Kasih
Sabtu, 30 Mei 2026 18:22 WIB
Penulis:Redaksi

HOMILI HARI RAYA ALLAH TRITUNGGAL MAHA KUDUS
Tahun A:Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 13:11-13; Yoh 3:16-18)
Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
HARI ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Kita percaya dan menyebut Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sebutan ini sering menimbulkan kebingungan dan pertanyaan di kalangan orang-orang non-katolik.
Mereka mempersoalkan iman kita akan Allah yang esa. Mungkin juga kebingungan yang sama dialami oleh beberapa orang dari antara kita yang beriman katolik.
Bagi kita satu hal yang pasti yakni bahwa kita mengimani Allah yang satu dan esa, yang menampakkan diri di dalam Bapa, yang adalah Allah Pencipta alam semesta dan segala isinya termasuk kita manusia. Kita percaya akan Allah yang sama yang melaksanakan karya penebusanNya untuk menyelamatkan dunia dari dosa dan maut melalui Yesus Kristus, PuteraNya. Kita juga percaya akan Allah yang sama yang senantiasa membimbing dan menyertai umatNya melalui kehadiran dan karya Roh Kudus.
Maka Allah kita adalah esa, satu yang menyatakan diriNya melalui peranan dan karyaNya yang berbeda-beda, dengan tujuan yang satu dan sama yakni keselamatan seluruh umat manusia dan kemuliaan NamaNya di atas bumi.
Santu Yohanes dalam Injil hari ini mewartakan tentang misteri atau rahasia iman kita akan Allah Tritunggal Mahakudus. Di hadapan Nikodemus Yesus menyebut Allah BapaNya. Sedangkan di atas gunung Tabor, Allah Bapa menyebut Yesus, PuteraNya yang terkasih.
Sebagai Putera, Yesus taat kepada kehendak Bapa sampai wafat di salib. Kematian Yesus di salib merupakan jawabanNya yang paling sempurna kepada kasih Bapa. Antara Bapa dan Putera ada hubungan cinta yang mesra. Keduanya menyatu dalam Roh cinta kasih.
Dan, di dalam kasih hadir Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kasih yang mendalam juga dilimpahkan kepada kita umatNya. Yesus berkata, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya”, (Yoh 3:16-17).
Hari Raya Tritunggal Mahakudus menawarkan kepada kita dua pesan untuk membangun iman yang benar kepada Allah dan hubungan persaudaraan yang sejati di antara kita.
Pertama, Hari Raya Tritunggal Mahakudus mengajak kita untuk menyadari hubungan kita dengan Allah. Allah yang kita imani adalah Allah maha pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, rela mengampuni dosa dan kejahatan.
Kita lihat pengalaman bangsa Israel selama 40 tahun pengembaraannya di padang gurun. Mereka selalu menampilkan perilaku yang kurang bersahabat dan tidak setia pada perintah-perintah Allah.
Meski demikian, Allah selalu menunjukkan kerelaan hatiNya, mengampuni dan terus mencintai mereka. Semakin mereka membangkang dan jauh dari Allah, semakin meluap pula kasih Allah terhadap mereka.
Sebagai umat beriman, kita pun diajak untuk menyadari kerapuhan dan kelemahan kita, dan pada saat yang sama, kita belajar setia dan tekun menghayati perintah-perintah Allah di dalam hidup harian kita.
Kedua, Hari Raya Tritunggal Mahakudus menyadarkan kita akan kasih yang menjadi tali pengikat hubungan antara ketiga pribadi Allah Tritunggal Mahakudus. Santo Paulus menutup suratnya kepada jemaat di Korintus dengan harapan kiranya kasih Bapa, Putera dan Roh kudus menjadi tali pengikat kesatuan jemaat di Korintus dan kesatuan seluruh umat kristen di mana saja berada.
Atas dasar kasih Allah Tritunggal itu maka setiap pengikut Krsitus dapat berubah menjadi “serupa dengan gambaran Kristus” (bdk Rom 8:29), yaitu sehati, sepikir dan hidup dalam damai sejahtera, serta saling memberikan salam dengan cium yang kudus (bdk. 2 Kor 13:11 – 12). Sebab Allah senantiasa dekat dan menyertai orang yang hidup dalam kasih dan damai sejahtera.
Bercermin pada persekutuan cinta Allah Tritunggal Mahakudus, kita bertanya tentang bagaimana mutu kehidupan persekutuan beriman, persaudaraan dan kekeluargaan yang sedang kita bangun di dalam keluarga,
Komunitas biara, KBG, Lingkungan dan Paroki kita. Apakah relasi cinta yang harmonis dan mempersatukan Allah Tritunggal Mahakudus sungguh tampak nyata dalam kehidupan bersama kita sehari-hari?
Sebab persekutuan hidup yang sejati hanya mungkin bisa dibangun di atas dasar cinta, kesetiakawanan, persaudaraan, saling percaya dan pengampunan. Sebaliknya, kebencian, iri hati, kecemburuan, sikap diam dan enggan menyapa orang lain, atau tidak memberikan salam yang tulus dan semangat intoleran terhadap orang lain, khusunya mereka yang berbeda, akan menghancurkan hidup bersama dan menciptakan jurang pemisah yang semakin dalam di antara kita.
Orang yang mengimani Allah Tritunggal Mahakudus tidak pantas hidup dalam ketertutupan, keterasingan, dan cenderung mau menang sendiri serta mengutamakan urusan dan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok sendiri. Kita mesti hidup dalam semangat Tritunggal mahakudus.
Karena itu, marilah kita mohon kepada Allah Tritunggal Mahakudus agar menyertai, membimbing dan memberkati kehidupan bersama dan persekutuan hidup beriman yang kita bangun dan jalani sehingga sungguh-sungguh harmonis, menyenangkan, menghidupkan dan mempersatukan.
Marilah kita mohon kepada Bunda Maria agar mendoakan kita selalu sehingga kita berusaha setia kepada Allah dan setia di antara kita satu sama lain. Kita sungguh percaya kepada Allah Tritunggal dan saling percaya di antara kita. Amen!
Kewapante, Minggu, 31 Mei 2026. ***