Tuhan
Minggu, 01 November 2026 19:40 WIB
Penulis:Redaksi

HOMILI: Senin, 02 November (2 Mak 12: 43-45; 1Kor 15: 20-24a.25-28; Yoh 6:37-40)
Oleh Pater Gregor Nule SVD
Sehari setelah merayakan Hari Raya semua Orang Kudus, hari ini kita merayakan peringatan arwah semua orang beriman yang meninggal dalam Kristus.
Kita percaya bahwa ada ikatan rohani di antara kita yang masih berziarah di bumi ini, mereka yang sedang berada dalam proses pemurnian dan umat yang telah menang dalam perjuangan iman dan dimuliakan.
Lalu kita bertanya, mengapa kita mengenangkan dan mendoakan orang beriman yang telah meninggal?
Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa mendoakan arwah orang beriman adalah tindakan iman yang didasarkan pada pengalaman umat Perjanjian Lama dan tradisi Gereja.
Bukan sekedar buatan atau karangan Gereja Katolik beberapa waktu terakhir ini. Demikian pun intensi-intensi khusus untuk arwah didasarkan pada iman dan praktek umat Perjanjian Lama atau bangsa Israel.
Kitab kedua Makabe menceritakan tentang sikap dan tindakan Yudas Makabe, panglima perang bangsa Israel, yang minta supaya para korban perang dikuburkan secara baik dan didoakan.
Ia juga minta kepada para prajurit untuk mengumpulkan uang yang dapat dikirimkan ke Kenisah Yerusalem sebagai korban persembahan untuk silih dosa dari para pahlawan perang.
Yudas Makabe yakin bahwa ada pahala atau ganjaran yang indah dari surga bagi mereka yang meninggal sebagai orang saleh, baik, dan jujur karena mereka berkenan kepada Tuhan. Sebab orang baik dan jujur pasti layak di hadapan Allah dan selalu dikenang oleh sesamanya.
Dalam Injil Yesus meyakinkan kita bahwa iman yang hidup menjadi jaminan keselamatan abadi. Yesus diutus oleh Bapa ke dunia untuk melaksanakan kehendak BapakNya, yakni menyelamatkan dan memberikan hidup kekal bagi semua orang yang percaya. Dan semua orang yang percaya dan datang kepadaNya tidak akan dibuang.
Syarat supaya selamat yakni melihat, menerima dan percaya kepada Yesus. Atau hidup dalam persekutuan dengan Yesus.
Dan iman itu mesti hidup dan terungkap nyata lewat tiga tindakan yakni doa, syukur serta amal-berbuat baik, memberi sedekah dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan, khususnya mereka yang sakit, menderita,miskin, terlantar dan terlupakan.
Karena itu, perayaan pengenangan arwah semua orang beriman memberikan pesan-pesan berikut.
Pertama, mendoakan orang yang telah meninggal bukan suatu berhala atau kesia-siaan, melainkan sebagai ungkapan iman akan Allah yang hidup. Kita tidak percaya kepada Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.
Dan, orang yang sungguh percaya kepada Allah senantiasa memiliki harapan, kendati pun ia selalu sadar bahwa semua manusia tidak pernah bebas dari kematian.
Kedua, mengenangkan arwah menyadarkan kita sebagai manusia rapuh, mudah sakit dan mati. Tetapi, kematian bukanlah akhir hidup yang selalu mencemaskan dan menakutkan, melainkan saat peralihan yang mesti kita lewati dengan penuh harapan akan hidup penuh sukacita bersama Allah.
Ketiga, pengenangan arwah semua orang beriman merupakan perayaan cinta kasih.
Kita mengungkapkan iman dan cinta kepada Allah yang hidup serta mengungkapkan cinta dan kesatuan di antara kita, khususnya dengan anggota keluarga dan semua arwah, yang tidak pernah terputuskan oleh apa pun, termasuk kematian.
Kita mengenangkan dan mendoakan mereka di rumah atau di gereja. Kita berziarah ke makam mereka, menyalakan lilin, menaburkan bunga dan berdoa. Semuanya merupakan ungkapan iman kita kepada Allah, dan sekaligus ungkapan cinta kita kepada mereka.
Semoga Tuhan menyelamatkan semua orang beriman yang telah meninggal serta terus menyelenggrakan seluruh ziarah hidup kita di bumi ini. Amen.
Kewapante, 02 Nopember 2026.***