Laudato Si’ Luncurkan Atlas Digital Aksi Ekologi Katolik

Rabu, 04 November 2026 21:56 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

ekologi.jpeg
Konferensi Pers Peluncuran Laporan Tahunan Kelima Platform Aksi Laudato Si’. (vatican media)

ROMA (Floresku.com)  – Platform Aksi Laudato Si’ meluncurkan Atlas Digital (Digital Atlas) untuk memetakan berbagai inisiatif ekologis lembaga dan komunitas Katolik di seluruh dunia. 

Inovasi ini diharapkan memperkuat kolaborasi Gereja dalam menghadapi persoalan lingkungan hidup sekaligus mendorong komitmen ekologis menjadi tindakan nyata dan berkelanjutan.

Peluncuran Atlas Digital tersebut diumumkan dalam konferensi pers di Kantor Pers Takhta Suci Vatikan, Rabu, 4 November 2026, bersamaan dengan penyampaian laporan tahunan kelima Platform Aksi Laudato Si’.

Laporan tersebut mencatat peningkatan partisipasi komunitas Katolik, keterlibatan tarekat religius, serta berbagai kegiatan pelestarian lingkungan yang telah dilaksanakan di berbagai negara.

Dalam lima tahun sejak diluncurkan, Platform Aksi Laudato Si’ telah menghimpun lebih dari 13.600 peserta. Hingga 30 September 2026, tercatat sebanyak 13.652 akun telah terdaftar.

Prefek Dikasteri untuk Pelayanan Pembangunan Manusia Seutuhnya, Sr. Alessandra Smerilli, mengatakan ensiklik Laudato Si’ tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai dokumen yang dibaca, tetapi sebagai undangan untuk melakukan pertobatan pribadi dan komunitas.

“Sepuluh tahun bukanlah waktu yang lama dalam kehidupan Gereja, tetapi cukup untuk bertanya kepada diri sendiri apa yang terjadi ketika sebuah ensiklik mulai berakar: bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga dalam doa, tanah yang kita olah, kaum muda yang kita didik, dan keputusan-keputusan lembaga kita,” ujarnya.

Menurut Smerilli, kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak boleh ditempatkan sebagai persoalan tambahan dalam kehidupan Kristiani. Merawat ciptaan merupakan bagian integral dari panggilan iman, sebagaimana pesan Kitab Suci untuk mengolah dan memelihara taman Eden.

Partisipasi komunitas Katolik terus meningkat

Platform Aksi Laudato Si’ diluncurkan pada 2021 setelah Tahun Laudato Si’ yang dicanangkan Paus Fransiskus pada 2020.

Platform digital ini menjadi ruang bagi keluarga, paroki, sekolah, tarekat religius, keuskupan, dan berbagai lembaga Katolik untuk menyusun rencana aksi ekologi integral, melaksanakan kegiatan konkret, serta mengevaluasi perkembangan program mereka.

Data laporan menunjukkan bahwa jumlah pendaftaran kembali meningkat sepanjang 2026. Hingga September tahun ini, tercatat 2.081 pendaftaran baru, melampaui jumlah pendaftaran masing-masing dalam tiga tahun penuh sebelumnya.

Tarekat religius menjadi salah satu kelompok yang paling aktif. Diperkirakan sekitar 53 persen tarekat religius di seluruh dunia telah terdaftar dalam platform tersebut.

Berbagai kegiatan yang paling banyak dilakukan meliputi daur ulang sampah, pembelian bahan pangan dari produsen lokal, pembuatan kompos, serta penggunaan lampu hemat energi.

Laporan tersebut menegaskan bahwa banyak kegiatan ekologis dapat dimulai tanpa investasi besar maupun persetujuan kelembagaan yang rumit.

Atlas Digital memperkuat kolaborasi lintas keuskupan

Direktur Program Platform Aksi Laudato Si’, Alonso de Llanes, menjelaskan bahwa Atlas Digital dirancang untuk menghubungkan berbagai inisiatif ekologis lembaga Katolik dengan informasi geografis dan lingkungan.

Melalui perangkat interaktif tersebut, pengguna dapat menelusuri lembaga-lembaga peserta berdasarkan negara maupun keuskupan. Jika memperoleh izin, pengguna juga dapat mengakses rencana ekologis dan pengalaman yang dibagikan oleh lembaga-lembaga tersebut.

