Kemenpar Promosikan 6 Desa Wisata sebagai Destinasi Edukasi bagi Pelajar

Kamis, 08 Oktober 2026 16:44 WIB

Penulis:Redaksi

dessawa.jpeg
salah satu contoh dewsa wisata (istimewa)

JAKARTA (Floresku.com) – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mendorong pengembangan desa wisata sebagai destinasi wisata edukasi atau edutrip bagi pelajar.

Langkah tersebut dilakukan dengan mempromosikan enam desa wisata terpilih kepada sekolah-sekolah di Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat menjembatani kebutuhan kurikulum pendidikan dengan pengalaman belajar langsung di destinasi wisata.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan, promosi secara langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah penting untuk membangun keterhubungan antara kebutuhan pembelajaran dengan produk wisata edukasi yang tersedia di desa wisata.

“Melalui promosi dan pemasaran langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah, kami berharap tercipta keterhubungan antara kebutuhan kurikulum sekolah dan produk wisata edukasi yang ditawarkan desa wisata,” ujar Made dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

Enam desa wisata yang diperkenalkan sebagai destinasi edutrip unggulan tersebut yakni Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung; Desa Wisata Krebet di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Desa Wisata Les dan Desa Wisata Sudaji di Buleleng, Bali; Desa Wisata Bugisan di Klaten, Jawa Tengah; serta Desa Wisata Selamanik di Ciamis, Jawa Barat.

Pengenalan tersebut tidak hanya bertujuan menjadikan desa wisata sebagai tujuan rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar terbuka bagi siswa.

Melalui kunjungan ke desa wisata, para pelajar dapat mengenal budaya, alam, lingkungan, sekaligus kehidupan sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat secara langsung.

Dorong Paket Wisata yang Terhubung dengan Kurikulum

Made menilai keselarasan antara potensi desa wisata dengan kebutuhan kurikulum sekolah menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing wisata edukasi di Indonesia.

Karena itu, Kemenpar telah menjalankan berbagai program pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas serta kesiapan desa wisata dalam menerima kunjungan pelajar.

Penguatan dilakukan antara lain melalui pengembangan kurikulum wisata dan konsep pembelajaran berbasis pengalaman. Pengelola desa wisata didorong menyusun paket pembelajaran aktif yang dapat dikaitkan dengan berbagai mata pelajaran.

Materi tersebut dapat mencakup sains, kebudayaan, ilmu sosial, ekologi hingga kewirausahaan.

Dengan konsep itu, siswa tidak hanya berwisata, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar langsung dari lingkungan, budaya, kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat setempat.

Selain kualitas program pembelajaran, aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Desa wisata didorong memiliki prosedur keselamatan, manajemen risiko serta kesiapsiagaan yang sesuai dengan kebutuhan rombongan pelajar.

Baca juga:

Kemenpar juga mendorong adanya skema transaksi yang transparan. Salah satunya melalui penawaran harga khusus bagi rombongan sekolah dan pilihan pembayaran non-tunai sehingga institusi pendidikan lebih mudah merencanakan perjalanan wisata edukasi.

“Promosi wisata edukasi dan pemenuhan kualifikasi destinasi merupakan dua pilar utama dalam pengembangan wisata edukasi di desa wisata. Dengan demikian, desa wisata dapat menjadi mitra pembelajaran yang terpercaya bagi institusi pendidikan,” kata Made.

Buka Peluang Ekonomi bagi Masyarakat Desa

Kemenpar berharap keikutsertaan dalam ajang promosi tersebut dapat memperluas pemanfaatan desa wisata sebagai destinasi wisata edukasi yang berkelanjutan.

Masuknya segmen pelajar sebagai wisatawan juga dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat di desa wisata.

“Langkah ini sekaligus mendukung kampanye Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) serta memacu pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara dari segmen pelajar,” ujar Made.

Promosi enam desa wisata tersebut dilakukan dalam ajang 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026 yang berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober 2026 di SIS North East Jakarta (SIS NEJ).

Konvensi yang diselenggarakan oleh perkumpulan sekolah yang tergabung dalam Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia itu mengusung tema “Rooted in Heritage, Empowered by Humanity, Driven by Leadership.”

Saat ini, lebih dari 460 sekolah di Indonesia tercatat telah terdaftar dalam Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia.

Jumlah tersebut menjadi peluang bagi desa wisata untuk memperluas jangkauan pasar wisata edukasi sekaligus membangun kemitraan berkelanjutan dengan institusi pendidikan.

Bagi desa wisata, kolaborasi dengan sekolah juga membuka peluang menghadirkan model wisata yang tidak hanya mengandalkan kunjungan, tetapi menjadikan pengalaman di desa sebagai bagian dari proses pembelajaran siswa. (Sandra).***