'Kraeng Salome', Jualannya Lebih Laris di Luar Kota Maumere

Rabu, 15 September 2021 15:01 WIB

Penulis:redaksi

Editor:Redaksi

KRARENG SALOME.jfif
Adrianus, Kreng Salome (Mardat)

MAUMERE (Floresku.com) - ‘Salome’. Barangkali banyak yang belum cukup familiar dengan dengan istilah ini. Salome adalah jajanan favorit warga Nusa Tenggara Timur, terutama di Kota Kupang. Panganan ini berbentuk bulat, kecil, terbuat dari terigu dan daging. Bentuk dan rasanya mirip bakso. Yang membedakan hanya “bakso” kecil ini digoreng lagi setelah dilumuri telur dan ketika akan disantap dilumuri lagi dengan bumbu kacang.

Sekarang jajan ini sudah hadir di Kabupaten Sikka. Seorang penjual salome yang biasa disapa, ”Kraeng Salome”,  cukup populer di kalangan warga Kota Maumere dan sekitarnya. Pasalnya, salome yang dijualnya sangat diminati pembeli mulai dari usia sekolah dasar sampai orang dewasa.

Kraeng Salome, nama aslinya Ardianus. Saban hari ia berjualan di pinggiran jalan, tepatnya di depan Kantor Desa Sikka, Kecamatan Lela.

Salome, dagangan Adrianus, 'Kraeng Salome."  (Foto: Mardat)

Kepada awak media ini, Kraeng Salome menceritakan bahwa berjualan salome atau pentolan di  desa lebih laris dan lebih banyak peminatnya daripada berjual salome di dalam Kota Maumere.

Pria yang berusia 30 tahun baru 1 tahun hidup di Kota Maumere. Ia mengatakan, dirinya ke Maumere mengikuti istrinya yang asli orang Maumere. Setelah berdomisili di Kota Maumere, ia memilih berjualan salome daripada bekerja sebagai supir anggkot.

Memang,  sebelumnya Adrianus bekerja sebagai seorang supir angkot di Kota Ruteng . “Sekarang saya beralih profesi menjadi penjual salome. Lebih santai dan pendapatannya juga lumayan berjualan salome. Kalau sebagai sopir 'kan s penghasilannya tidak menentu,” ujarnya.

“Mendingan jual salome keliling, hasilnya toh pasti,” tuturnya. 

Menurutnya, dengan berjuangan salome sehari ia bisa meraup 500 ratus ribu rupiah. “Hitungan bersihnya, sehari Rp 300 ribu. Total seminggu Rp 1.500.000, kalkulasinya demikian,” katanya lagi.

Adrianus mengisahkan, modal awal berjualan salome adalah 2 jutaan rupiah. '"Modal itu dipakai untuk membeli perlengkapan dagangan seperti dandang bakso, kompor serta membuat box untuk menaruh kompor dan dandang nya." tuturnya.

Modal awal berasal dari uang tabungannya disimpan waktu ia masih menjadi sopir anggkot di Kota Ruteng. Setelah pindah ke Maumere ia beralih menjadi penjual salome, dibantu oleh istrinya yang membuat olahan salome dan ia yang menjualnya keliling.

Setiap hari ia berjualan keliling dengan mengunakan sepeda motor Verzanya di pasar, sekolah dan terakhir di Desa Hepang. Demikian kisah hidup keseharian hidupnya. 

“Ya, muter-muter dapat duit, dari jam 10 pagi sampai jam lima sore, lalu pulang ke maumere tepatnya di kabor C,” tuturnya.

Adrianus menakui bahwa ia rela berjualan keliling demi menghidupi istri dan anak nya yang baru duduk di bangku PAUD. 

“Selama berjualan saya tidak pernah mendapatkan kendala apa pun. Pokoknya selama ini saya baik-baik saja,”tutupnya. (Mardat)