Atlas Digital turut mengintegrasikan informasi lingkungan, termasuk data deforestasi, emisi, dan wilayah yang memiliki risiko paparan badai siklon.

Dengan demikian, para pemimpin Gereja dan komunitas lokal dapat memahami kondisi lingkungan di wilayah masing-masing serta menemukan peluang kerja sama dengan komunitas lain.

De Llanes juga menyampaikan tiga prioritas pengembangan platform pada tahap berikutnya, yakni memperluas akses partisipasi, meningkatkan pemanfaatan data, dan membangun jaringan global Digital Missionaries atau Misionaris Digital.

Menjangkau komunitas dengan keterbatasan internet

Salah satu perhatian utama pengembangan platform adalah memastikan tidak ada komunitas yang tertinggal, khususnya masyarakat yang memiliki keterbatasan akses internet.

Untuk pertama kalinya, materi utama perjalanan Platform Aksi Laudato Si’ juga akan tersedia dalam bentuk cetak. Dengan demikian, komunitas dapat melakukan refleksi, menyusun rencana ekologis, menentukan kegiatan, dan mengevaluasi kemajuan tanpa harus selalu terhubung dengan internet.

Baca juga:

Platform tersebut juga akan mengembangkan Learning Hub sebagai pusat pembelajaran yang menyediakan sumber daya praktis dan pengalaman dari berbagai lembaga Katolik.

Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) sedang dieksplorasi untuk membantu peserta menemukan sumber informasi dan alternatif kegiatan ekologis yang relevan.

Namun, De Llanes mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan kebijaksanaan dan proses pertimbangan manusia.

“Kecerdasan buatan dapat membantu kita menemukan berbagai kemungkinan jawaban. Namun, teknologi tidak dapat memutuskan jawaban mana yang tepat bagi suatu komunitas,” katanya.

Dari menghitung kegiatan menuju perubahan nyata

Laporan tahunan kelima ini juga mengingatkan bahwa jumlah peserta dan banyaknya kegiatan yang dilaporkan belum tentu menunjukkan dampak lingkungan yang berkelanjutan.

De Llanes menegaskan bahwa keberhasilan program ekologis tidak cukup diukur dari jumlah pendaftar atau kegiatan yang telah diselesaikan.

“Pendaftaran adalah sebuah permulaan, bukan pencapaian. Sebuah rencana merupakan komitmen, tetapi belum menjadi hasil. Dan kegiatan yang dilaporkan selesai belum tentu menunjukkan perubahan yang terjadi,” jelasnya.

Ia memberikan contoh sebuah keuskupan di Nigeria yang memutuskan untuk tidak menanam pohon tambahan sebelum memiliki rencana yang dapat dipercaya untuk menyiram dan merawat pohon-pohon yang sudah ditanam.

Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya memastikan keberlanjutan program, bukan sekadar mengejar jumlah kegiatan.

Hingga 2031, Platform Aksi Laudato Si’ menargetkan 50.000 peserta, 20.000 lembaga Katolik, dan keterwakilan 1.000 keuskupan di seluruh dunia.

Tarekat religius menjadi penggerak pertobatan ekologis

Uskup Auksilier Emeritus Bombay, India, Mgr. Allwyn D’Silva, membagikan pengalaman pelaksanaan berbagai inisiatif ekologis di Keuskupan Agung Bombay.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah carbon fast selama masa Prapaskah. Melalui kegiatan ini, umat Katolik diajak mengurangi konsumsi listrik dan air serta penggunaan plastik.

Di Mumbai, persoalan lingkungan telah dirasakan langsung oleh masyarakat melalui banjir saat musim monsun, hilangnya kawasan hutan mangrove, dan meningkatnya suhu udara.

Baca juga:

Sejumlah paroki kemudian mengembangkan kegiatan pemanenan air hujan, pemanfaatan energi surya, pengurangan plastik sekali pakai, serta perlindungan keanekaragaman hayati.

Tahun sebelumnya, lebih dari 100 orang berkumpul di Mumbai untuk membahas rencana ekologis bersama bagi 125 paroki di Keuskupan Agung Bombay.

