Ketulusan Versus Kemunafikan

Jumat, 29 Mei 2026 08:10 WIB

Penulis:Redaksi

gregor nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri diedit AI)

Oleh Pater Grego Nule SVD

Selamat pagi saudara/iku dan selamat memasuki hari baru ini dengan penuh rasa syukur.

Manusia itu suatu misteri besar. Ia bisa membohongi kita dengan penampilannya. Ia tampil luar biasa, berkata lembut dan manis tetapi hatinya kotor dan penuh dengan kebusukan.

Ada juga orang yang kelihatannya tidak ramah, mukanya seram menakutkan tetapi punya hati yang baik dan lembut. Orang merasa nyaman jika mendekati dan ada bersamanya.

Perikop Injil Mark 11:11-26 menampilkan sikap Yesus  yang tegas melawan kemunafikan.

Ketika melihat pohon ara yang berdaun rimbun, tetapi tidak ada buahnya maka Yesus mengutuknya sehingga menjadi kering dari atas sampai ke akarnya.

Yesus juga mengusir orang-orang yang berjualan di halaman Bait Allah Yerusalem dan melarang orang lalu lalang sambil membawa barang dagangan di halaman Bait Allah.

Lalu Yesus ingatkan dan  mengajar mereka  kataNya, "Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut Rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi, kalian ini telah menjadikannya sarang penyamun", (Mrk 11: 17).

Dalam hidup sehari-hari kita bisa saja omong besar tapi tidak buat apa-apa atau tindakan kita bertentangan dengan kata-kata dan nasehat kita.

Sering kita seperti pohon ara tampil meyakinkan dalam kata, pengajaran dan nasehat, tetapi hidup, sikap dan tingkah laku kita  lain sekali, negatif dan tidak berkenan.

Atau sering kita  seperti para pemuka agama Yahudi, orang Farisi dan ahli taurat yang tuntut ketaatan pada hukum taurat, tetapi buat kebijakan yang menguntungkan mereka.

Mungkin orang-orang yang diizinkan berjualan di pelataran Bait Allah adalah 'orang-orang dalam'. Atau ada taktik tertentu yang menguntungkan mereka. Dan, Yesus sudah mengetahui semua gelagat kotor itu.

Karena itu, kita hendaknya menjadi pohon ara yang bukan hanya berdaun rindang, tetapi juga berbuat lebat untuk kepentingan yang lain.

Kita diharapkan menghasilkan buah kasih, kebaikan, kebenaran dan keadilan demi kepentingan banyak orang. Kita tidak boleh berusaha hanya menguntungkan diri lalu tidak memberi kesempatan kepada  orang  lain.

Atau kita memanfaatkan orang lain untuk kepentingan diri, kelompok kita atau segelintir orang  saja.

Tuhan menghendaki kita menjadi manusia yang hidup untuk kepentingan umat manusia dan demi kemuliaan Allah di bumi.

Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!

Kewapante, 29 Mei 2026. ***