KITA DIUTUS MENJADI SAKSI YANG SETIA

Sabtu, 20 Juni 2026 17:17 WIB

Penulis:Redaksi

gregor nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri diedit AI)

   Homili   (Minggu Biasa XIIA: Yer 20:10-13; Rom 5:12-15; Mat 10:26-33)

Bacaan-bacaan suci hari ini mengingatkan kita akan dua kenyataan yang saling bertolak belakang dan harus disadari oleh setiap pengikut Kristus yang sejati. 

Pertama, tugas perutusan yang dipercayakan Allah kepada para utusanNya penuh risiko dan bahkan menuntut banyak pengorbanan, termasuk korban nyawa. 

Yeremia menghadapi tantangan dari segala penjuru. Ia dikejar, dinistai dan difitmah  oleh musuh-musuh, termasuk sahabat-sahabat karibnya sendiri, yang mengintainya jangan-jangan ia tersandung dan jatuh sehingga bisa diolok-olok. 

Yesus juga mengingatkan para muridNya dengan berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala; sebab itu, hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat 10:16). 

Kedua, Allah tetap dan terus menjamin keselamatan dan keberhasilan para utusanNya yang setia.  

Itulah sebabnya Yeremia tidak pernah merasa cemas atau takut ketika berhadapan dengan lawan-lawannya,  karena  yakin bahwa Tuhan menyertainya laksana pahlawan yang gagah. Sebaliknya, orang-orang yang mengejarnya  menyerah kalah, mereka tersandung jatuh dan tidak bisa buat apa-apa. 

Yesus pun mengingatkan para muridNya agar tidak takut kepada siapa pun, termasuk orang yang melawan atau memusuhi mereka. Tetapi, Yesus minta supaya hanya  takut  kepada Allah. Artinya, percaya kepada Allah yang menjamin kepastian dalam segala-galanya.  Allah yang menghidupkan dan mematikan. 

Sebagai umat Allah, kita juga memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama di dalam membangun iman dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia dan lingkungan hidup kita. 

Karena itu, semua murid Yesus tidak boleh  malu menghidupi imannya dan segan atau takut berbicara dan hidup sebagai orang Kristen.  Memang perlu kita akui bahwa tantangan, hambatan dan kesulitan selalu ada. Tetapi, kita tidak perlu gentar menghadapi semuanya. 

Maka sikap yang perlu dibangun adalah percaya kepada Tuhan, berani memberi kesaksian hidup dan setia memberitakan khabar sukacita dalam situasi apa pun dan kepada siapa pun. Tidak seorang utusan pun boleh takut, berhenti dan mundur. 

Yesus berkata, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang memusuhimu, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup dan tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. 

Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah dari atap rumah”,(Mat 10:26-27), agar bisa didengar dan dimengerti oleh semua orang. 

Injil Kerajaan Allah adalah kebenaran maka tidak boleh disembunyikan atau ditutup-tutupi, melainkan mesti disebarluaskan, diperkenalkan, dipraktekkan atau dihayati sehingga menghasilkan buah-buah kehidupan, seperti kebaikan, kebenaran, keadilan dan kedamaian. 

Paus Leo XIV menantang kita untuk memanfaatkan perkembangan teknologi media sosial modern, seperti FB, Twitter, WA, youtube, Instagram, dll sebagai sarana dan jembatan pewartaan Injil. 

Kalau kita berani membagikan kepada siapa saja pelbagai berita tentang kesehatan, politik, ekonomi, rekreasi, kesempatan kerja, video-video ciptaan AI, dan bahkan berita-berita palsu lainnya, maka sudah sepantasnya kita membagikan pengalaman iman akan Allah yang hidup kepada orang lain, yang pasti akan membuahkan keteguhan, harapan dan kegembiraan. 

Mungkin di antara kita, ada yang masih ragu, takut atau malu omong tentang imannya atau tentang ajaran Kitab Suci lewat media sosial. Ingatlah akan peringatan Yesus sendiri: “Tetapi, siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapakKu yang di surga”, (Mat 10:33). 

Kita mesti ingat bahwa warta Injil dan perintah-perintah Allah mesti diwariskan turun-temurun sampai akhir zaman. Inilah tugas dan tanggung jawab setiap pengikut Kristus dalam segala zaman. 

Karena itu, satu hal yang mesti diingat selalu, yaitu  kita  harus takut terutama kepada Allah, Bapa, yang menciptakan, memelihara dan menjamin seluruh hidup kita. Kita takut kepada Allah yang menghidupkan dan mematikan. 

Rasa takut itu hendaknya terungkap lewat kesetiaan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah. 

Rasa takut kepada Allah juga menyata lewat kesadaran dan komintmen untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang tidak berkenan dan merugikan diri sendiri, sesama dan menyakiti hati Allah. 

Inilah rasa takut yang suci yang perlu kita bina dan tumbuhkembangkan setiap saat di dalam hati dan hidup kita sehari-hari.
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!

Kewapate, Minggu, 21 Juni 2026. ***