Orang tua
Kamis, 13 Agustus 2026 23:32 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Oleh Silvia Sea*
SETIAP 17 Agustus, Indonesia selalu diramaikan oleh hal-hal yang hampir sama: lomba, bendera, drum band, dan karnaval. Jalanan penuh warna. Musik menggelegar. Anak-anak tampil dengan kostum terbaik dan paling heboh.
Namun, pada 2026, di tengah kebijakan pemerintah yang menekankan efisiensi anggaran dan kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, kemeriahan karnaval menghadirkan pertanyaan yang tidak nyaman: apakah kita sedang merayakan kemerdekaan bangsa dari kolonialisme, atau justru memaksa rakyat berutang demi sebuah kemeriahan semu nasional?
Ini bukan soal menolak perayaan kemerdekaan. Ini soal kejujuran. Sebab, di balik sorak-sorai dan kemeriahan, ada orang tua yang diam-diam pusing memikirkan biaya.
Ada yang harus menambah utang di warung, menunda membayar listrik, bahkan mengorbankan kebutuhan rumah tangga agar anaknya tetap bisa ikut karnaval.
Ironi perayaan 17 Agustus 2026 itu tergambar dari kisah sebuah keluarga, sebut saja keluarga Mawar.
Tahun ini, tiga anak Mawar terlibat dalam karnaval: dua masih duduk di bangku SD dan seorang kakaknya di SMP. Mereka mengikuti drum band. Kebutuhannya pun cukup banyak: sewa alat musik, mahkota, stoking, kostum, dan berbagai pernak-pernik lainnya.
Semua harus tersedia. Sebisa mungkin harus baru. Dan, tentu saja, harus terlihat bagus.
Belum lagi biaya salon untuk merias anak-anak. Di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat, pengeluaran tersebut tentu bukan jumlah kecil.
“Saya sempat konfirmasi ke pihak sekolah,” ujar Mawar dengan nada pasrah. Jawaban yang diterimanya singkat: “Itu ditanggung orang tua.”
Di satu sisi, Mawar tentu bangga. Anak-anaknya pun bahagia. Mereka bisa berjalan di depan, disoraki warga, difoto, bahkan tampil di media sosial.
Namun, di sisi lain, ia harus memutar otak.
Utang di warung bertambah. Kebutuhan rumah tangga harus dikurangi. Ada pembayaran yang terpaksa ditunda.
Kemerdekaan yang seharusnya menjadi milik semua rakyat ternyata memiliki harga. Dan harga itu sering kali dibayar oleh orang tua.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas PKO Kabupaten Sikka, Patris Pederiko, memberikan penjelasan.
“Kami tidak pernah menginstruksikan panitia dan sekolah untuk membebankan kepada para siswa dan orang tua. Bahkan kami batasi peserta karnaval dan jumlah kendaraan. Jadi, soal pakaian, perlengkapan dan aksesori dari peserta karnaval, itu atau biaya lainnya, tak diatur oleh Dinas PKO atau pun panitia. Tidak ada sama sekali imbauan dari dinas dan panitia, bahwa peserta harus menyediakan pakaian, peralatan dan asesoris yang mahal apalagi mewan,” ungkap Patris kepada Floresku.com.
Baca juga:
Memang, secara administratif, pernyataan tersebut dapat dipahami: panitia tidak menetapkan iuran atau pungutan resmi. Namun, secara sosiologis, persoalannya tidak sesederhana itu.
Ketika sesuatu tidak diatur, bukan berarti tekanan sosial tidak ada.
Di ruang kosong itulah aturan tidak tertulis bekerja: kompetisi gengsi.
Ketika sekolah A tampil dengan kostum mewah, sekolah B merasa tidak boleh kalah. Ketika satu kelompok menggunakan jasa salon, kelompok lain merasa harus melakukan hal yang sama. Ketika satu kelas menyewa perlengkapan mahal, orang tua kelas lain pun merasa harus mengikutinya.
Panitia mungkin tidak mematok ketentuan dan biaya. Tetapi tekanan sosial bisa menjadi “pungutan” yang jauh lebih berat daripada iuran resmi.
Inilah paradoks yang patut direnungkan pada 2026.
Di tingkat nasional, pemerintah berbicara tentang efisiensi, penghematan, dan pengetatan anggaran. Masyarakat juga terus didorong untuk hidup hemat di tengah biaya kebutuhan yang semakin berat.
Namun, di tingkat masyarakat, perayaan kemerdekaan terkadang justru bergerak ke arah sebaliknya: semakin meriah, semakin mahal.
Kita tidak sedang mempersoalkan semangat merayakan kemerdekaan. Yang perlu dipersoalkan adalah ketika ukuran keberhasilan sebuah perayaan ditentukan oleh seberapa mahal kostum, seberapa besar drum band, atau seberapa mewah penampilan peserta.
Kemerdekaan seharusnya tidak membuat rakyat semakin terbebani.
Jangan sampai kita terlalu hemat dalam hal-hal yang menyangkut kebutuhan dasar, tetapi boros dalam simbol dan gengsi.
