Kasih
Sabtu, 05 September 2026 14:59 WIB
Penulis:Redaksi

HOMILI, (Minggu Biasa XXIIIA: Yeh 33:7-9; Rom 13:8-10; Mt 1815-20)
Oleh Pater Gregor Nule SVD
Bacaan-bacaan suci hari ini mengajak kita untuk membangun kesadaran bersama dan tanggungjawab sosial demi kebaikan dan keselamatan orang-orang yang tegar hati dan telah jatuh ke dalam dosa dan kejahatan.
Bangsa Israel tidak setia lagi kepada Yahwe dan mulai menyembah berhala. Mereka tidak taat pada perintah-perintah Allah dan Hukum Taurat, lalu melakukan tindakan-tindakan bejat dan dosa.
Maka Allah mengingatkan nabi Yehezkiel supaya menegur bangsa Israel serta mengajak mereka untuk bertobat dan berbalik kepada Allah. Allah juga menuntut tanggungjawab Yehezkiel terhadap keselamatan bangsa Israel. Jika mereka akhirnya binasa lantaran dosa dan kejahatan, maka itu juga menjadi tanggungjawab sang nabi.
Tuhan berfirman kepada Yehezkiel.”Jika engkau tidak menyampaikan firman yang Kusampaikan kepadamu, maka daripadamu Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya”, (Yeh 33:8).
Yesus dalam Injil mengingatkan kita tentang pentingnya hidup dalam persaudaraan dan persekutuan hati dan iman. Yesus juga mengingatkan tentang bahaya kesalahan dan dosa laksana racun atau virus yang dapat merusakkan kebersamaan hidup sebagai saudara dan umat Allah.
Maka Ia menawarkan langkah-langkah untuk menasihati dan mendapatkan kembali orang-orang yang telah jatuh ke dalam dosa dan kejahatan.
Pertama, pendekatan pribadi, yakni menegur secara langsung di bawah empat mata.Tujuannya adalah agar pendosa mengerti bahwa perbuatannya telah merugikan dirinya, orang lain dan melanggar hukum Tuhan. Maka ia mesti memutuskan untuk bertobat lalu menata hidup baru.
Motivasi utama pendekatan pribadi adalah kasih sejati yang menginginkan kebaikan dan keselamatan pendosa. Dan model pendekatan pribadi ini menuntut kita untuk melihat orang berdosa sebagai saudara yang patut dikasihi tanpa kebencian dan ancaman.
Rasul Paulus menegaskan bahwa “kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia”, (Rom 13:10), melainkan, sebaliknya mengusahakan kebaikan, khususnya bagi orang yang telah jatuh ke dalam dosa.
Maka teguran terhadap sesama yang salah hendaknya dilakukan dengan cara yang baik dan penuh penghargaan dengan tujuan supaya ia menjadi lebih baik.
Kedua, jika pendekatan pertama gagal maka pendosa dihadapkan kepada satu atau dua orang saksi agar perkaranya dibahas dan dipertimbangkan oleh mereka sehingga bisa dipercaya atau tidak dapat disangsikan.
Tetapi jika ia tidak menghiraukan mereka maka perkara itu dibawa kepada jemaat dengan harapan bahwa semakin banyak orang yang memberikan masukan dan nasihat ia bisa sadar dan mau bertobat.
Namun jika langkah terakhir ini pun tetap saja gagal maka Yesus secara tegas minta supaya ia dianggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Mungkin inilah tipe orang yang memiliki hati yang tegar yakni hati yang tertutup, kering dan tandus yang sulit diresapi sumber air kehidupan dan rahmat Allah sendiri. Orang seperti ini sulit berubah dan pasti tetap merasa aman, nyaman dalam hidup dan perilakunya yang tidak benar.
Tetapi, berhadapan dengan tipe orang demikian, kita diharapkan untuk tetap bersabar dan berusaha menghindari kemarahan, kebencian dan dendam. Karena kemarahan akan menghasilkan kemarahan. Kebencian akan melipatgandakan kebencian. Dendam akan mendatangkan dendam yang lebih besar lagi.
Karena itu, kita diminta untuk tetap memperlakukan orang yang tegar hatinya sebagai saudara dan memberi tempat baginya di dalam kehidupan bersama.
Kita boleh memberikan koreksi dan teguran, asalkan koreksi yang membangun, tanpa melukai, menjatuhkan atau mempermalukannya. Kita menyerahkan saudara kita kepada Allah, hakim yang benar dan adil. Kita tidak pantas menghakimi orang lain karena penghakiman kita bisa saja didasarkan pada iri hati, dendam dan kebencian, bukannya atas dasar kasih.
Kita juga tidak pantas berdiam diri, masa bodoh dan enggan menegur orang yang telah bersalah dan jatuh ke dalam dosa. Mungkin terkadang kita berpikir bahwa setiap orang bertanggungjawab atas hidup dan matinya sendiri, entah ia ingin baik ataupun jahat, itu urusan pribadinya sendiri.
Kita diminta untuk melakukan sesuatu guna membebaskan dan menyelamatkan orang yang telah jatuh. Tugas kita adalah mewartakan Sabda Allah, mengajarkan kepada mereka perintah-perintah dan jalan-jalan Allan serta mengajak mereka untuk kembali kepada jalan hidup yang baik dan benar atau mengajak untuk bertobat dan membaharui hidup.
Mari kita manfaatkan sebaikmungkin Bulan Kitab Suci Nasional untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat membaca dan merenungkan SabdaNya. Sebab ketika kita membaca Kitab Suci Tuhanlah yang berbicara kepada kita. Maka kita siap untuk mendengarkanNya,
Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu! Amen.
Kewapante, 06 September 2026. ***