HOMILI, Pater Gregor Nule SVD: Minggu, 27 November 2022

Sabtu, 26 November 2022 18:33 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

GREGOR NULE.JPG
Pater Gregor Nule SVD, Pastor Paroki Ratu Rosari, Kewapante (Dokpri)

 SIAGA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN SAMBIL  BERDOA DAN BEKERJA

 (Minggu I Adven A: Yes  2: 1-5; Rom 13: 11-14a; 24: 37 -44)

HARI INI kita memulai masa adventus,  suatu masa liturgi yang berlangsung selama 4 pekan. Masa adventus adalah momen istimewa bagi kita untuk melaksanakan segala persiapan yang perlu, khususnya  persiapan diri, hati dan bathin, untuk  pertama, merayakan kenangan dan  peringatan pesta kelahiran Yesus di Betlehem 2000 tahun lalu. 

Kedua, membangun harapan untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua pada akhir zaman atau parousia, sebagai Hakim Agung bagi segala makluk.  

Dan ketiga, menyambut kedatangan Yesus yang lahir setiap saat di dalam hati dan hidup kita masing-masing.  Karena itu, adventus adalah saat  penuh rahmat di mana Allah mau menyatakan DiriNya dan melawati kita umatNya. 

Bacaan-bacaan hari ini mengartikan  adventus sebagai masa siaga dan berjaga-jaga. Kita siaga dan berjaga-jaga untuk menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman. 

Nabi Yesaya melihat barisan bangsa-bangsa berduyun-duyun “naik ke gunung Tuhan ke Rumah Allah Israel”, (Yes 2:4), yakni Yerusalem Surgawi, tempat bahagia dan damai abadi. Inilah masa penantian penuh harapan bagi bangsa Israel dan seluruh umat beriman.

Dalam Injil Yesus berkata, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada waktu mana Tuhanmu datang”, (Luk  Luk 24:42). Kedatangan Tuhan yang tak terduga ini akan menjadi saat penghakiman dan pemisahan. 

Tetapi kita tidak perlu cemas atau takut. Sebab orang yang setia dan senantiasa siaga dalam hidup dan karyanya akan dibenarkan. Sedangkan orang yang lalai dan gagal akan dihukum dan binasa. Kita adalah umat Allah yang berjalan sambil siapkan diri untuk menyambut Tuhan yang datang.  

Tetapi,  kita bertanya: apa yang harus kita buat selama masa adventus ini?  Mungkin ada yang sudah punya rencana tertentu untuk dilaksanakan. 

Pada prinsipnya  kita hendaknya bersikap seperti   hamba-hamba  atau pelayan bijaksana  yang selalu siap membuka pintu dan menyambut kedatangan tuannya kapan saja. 

Atau, memiliki sikap siaga dan waspada seorang tuan rumah yang melindungi keamanan rumah dan harta kekayaannya dari incaran pencuri. 

Dan, bagaimana kita wujudnyatakan tindakan menanti dan berjaga-jaga?  Persiapan diri dan berjaga-jaga selama masa adventus tidak hanya menuntut disposisi bathin atau sikap hati tertentu, melainkan tindakan nyata seperti: bertobat, berdoa dan berbuat kasih. 

Tiga kata kerja ini menunjukkan bahwa masa adventus menekankan sikap aktif dan dinamis. Bukan sekedar berdiam diri tanpa lakukan apa pun. 

Pertama, bertobat. Yesus mengangkat contoh orang-orang di zaman Nuh yang tenggelam di dalam kenikmatan duniawi dan pesta pora. Akibatnya mereka lupa akan Tuhan dan sesama. 

Mereka mengutamakan kepentingan diri sendiri di dunia ini lalu mengabaikan Tuhan dan kehendakNya. Orang lupa akan kehidupan bersama Allah di masa yang akan datang. 

Karena itu, bagi kita menanti tidak berarti berdiam diri tanpa melakukan apa-apa sampai saat datangNya Tuhan. Sebaliknya, masa adventus adalah kesempatan untuk membenahi diri, bertobat dari dosa-dosa,   berdoa dan berbuat kasih. 

Kita diminta untuk menghayati suatu pertobatan sejati atau  pertobatan hati, yakni membenahi seluruh hidup sehingga  sungguh-sungguh menjadi baru dan layak untuk menerima Yesus sebagai hakim adil, Raja hidup  dan Tuhan kita. 

Bertobat  bukan sekedar menyesal dengan kata-kata, melainkan  terutama tekad untuk membaharui diri dan hidup dalam Roh Kudus, serta  kesediaan untuk terus-menerus berusaha menjadi manusia baru.

Kedua, berdoa. Adventus adalah kesempatan untuk membangun dan meneguhkan iman dan harapan. Umat Israel hidup dari pengharapannya. 

Gereja pun hendaknya membangun iman dan pengharapan melalui  ketekunan doa dan ibadah. Sebab kendati pun ada banyak tantangan, kesulitan, dan masalah, kita hendaknya tetap beriman dan berharap kepada Allah. 

Janganlah cepat putus asa dan mati rasa (apatis). Kita memang punya alasan untuk berharap karena Allah selalu setia pada janjiNya. Mungkin terkadang kita ingkar janji, tetapi Allah tetap setia. 

Ia tidak pernah ingkar janji. Merayakan adventus berarti membangun niat untuk berkanjang dalam doa dan ibadah sebagai jalan untuk terus-menerus meneguhkan kembali harapan dan iman kita kepada Allah.

Ketiga, berbuat kasih. Adventus juga menjadi kesempatan untuk merenungkan makna hidup kita sebagai pengikut Kristus. 

Yesus datang ke dunia untuk mengasihi dan melayani. Ia tidak hanya berkotbah tentang cinta  dan pelayanan. Dia melakukan apa yang  Dia ajarkan, dan mengajarkan apa yang dihayati dan dipraktekkanNya. 

Dia mengajar dengan hidupNya sendiri demi kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan umat manusia. Kita pun dipanggil mengikuti Yesus. Artinya, mau  melayani dan mengasihi sesama khususnya mereka yang sakit, menderita dan terlupakan, serta membuat dunia ini menjadi lebih baik, sejatera, adil, lebih nyaman dan manusiawi.

Semoga kita dapat memanfaatkan masa adventus dan waktu berahmat ini dengan baik agar kita pun berkenan masuk dalam kebahagiaan abadi bersama Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita. Amen.

Kewapante, Minggu, 27 November 2022. ***