Iman Kepada Allah dan Tanggung Jawab Terhadap Sesama

Selasa, 02 Juni 2026 07:57 WIB

Penulis:Redaksi

gregor nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri diedit AI)

Pesan Inspiratif

Oleh Pater Gregor Nule, SVD
Selamat pagi saudara/iku dan selamat menjalani hari baru ini dengan penuh syukur.

Hidup merupakan suatu anugerah cuma-cuma dari Allah. Allah menciptakan dunia dan segala isinya, termasuk manusia karena kasih.

Maka kita mestinya membalas kebaikan Allah itu dengan memberi. Memberi kepada Allah dan sesama sebetulnya bukanlah kewajiban, melainkan wujud syukur, terima kasih dan tanggungjawab..

Kita telah menerima semuanya dengan cuma-cuma maka kita mesti mengembangkan dan mengelolanya sehingga menghasilkan buah.  Dan buah-buah itu hendaknya kita abdikan kepada Tuhan dan bagikan kepada sesama.

Itulah sebabnya ketika menanggapi  pertanyaan orang Farisi dan Herodian tentang kewajiban membayar pajak, Yesus berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah, (Mrk 12:17).

Sebagai warga negara dan umat beriman membayar pajak dan kewajiban lainnya merupakan keharusan. Membayar pajak dan kewajiban lainnya merupakan ungkapan syukur dan tanggung jawab terhadap semua yang telah kita terima.

Allah tidak menuntut apa pun  dari kita, termasuk ungkapan syukur. Tetapi, semua yang kita lakukan bagi Allah merupakan pengakuan bahwa tanpa Allah kita tidak bisa buat banyak hal baik dan benar.

Hidup, kemampuan fisik dan intelektual, ketrampilan, waktu, kesehatan, kemampuan bernyanyi, bermain musik dan bersandiwara, merupakan pemberian Tuhan. Kita syukurinya dan bagikan untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan sesama.  

Sakit, penyakit, bencana alam  dan  kematian mungkin dilihat sebagai kenyataan yang mencemaskan, menakutkan bahkan merugikan. Dan, umumnya manusia cenderung menolak dan menjauhkannya.

Kenyataan-kenyataan di atas sepintas selalu ada usaha untuk menolak dan menjauhinya. Meski demikian, bisa menjadi kesempatan untuk menyadari eksistensi serta mutu hidup dan kerja kita.

Ketika sakit kita belajar menjaga pola hidup, relasi dan pola makan yang menjamin kesehatan jiwa dan badan kita.

Ketika hadapi kematian kita disadarkan bahwa hidup dan mati ada dalam kuasa dan kebijaksanaan Allah. Kita juga sadar bahwa waktu hidup kita tidak kekal.

Semoga Tuhan menuntun hati dan pikiran kita sehingga kita senantiasa sadar akan hak dan kewajiban di hadapan Allah dan sesama.

Kewapante, 02 Juni 2026. ***