agama Dunia pernah menggelar pertemuan besar yang dihadiri 6500 orang dari pelbagai agama di seluruh dunia. Mereka semua sepakat mendeklarasikan pentingnya etika global untuk perdamaian dunia. Siapa aktor utama di balik semuanya itu kalau bukan Hans Küng?
Beberapa hari yang lalu, sang aktor briliant itu meninggalkan kita semua. Dia menutup mata untuk selamanya, tapi terang pemikirannya tetap bercahaya di hati setiap manusia yang mencintai perdamaian dan kerja sama. Adios Hans, gracias por todo. Selamat jalan Hans, Terima kasih untuk semuanya.(*)
*RD. Pedro Sina da Silva adalah pastor asal Keuskupan Agung Ende, mahasiswa Program Doktoral di Salamanca, Spanyol.