HOMILI: Makna Pembabtisan Tuhan

Sabtu, 10 Januari 2026 19:07 WIB

Penulis:redaksi

nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD                   
(Yes 42:1-4. 6-7; Kis 10: 34-38;  Mat 3: 13-17) 

Ilustrasi: 
Pernah diceritakan bahwa ada seorang gadis kecil,yatim piatu, berusia sekitar tujuh tahun. Ia terpaksa tinggal dengan sebuah keluarga yang bukan kerabatnya. 

Setiap hari gadis kecil itu harus menjual roti,milik keluarga angkatnya, dan ia sering ditipu oleh para pembeli. Akibatnya, ia selalu kembali ke rumah dengan uang kurang, dan tentu saja ia dimarahi, ditambah lagi dengan ancaman-ancaman lain. 

Suatu hari ada sekelompok anak SD yang sedang bermain bola kaki di lapangan. Ketika melihat gadis kecil itu mereka berlari mendapatkannya dan merampas roti jualannya. 

Bukan hanya itu. Dulang, tempat menyimpan roti itu pun dirampas, dibanting dan dirusakkan. Lalu mereka pergi meniggalkan dia. Gadis malang itu hanya duduk menangis di pinggir jalan dalam keadaan bingung. Ia tidak berani pulang ke rumah karena pasti akan dimarahi habis-habisan.

Pada saat itu lewatlah seorang pemuda di jalan itu. Ia mendekati anak itu dan menanyakan apa yang telah terjadi. Dengan berurai air mata dan suara terputus-putus, anak  itu menceritakan nasib malang yang dialaminya.

Pemuda itu dengan sangat ramah berusaha menenangkannya dan menuntun dia ke sebuah toko terdekat. Dibelinya sebuah dulang baru sama seperti dulang yang dirusakkan itu, diserahkan kepada anak itu bersama uang secukupnya, lalu disuruhnya pulang ke rumah.

Tetapi sebelum pergi, gadis kecil itu memegang tangan si pemuda, menatap wajahnya dan bertanya, “Apakah tuan bernama Tuhan Yesus?”  “Tidak. Saya hanya pengikutNya”, jawab pemuda yang baik hati itu.

Ilustrasi: Yohanes membabtis Yesus di Sungai Yordan.

Refleksi

Hari ini Gereja merayakan pesta pembaptisan Tuhan. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan merupakan saat pelantikanNya untuk memulai tugas perutusanNya di dunia melalui suara Bapa dari langit yang berkata, “Inilalah PuteraKu yang terkasih, kepadaNyalah Aku berkenan”, (Mat 3:17). 

Suara ini menegaskan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Dia  sungguh berkenan dan dicintai Bapa. Suara ini juga menjadi pemenuhan nubuat nabi Yesaya, yang menegaskan bahwa Yesus adalah orang pilihan Allah yang sungguh berkenan dan dipenuhi oleh Roh untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan menegakkan hukum di atas bumi.

Tetapi, mengapa Yesus mesti dibaptis oleh Yohanes, padahal Dia  bukan seorang pendosa? Kita tahu bahwa pembaptisan Yohanes dimaksudkan untuk menghapus dosa dan menyucikan hati manusia.  

Melalui pembaptisan Yohanes, Yesus mau  turun dan berada di antara orang berdosa. Ia benar-benar mau menyamakan diriNya dengan manusia. Sebab dalam Dia Allah berkenan kepada manusia, dan melalui Dia Allah berkenan menyatakan diriNya kepada orang-orang berdosa, kecil dan sederhana.

Selain itu, Yesus mau ada bersama dengan manusia untuk memulihkan martabat manusia yang telah dirusakkan oleh kuasa dosa dan maut dan mengangkat manusia menjadi anak-anak Allah. Itulah sebabnya Kristus rela mati di salib sebagai bukti cintaNya yang paling agung kepada manusia yang hina dan berdosa.

Apa makna pembaptisan untuk kita? 

Kita semua telah menerima sakramen pembaptisan. Melalui pembaptisan kita diurapi oleh Rohkudus dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Kita juga mendapat tugas untuk mengambilbagian di dalam misi Kristus yakni menghadirkan karya keselamatan Allah di tengah dunia melalui cara hidup dan tugas panggilan  kita masing-masing.

Mengambilbagian di dalam tugas perutusan Kristus berarti kita dipanggil untuk hidup, bersikap dan bertindak seperti Kristus sendiri. Kristus merendahkan diriNya menjadi manusia dan hidup bersama dengan orang-orang berdosa, kecil, sederhana, miskin dan menderita. Kristus menjadi satu dan senasib dengan kita.

Karena itu, sebagai pengikut Kristus, sebetulnya kita  tidak punya jalan dan pilihan lain kecuali  membangun sikap rendah hati dan memiliki kepedulian terhadap orang-orang kecil, terpinggirkan dan menderita. 

Kita tidak hanya omong, berkotbah atau berceramah tentang nasib orang-orang kecil, miskin, sakit dan menderita. Tetapi, seperti si pemuda dalam ilustrasi di atas, kita mesti buat sesuatu yang nyata. 

Kita mesti membuka tangan dan hati, turun untuk menolong dan rela berkorban, memberi dari yang kita miliki untuk meringankan penderitaan dan beban hidup orang lain di sekitar kita. Kita mesti rela berkorban dan mau buat sesuatu.

Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu. Amen.

Kewapante, Minggu, 11 Januari 2026. ***