Bagian paling menyakitkan dari persoalan ini adalah ketika anak-anak dari keluarga miskin dikondisikan untuk tampil penuh gaya di ruang publik.
Hal ini memang penuh risiko sosial yang berbahaya.
Di tengah persiapan perayaan Hari Kemerdekaan, beredar sebuah unggahan di media sosial yang mengisahkan seorang ayah mencuri pakaian bekas di RB Pasar Alok senilai sekitar Rp25 ribu.
Alasannya sungguh menyayat hati: agar anak-anaknya tetap bisa mengikuti karnaval dan tampil seperti teman-temannya.
Jika kisah tersebut benar, maka persoalannya jauh lebih serius daripada sekadar pencurian sebuah pakaian.
Ada tekanan sosial di belakangnya. Ada rasa malu. Ada ketakutan seorang ayah jika anaknya diejek karena tidak memiliki pakaian baru.
Di titik ini, karnaval berisiko kehilangan maknanya sebagai perayaan kebangsaan. Ia justru dapat berubah menjadi ruang produksi rasa rendah diri, utang, dan tekanan sosial.
Apakah ini yang kita sebut semarak kemerdekaan?
Kita telah 80 tahun merdeka. Namun, cara merayakan kemerdekaan tidak seharusnya terjebak pada logika bahwa semakin mahal dan meriah, semakin besar pula rasa cinta tanah air.
Semangat kemerdekaan justru lahir dari kesederhanaan, solidaritas, keberanian, dan gotong royong.
Para pejuang kemerdekaan tidak menunggu pakaian mewah untuk berjuang. Mereka tidak membutuhkan panggung megah untuk menunjukkan nasionalisme.
Karena itu, karnaval tetap bisa meriah tanpa harus membuat orang tua berutang, apalagi mencuri.
Pertama, panitia perlu mendorong “karnaval hemat”.
Buat imbauan resmi bahwa kostum tidak harus baru, aksesori tidak harus mahal, salon tidak wajib, dan perlengkapan tidak harus disewa dengan biaya besar.
Kreativitas menggunakan barang bekas justru perlu mendapatkan apresiasi lebih tinggi. Jadikan kemampuan berhemat sebagai kebanggaan, bukan sesuatu yang memalukan.
Kedua, jangan menjadikan orang tua sebagai ATM tunggal.
Jika anggaran pemerintah terbatas, panitia dapat melibatkan dunia usaha melalui CSR, BUMD, komunitas, atau gotong royong warga.
Misalnya, kontribusi Rp10 ribu dari 100 keluarga akan jauh lebih ringan dibandingkan membebankan Rp1 juta kepada satu keluarga.
Ketiga, ubah cara kita menilai karnaval.
Jangan hanya memberikan penghargaan kepada kelompok dengan kostum paling mewah, drum band paling besar, atau aksesori paling mahal.
Berikan penghargaan kepada kelompok yang paling kreatif, paling kompak, paling sederhana, tetapi mampu menyampaikan pesan kebangsaan yang kuat.
Drum band tidak harus selalu menggunakan peralatan mahal. Musik tradisional, gendang, bambu, atau alat musik sederhana juga dapat menjadi bagian dari karnaval.
Peserta bahkan dapat mengenakan sarung atau pakaian adat yang mudah diperoleh. Yang penting bukan kemewahan penampilan, melainkan pesan dan semangat patriotisme yang dibawa.
Ibu Mawar mungkin tetap akan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Begitulah cinta orang tua. Anak tidak boleh merasa berbeda hanya karena kondisi ekonomi keluarganya.
Tetapi negara, sekolah, dan masyarakat tidak boleh membiarkan cinta orang tua berubah menjadi beban ekonomi.
Kemerdekaan sejati adalah ketika anak petani, anak nelayan, anak pedagang, dan anak pegawai dapat berjalan dalam satu barisan tanpa ada yang merasa minder karena pakaian atau perlengkapannya.
Jika pada 2026 masih ada orang tua yang sampai terpaksa mencuri demi membuat anaknya bisa mengikuti karnaval, maka kisah itu harus menjadi bahan introspeksi kita bersama.
Itu bukan sekadar persoalan seorang ayah yang melakukan kesalahan. Itu juga tamparan bagi masyarakat yang mungkin tanpa sadar telah menciptakan standar gengsi dalam sebuah perayaan yang seharusnya milik semua orang.
Kita berteriak “Merdeka!”, tetapi jangan sampai batin kita masih terjajah oleh gengsi.
Tahun ini belum terlambat. Mari kita mengembalikan 17 Agustus kepada makna sejatinya: perayaan yang membahagiakan, bukan membebani; perayaan yang menyatukan, bukan membedakan; perayaan yang membanggakan, bukan membuat orang miskin merasa malu.
Rayakan kemerdekaan dengan hati riang, bukan dengan hati susah karena terbeban utang.
Sebab, kemerdekaan yang membuat rakyat semakin terbebani bukanlah kemerdekaan yang sesungguhnya. Itu hanya pesta yang dibayar dengan air mata.
Penulis adalah jurnalis Floresku.com, Koordinator Peliputan wilayah Maumere dan sekitarnya.