KASIH, DASAR HIDUP DAN KARYA PARA MURID KRISTUS

Sabtu, 09 Mei 2026 17:30 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

gregor nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

(Minggu Paskah VIA: Kis 8:5-8.14-17; 1Pet 3:15-18; Yoh 14:15-21)

Sepanjang sejarah keselamatan, Allah, melalui Yesus PuteraNya dan utusan-utusanNya, dengan pelbagai cara  mengundang dan menawarkan jalan  yang menghantar kita kepada keselamatan dan hidup. 

 Pesan utama bacaan-bacaan suci hari ini adalah kasih Allah yang luhur dan tak terbatas bagi kita umatNya. Kasih Allah itu tampak dalam pelbagai bentuk dan perwujudannya.

 Dalam bacaan pertama Allah mengutus Filipus mewartakan khabar sukacita Yesus kepada orang-orang Samaria yang belum mengenal Allah supaya mereka pun mendapatkan kesempatan untuk mengalami  kasih Allah. 

Karya pewartaan Filipus di Samaria sungguh berhasil. Banyak orang mulai mengenal Allah, percaya kepadaNya dan hidup sesuai dengan Allah. 

Buah iman itu terbukti bahwa, banyak orang lumpuh dan orang yang kerasukan roh jahat menjadi sembuh. Mereka alami sentuhan kasih Allah.

 Selain itu, Petrus dan Yohanes berdoa meminta Roh Kudus agar hadir di tengah jemaat Samaria sehingga mereka hidup dalam kuasa Roh Kudus. 

Sebab Rohkudus tidak hanya membimbing  dan memenuhi hati  orang tertentu saja, melainkan semua orang yang sungguh percaya kepada Allah dan membuka diri terhadap kuasa Allah. 

Karena itu, dalam bacaan kedua rasul Petrus mengingatkan agar setiap orang yang percaya kepada Allah dan hidup di dalam Roh Kudus hendaknyamberani menpertanggung jawabkan karunia imannya dalam hidup sehari-hari.

Artinya, karunia Rohkudus itu tidak boleh digunakan untuk kepentingan sendiri dan kelompok terbatas,  melainkan demi kepentingan dan  kebaikan banyak orang.  Kasih Allah tidak bersifat tertutup, melainkan terbuka dan merangkul siapa saja.

Yesus sendiri, dalam Injil hari ini, memaklumkan  kasih sebagai hukum utama Kerajaan Allah.  Kasih harus menjadi spirit yang menyemangati dan menjiwai hidup orang-orang beriman. 

Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku kamu akan menuruti segala perintahKu. Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran, supaya Ia menyertai kamu untuk selama-lamanya”,(bdk Yoh 14:15-17). 

 Yesus juga  minta para muridNya dan kita sekalian untuk mengsihiNya dengan menuruti perintahNya, sebagaimana Ia mengasihi Bapa dan menuruti segala perintah Bapa. 

Di sini jelas, bahwa Yesus adalah Guru dan teladan kasih. Ia menyatakan kasih itu lewat kata-kata yang meneguhkan serta memberi semangat baru lewat perhatian dan sikap tulus yang memulihkan harga diri. 

 Yesus juga menunjukkan kasihNya lewat tindakan-tindakan yang membebaskan dan menyelamatkan sampai korbankan diriNya di salib sebagai wujud kasih yang paling agung. 

 Karena itu, para murid dan kita sekalian harus belajar dari Yesus bagaimana menghayati kasih  kepada Allah dan sesama.  Kita mengasihi Allah dan sesama bukan hanya dengan kata-kata, tetapi terutama lewat sikap dan perbuatan.

 Yesus juga menjamin turunnya Roh Kebenaran bagi kita, asalkan kita mentaati perintahNya.

 Roh kebenaran itu membimbing kita di jalan hidup yang baik dan benar, mengajarkan kita untuk terus-menerus berdoa dan berpaling kepada Allah dalam situasi apa pun. Kehadiran Rohkudus mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah membiarkan kita sendirian seperti yatim-piatu.

 Ketika hidup kita berjalan baik dan lancer, semuanya aman-aman saja. Tetapi, ketika berhadapan dengan pelbagai masalah hidup, sering muncul aneka reaksi dan sikap yang berbeda-beda. Ada yang menunjukkan sikap iman yang sungguh, berdoa dan mencari perlindungan pada Tuhan, sambil berusaha mencari jalan keluar yang baik.

 Tetapi, ada yang bimbang dan ragu terhadap janji Allah bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Mereka mulai putus asa, menjauhkan diri dari Tuhan dan sesama, lalu mencari solusi sendiri atau mengambil jalan pintas.

Sebagai orang beriman kita hendaknya memiliki sikap bijaksana dan tindakan tepat, sebab dalam situasi apapun kita tidak pernah boleh melupakan Allah sebagai Penolong kita. 

Kita mesti yakin bahwa Allah tetap menyertai dan melindungi kita. Kita juga tidak boleh melupakan sesama sebagai rekan perjalanan di dalam ziarah hidup ini. 

 Sikap berserah pada Tuhan, menaruh harapan pada sesama dan kerelaan untuk peduli terhadap nasib sesama adalah panggilan setiap orang kristiani untuk mengasihi. Kasih sejati bukan sekedar niat yang baik atau ucapan kata-kata manis, melainkan tindakan nyata yang menuntut kerelaan untuk berkorban demi kebaikan orang lain. 

Sebab terluka atau disakiti lantaran berbuat kasih merupakan buah dari perjuangan untuk mengasihi Allah dan sesama, serta tanda bahwa kita adalah orang kristen sejati. 

Petrus berkata, “…..Lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat”, (1Pe 3:17).

Kasih yang tampak dalam sikap hidup dan perbuatan-perbuatan merupakan ukuran identitas kita sebagai pengikut Kristus dan sekaligus ukuran kualitas iman kita.        Karena itu, kita tetap saja berbuat kasih, kendatipun ada orang yang tidak senang dan  menolaknya atau bahkan membenci kita. 

Mari kita membiarkan diri dijiwai oleh Roh Kebenaran sehingga kita sanggup menjadi penyalur kasih Allah yang membebaskan, meneguhkan dan menyelamatkan banyak orang di sekitar kita. 

 Semoga Tuhan Yesus memberkati dan beserta kita selalu. Amin.

Kewapante, Minggu, 10 Mei 2026. ***