Mgr. D’Silva menekankan pentingnya kesinambungan program agar tidak berhenti ketika seorang imam atau relawan berpindah tugas.

“Puasa karbon berlangsung selama 40 hari. Namun, keputusan yang diambil lembaga-lembaga kita dapat membentuk kehidupan masyarakat selama puluhan tahun. Jika iman kita mampu mengubah pilihan selama 40 hari, mengapa iman itu tidak mengubah keputusan lembaga kita untuk 40 tahun mendatang?” ujarnya.

Sementara itu, Sr. Roxanne Schares, Sekretaris Eksekutif International Union of Superiors General (UISG), menyoroti kontribusi para suster religius dalam mengimplementasikan pesan Laudato Si’.

Sejak 2021, ribuan suster religius telah mengikuti pelatihan sebagai animator Laudato Si’ untuk menggerakkan pertobatan ekologis dalam tarekat, komunitas misi, dan masyarakat setempat.

Ia memberikan contoh para Suster Notre Dame di Korea Selatan yang berjalan bersama anak-anak dan masyarakat lokal menyusuri kawasan lahan basah pasang surut yang terancam kerusakan. Kegiatan tersebut berkembang menjadi gerakan pendidikan, solidaritas, dan advokasi lingkungan.

Di Sudan Selatan, para suster bekerja sama dengan petani lokal untuk memulihkan keterampilan pertanian yang hilang akibat konflik bersenjata dan pengungsian selama bertahun-tahun.

Program tersebut kemudian berkembang menjadi proyek pertanian berkelanjutan yang mendukung ketahanan pangan, perbaikan gizi, dan penghidupan masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

UISG sendiri mewakili hampir 600.000 suster dari sekitar 1.900 tarekat di enam benua. Melalui pelayanan pendidikan, kesehatan, pastoral, dan sosial, para suster dinilai memiliki kontribusi penting dalam membangun perubahan ekologis di tengah masyarakat.

Krisis ekologis membutuhkan solidaritas global

Direktur Eksekutif Laudato Si’ Movement, Lorna Gold, mengatakan peringatan lima tahun Platform Aksi Laudato Si’ menjadi momentum untuk bersyukur sekaligus memperbarui komitmen Gereja dalam menghadapi krisis lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim semakin intensif, sementara berbagai komunitas terus menghadapi cuaca ekstrem, kerusakan lingkungan, pengungsian, dan ancaman terhadap sumber penghidupan.

“Laju kerusakan ekologis tidak melambat untuk menyesuaikan diri dengan lambatnya perubahan kelembagaan,” katanya.

Gold menjelaskan bahwa Laudato Si’ Movement dan Platform Aksi Laudato Si’ memiliki peran yang saling melengkapi. Gerakan Laudato Si’ berfokus pada spiritualitas, mobilisasi masyarakat akar rumput, pendidikan, dan advokasi. Sementara itu, platform menyediakan kerangka bagi lembaga-lembaga untuk mengorganisasi komitmen, menyusun program, dan memantau kemajuan.

Ia juga menyoroti ketimpangan akses yang dihadapi komunitas di negara-negara Selatan Global (Global South). Padahal, masyarakat di kawasan tersebut sering kali menghadapi persoalan lingkungan yang berat, tetapi memiliki keterbatasan pembiayaan, bantuan teknis, akses internet, dan tenaga pendamping.

Menurut Gold, komitmen ekologis Gereja harus diwujudkan dalam keputusan nyata mengenai investasi, energi, pendidikan, pengelolaan aset, pengadaan barang, dan tata kelola lembaga.

Dengan demikian, pertobatan ekologis tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau kampanye sesaat, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan kebijakan kelembagaan Gereja.

Pesan utama laporan kelima Platform Aksi Laudato Si’ adalah mengubah komitmen menjadi perubahan nyata melalui kerja sama, pendampingan, dan solidaritas lintas komunitas.

Sebagaimana ditegaskan De Llanes, setelah lima tahun mengajak komunitas bergabung dalam platform, kini saatnya platform tersebut mempertemukan komunitas satu dengan yang lain untuk saling belajar dan bekerja sama merawat rumah bersama. (Leony/Sumber: vativannews.va). ***