HARGA YANG BISA DIPEROLEH KETIKA PERCAYA PADA SEORANG ASING SECARA NAIF

Kamis, 21 Mei 2026 14:44 WIB

Penulis:Redaksi

gambar nenek.jpg
Rangkaian gambar dipetik dari video: Trusting a Stranger. (Mempercayai seorang asing). (WA-PdM)

Oleh Padre Marco SVD

Tadi malam seorang sahabat mengirim sebuah video singkat dari Amerika. Dalam bahasa Inggris.

Cerita dalam video itu menarik. Judulnya: Trusting a Stranger. Artinya: Mempercayai seorang asing. 

Demikian isi cerita:

Seorang lelaki muda baru saja tiba di lapangan terbang. 
Dia hendak terbang ke Paris, ibu kota Perancis. 

Baru saja memasuki gedung bandara, tiba-tiba seorang nenek memanggilnya dari belakang. 

Melihat nenek yang sudah sepuh dan hendak meminta tolong, 
sang lelaki itu berhenti lalu menawarkan bantuannya.

Sang nenek mengeluarkan Hp dari dalam tasnya dan meminta lelaki muda itu 
untuk mencarikan nomor anaknya karena dia tidak pintar menggunakan HP. 

Dia hanya ingin menelepon anaknya untuk mengatakan bahwa dia sudah tiba di bandara dengan selamat. 

Tanpa curiga apa pun, sang lelaki itu membuka Hp tersebut dan menemukan nomor anak nenek tersebut. 

Nenek menelepon anaknya dan mengatakan hal yang sama: dia sudah tiba di bandara dengan selamat.

Tidak sampai di situ. Nenek tersebut meminta untuk dibawakan kopernya ke ruang check-in. 

Lelaki itu masih ingin membantu karena hal ini biasa, apalagi namanya membantu orang yang sudah tua. 

Di mana-mana adalah sebuah kewajiban moral. 

Sepanjang jalan menuju check-in, mereka berbicara dan berkenalan. 
Hal ini dianggap wajar dan tidak mencurigakan apa-apa. 

Sang Nenek bertanya kepada lelaki tadi tentang tujuan penerbangannya. 

Mendengar bahwa lelaki itu akan terbang menuju Paris, sang nenek serta-merta mengatakan  kalau dia juga hendak terbang ke Paris.

Sesampai di check in, sang lelaki memasukan tas bawaannya dan tas bawaan si nenek. 
Tiba-tiba alarm berbunyi. Di dalam tas nenek dicurigai terdapat barang-barang terlarang dan berbahaya. 

Pihak securiti bertanya kepada lelaki itu, apakah tas itu miliknya. 
Dia segera menepis dan mengatakan kalau tas itu milik nenek yang berdiri di sampingnya. 

Si nenek kembali menepis keras bahwa tas itu bukan miliknya, melainkan milik lelaki itu. 
Kata nenek itu lagi, dia tiak punya barang. Dia hanya mendampingi lelaki itu ke Paris.

Lelaki itu segera ditangkap, tangannya diborgol, dan dibawa ke ruang tahanan bersama nenek,  hingga menjalani proses persidangan di pengadilan. 

Si lelaki sempat semaput karena tidak bisa menerima kenyataan itu. 
Perjalanan batal. Psikologinya hancur. Si nenek tetap bugar karena dianggap tidak bersalah.

Di pengadilan, setelah berhari-hari menunggu, kasus ini disidangkan dengan teliti 
hingga ditemukan kebenaran bahwa sesungguhnya kedua orang itu tidak saling mengenal. 

Perkenalan terjadi secara spontan di bandara. 
Sebuah kesalahan besar telah terjadi. 
Si lelaki adalah korban dari sebuah kebaikan yang salah alamat.

Apa pesan moral cerita ini?
Percaya kepada orang asing tidak selamanya baik.

Maksud baik (goodwill) tidak selamanya bisa melindungi diri kita dari sebuah masalah.
Kadang-kadang membantu seseorang yang salah bisa menghancurkan diri kita. 
Tentu secara moral kita harus selalu berbuat baik. 

Tetapi juga dibutuhkan pikiran dan kehati-hatian atau hati yang mengasihi dan otak yang kritis (love and prudence). 

Jangan-jangan kebaikan yang tulus ikhlas dari kita malah menjadi bumerang untuk diri kita sendiri. Salam sejahtera. PdM. ***