Indonesia dan Perang AS–Israel vs Iran: Moral, Minyak, dan Realitas

Kamis, 12 Maret 2026 11:43 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

pangkalan minyak.jpg
Sebuah pangkalan minya Iran diledakan oleh pasukan Israil-AS, Sabtu (11/3). (Al Jazeera)

Oleh: Yosef F. Naiobe*

KETIKA konflik antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel semakin memanas, banyak orang di Indonesia langsung memposisikan diri secara moral: siapa yang benar, siapa yang salah. Media sosial penuh dengan slogan solidaritas, doa, bahkan kemarahan. 

Namun jika dilihat dari perspektif yang lebih dingin, yakni geopolitik dan kepentingan nasional, posisi Indonesia sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar dukungan ideologis.

Indonesia bukan pemain militer di Timur Tengah. Tetapi Indonesia juga bukan penonton yang benar-benar jauh dari perang itu.

Ada satu fakta sederhana: Indonesia adalah negara yang sangat sensitif terhadap konflik di Timur Tengah karena energi. Ketika perang pecah dan jalur energi global terganggu, harga minyak melonjak dan langsung mengguncang ekonomi negara-negara Asia. 

Bahkan beberapa negara Asia Tenggara sudah mulai menerapkan kebijakan penghematan energi karena dampak konflik ini terhadap harga minyak dunia. 

Baca juga:

Jadi,  bagi Indonesia, perang di Timur Tengah bukan sekadar isu solidaritas agama atau moral, tetapi juga persoalan dapur nasional.

Di sinilah paradoks Indonesia muncul.

Secara politik domestik, Indonesia memiliki sentimen publik yang kuat terhadap isu Palestina dan sering memandang Israel sebagai simbol kolonialisme modern. 

Namun dalam konflik baru ini, Indonesia tidak serta-merta memihak Iran. Pemerintah tetap berpegang pada prinsip diplomasi klasik Indonesia: politik luar negeri bebas dan aktif. 

Artinya, Indonesia tidak masuk blok siapa pun, tetapi mencoba berperan sebagai penengah.

Bahkan pemerintah Indonesia menawarkan diri sebagai mediator untuk mendorong dialog antara Washington dan Teheran. 

Lalu, muncul pertanyaan menarik: apakah dunia masih membutuhkan mediator seperti Indonesia?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu disadari bahwa realitas geopolitik hari ini berbeda dengan era Konferensi Asia-Afrika 1955. Pada masa itu, Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, memiliki posisi moral yang kuat sebagai kekuatan ketiga antara blok Barat dan Timur. 

Baca juga:

Tetapi hari ini, konflik global sering kali ditentukan oleh kekuatan militer, teknologi, dan ekonomi raksasa.

Indonesia memiliki legitimasi moral, tetapi harus diakui bahwa pengaruh strategisnya terbatas, kalau tak mau dibilang masih lemah..

Ironisnya, justru di situlah kekuatan Indonesia.

Indonesia tidak memiliki pangkalan militer di Timur Tengah. Indonesia tidak memiliki kepentingan nuklir di kawasan itu. Indonesia juga tidak menjual senjata ke pihak-pihak yang berperang. Dengan kata lain, Indonesia relatif tidak memiliki agenda tersembunyi.

Dalam dunia yang penuh kepentingan keras, posisi “tidak punya kepentingan langsung” kadang justru menjadi modal diplomasi.

Namun peran Indonesia juga tidak boleh terlalu romantis. Diplomasi damai sering terdengar indah, tetapi perang modern sering berjalan tanpa menunggu mediator.

Konflik ini sendiri telah memperlihatkan betapa kerasnya realitas geopolitik. Serangan militer Amerika dan Israel terhadap Iran telah memicu eskalasi regional dan serangan balasan yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah. 

Dalam situasi seperti ini, mediator sering datang setelah kerusakan sudah terjadi.

Karena itu, mungkin peran paling realistis Indonesia bukanlah menjadi “penyelamat dunia”, melainkan penjaga stabilitas global dari pinggiran.

Indonesia bisa melakukan tiga hal yang lebih konkret:Pertama, menjaga jalur diplomasi tetap terbuka dengan semua pihak.

Kedua, melindungi warga negara Indonesia di kawasan konflik. Ketiga, memastikan ekonomi domestik tidak terlalu rentan terhadap guncangan energi global.

Peran ini mungkin terdengar kecil dibandingkan retorika geopolitik besar. Namun justru di situlah kebijaksanaan diplomasi negara menengah.

Dalam dunia yang penuh blok kekuatan, Indonesia mungkin tidak menjadi pemain utama di papan catur Timur Tengah.

Tetapi Indonesia masih bisa menjadi suara kewarasan di tengah dunia yang semakin mudah memilih perang daripada dialog.

Dan kadang, dalam sejarah, suara kewarasan itu justru yang paling langka. ***

*Penulis, jurnalis porostimur.co. *

Catatan: Tulisan ini telah ditayangkan di porostimur.co, Kamis (12 Maret 2026) pagi. Ditayangkan ulang atas izin  penulis. ***