Menpar Paparkan Arah Baru Pariwisata kepada HISA

Selasa, 20 Januari 2026 20:07 WIB

Penulis:redaksi

indonesia.jpg
Menpar Paparkan Arah Baru Pariwisata Indonesia pada Harvard Indonesian Student Association (HISA) di Jakarta, Selasa (20/1). (Biro Kom Kemenpar)

JAKARTA (Flresku.com) - Menteri Pariwisata  (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana berbagi gambaran besar tentang wajah dan masa depan pariwisata Indonesia di hadapan Harvard Indonesian Student Association (HISA), organisasi mahasiswa resmi Universitas Harvard yang menghimpun mahasiswa Indonesia serta kalangan akademik peminat kajian Indonesia.

Paparan tersebut disampaikan dalam forum “Leaders’ Meeting: Beyond Destinations – Reimagining Indonesia’s Tourism Future” yang digelar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Dalam kesempatan itu, Menpar mengajak peserta melihat pariwisata Indonesia melampaui sekadar destinasi, menuju pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis kekuatan lokal.

 

Menpar Widyanti

Widiyanti menegaskan bahwa fondasi pariwisata nasional bertumpu pada karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, kekayaan keanekaragaman hayati, serta jejaring lebih dari 6.100 desa wisata yang hidup dengan tradisi dan kearifan lokal. 

Capaian tersebut diperkuat dengan pengakuan internasional, di mana lima desa wisata Indonesia telah dinobatkan sebagai desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism.

Baca juga:

Indonesia juga memiliki 12 UNESCO Global Geopark, 10 Situs Warisan Dunia, dan 16 warisan budaya takbenda yang tercatat di UNESCO.

“Hal ini menegaskan bahwa pariwisata Indonesia bukan sekadar tentang satu destinasi, melainkan sebuah ekosistem yang terbentang dalam berbagai lapisan geografi, budaya, alam, dan masyarakatnya,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti.

Menteri Pariwisata menjelaskan pemerintah saat ini memfokuskan pembangunan pada pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal di 13 destinasi utama yang terdiri atas 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan 3 Destinasi Regeneratif. 

Di saat yang sama, ruang tetap dibuka bagi pemerintah daerah dan pelaku industri untuk memimpin pengembangan destinasi lainnya secara mandiri.

“Visi kami tidak hanya menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan memastikan peluang yang adil bagi seluruh masyarakat,” katanya.

Sepanjang 2025, sektor pariwisata mencatat kinerja solid. Kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 13,98 juta pada periode Januari–November 2025 dan diproyeksikan menyentuh 15,34 juta kunjungan pada akhir Desember, melampaui target batas atas sebesar 15 juta kunjungan.

Rata-rata pengeluaran per kunjungan wisatawan internasional meningkat menjadi 1.259 dolar AS pada tiga kuartal pertama 2025, melampaui target 1.220 dolar AS. Dampaknya, penerimaan devisa pariwisata tercatat sebesar 13,82 miliar dolar AS dan diproyeksikan menembus 18,53 miliar dolar AS pada akhir tahun.

Sektor ini juga menjadi motor penciptaan lapangan kerja dengan menyerap 25,91 juta tenaga kerja per Agustus 2025 dan ditargetkan meningkat menjadi 26,53 juta pada 2026.

Menteri Pariwisata secara transparan memaparkan posisi Indonesia di tingkat ASEAN. Dari sisi jumlah kunjungan absolut pada periode Januari–November 2025, Indonesia menempati peringkat kelima. 

Tantangan utama yang dihadapi antara lain tingginya brand awareness negara tetangga, seperti Thailand melalui diplomasi kuliner globalnya, serta kebijakan visa Indonesia yang relatif lebih ketat.

Namun, dari sisi pertumbuhan, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di kawasan. Menteri Widiyanti juga menekankan pentingnya penggunaan data yang adil dalam perbandingan kinerja antarnegara.

Baca juga:

  • https://floresku.com/read/pariwisata-indonesia-tunjuk-tren-pemulihan-kuat-hingga-2025

“Jika kita membandingkan dengan Malaysia, misalnya, kita perlu mengecualikan data ekskursionis, yakni pelancong yang hanya melintas singkat untuk kebutuhan harian. Dengan perbandingan yang setara, pertumbuhan Indonesia sangat kompetitif,” katanya.

Menyongsong 2026, Kementerian Pariwisata mengkurasi lima program unggulan, yakni penguatan keamanan pariwisata, peningkatan skala dan kualitas desa wisata, pengembangan Paket Wisata Tematik, penguatan program Event by Indonesia, serta Tourism 5.0 melalui pemanfaatan teknologi.

Selain gastronomi, wisata kesehatan (wellness), dan bahari, pengembangan kini merambah sektor seni, desain, dan tekstil untuk memperluas daya tarik bagi segmen wisatawan menengah ke atas (high-end travelers).

Meski mencatat pertumbuhan positif, Menpar juga menyoroti sejumlah tantangan fundamental. Pertama, konektivitas. Sebagai negara kepulauan, akses udara dan laut menjadi kunci. Pemerintah mengupayakan penyesuaian harga tiket domestik agar lebih kompetitif melalui tinjauan regulasi, pemberian insentif, serta penambahan armada pesawat yang sempat berkurang pascapandemi.

Kedua, kebijakan visa. Pemerintah menyeimbangkan antara pendapatan langsung dari biaya visa dan manfaat ekonomi jangka panjang dari kebijakan bebas visa agar Indonesia tetap kompetitif di kawasan ASEAN.

Ketiga, pengelolaan lingkungan dan keamanan. Penanganan sampah di destinasi menjadi prioritas untuk menjaga citra pariwisata, sementara standar operasional prosedur (SOP) wisata alam dan bahari terus diperketat.

Keempat, manajemen pengunjung. Upaya pencegahan kepadatan berlebih dilakukan untuk melindungi lingkungan dan memastikan praktik pariwisata yang etis.

Kelima, ketersediaan tenaga kerja pariwisata bersertifikat. Pemerintah menggencarkan program upskilling tahunan guna mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di tingkat global.

“Saat ini kami melaksanakan program upskilling tahunan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pariwisata,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti.

Menteri Pariwisata optimistis, dengan kolaborasi lintas sektor, pariwisata Indonesia akan tumbuh sebagai sektor berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat.

“Pariwisata harus menjadi kekuatan bersama yang menghadirkan kesejahteraan dan kebanggaan nasional,” tutupnya.

Turut mendampingi Menteri Pariwisata dalam kegiatan tersebut, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini serta Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar Martini Mohamad Paham. (SP). ***